Topic
Home / Berita / Nasional / Terkait Penistaan Agama oleh Ahok, Advokat Persoalkan Independensi Kepolisian

Terkait Penistaan Agama oleh Ahok, Advokat Persoalkan Independensi Kepolisian

Dengan Bukti-bukti yang ada, Polisi Seharusnya sudah menetapkan Ahok sebagai Tersangka. (sindonews.com)
Dengan Bukti-bukti yang ada, Polisi Seharusnya sudah menetapkan Ahok sebagai Tersangka. (sindonews.com)

dakwatuna.com – Jakarta.  Sylviani Abdul Hamid dari SNH Advocacy Center menduga ada intervensi dari penguasa untuk membebaskan jerat hukum terhadap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang diduga telah melakukan tindak pidana penistaan agama pada saat pidatonya di Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu.

Menurut Sylvi selaku Direktur Eksekutif lembaga advokasi tersebut, penguasa sedang mencoba mengarahkan agar status Ahok tidak meningkat menjadi tersangka. Padahal menurutnya berdasarkan pengalamannya sebagai advokat, polisi hanya membutuhkan bukti permulaan.

“Ketika peristiwa betul terjadi dan disokong dengan bukti permulaan, seharusnya polisi sudah dapat petunjuk untuk meningkatkan status seseorang sebagai tersangka,”kata Sylvi, Selasa (8/11/2016).

Menurut Sylvi, bukti permulaan berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 21/PUU-XII/2014 adalah dua alat bukti sebagaimana Pasal 184 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). “Bukti Saksi dan Surat sudah ada, ditambah lagi dengan keterangan Ahli, itu sudah cukup,” jelas Sylvi.

Hadirnya anggota DPR pada saat pemeriksaan Ahok di Bareskrim Mabes Polri pada Senin (7/11/2016) lalu, semakin meyakinkan Sylvi adanya intervensi pihak berkepentingan atas kasus Ahok ini.

Sebagaimana diketahui Ruhut Sitompul dari Fraksi Demokrat serta tiga orang Fraksi PDIP yakni Junimart Girsang, Trimedya Panjaitan dan Charles Honoris hadir saat Ahok diperiksa.

Lebih lanjut Sylvi menjelaskan, bahwa keempat anggota DPR tersebut merupakan anggota Komisi III dimana salah satu mitranya adalah kepolisian, “patut dicurigai kehadiran mereka saat pemeriksaan Ahok,” ujarnya.

Berdasarkan Hukum Acara sebagaimana Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, kata Sylvi yang berhak mendampingi adalah orang yang diberikan surat kuasa dari terperiksa. (SaBah/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Manipulasi Esemka

Figure
Organization