Home / Berita / Opini / Polemik Al-Maidah Ayat 51, Darurat Strategi, dan Agenda Tersembunyi

Polemik Al-Maidah Ayat 51, Darurat Strategi, dan Agenda Tersembunyi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Aksi damai umat Islam di Jakarta menuntut proses hukum terhadap Ahok yang telah menistakan agama, Jumat (4/11/2016). (Antara//Wahyu Putro A)
Aksi damai umat Islam di Jakarta menuntut proses hukum terhadap Ahok yang telah menistakan agama, Jumat (4/11/2016). (Antara//Wahyu Putro A)

dakwatuna.comPertama-tama, ada baiknya kita cermati jika insiden Al Maidah: 51 yang terjadi di Kepulauan Seribu bukan, sekali lagi bukan terpelesetnya lidah seorang yang ceroboh, tetapi merupakan sesuatu yang dilakukan dengan sistematis, sekaligus benar-benar telah dihitung dampak yang akan ditimbulkannya. Sejak awal, sikap yang dikedepankan seorang Basuki Tjahaja Purnama memang cenderung konfrontatif, ini berarti agenda-agenda yang menyertai di belakangnya perlu dicermati dengan seksama.

Jika ada reaksi demikian-demikian yang timbul, tentunya memang demikianlah yang mereka kehendaki. Sayangnya, untuk kesekian kalinya umat Islam harus menari di atas genderang yang ditabuh orang lain. Namun publik juga tentunya tidak tahu dengan pasti target dan agenda apa yang ingin mereka jalankan. Bisa jadi bukan hanya suatu agenda yang bersifat lokal, seperti membelokkan persaingan dalam Pilkada DKI Jakarta dari adu program menjadi perang isu, target yang bersifat nasional seperti kompetisi politik di negeri ini, tetapi ada target dan agenda lain yang lebih komplek dan global. Yang perlu diperhatikan, percaturan dunia di era kita dimainkan oleh mereka yang memiliki kecanggihan strategi dan teknologi politik yang berada di luar jangkauan penduduk dunia.

Dari polemik ini, setidaknya ada tiga hal utama yang menjadi persinggungan, bahkan terkait dengan benturan peradaban global yaitu, Islam, Nasrani dan Tiongkok. Pada konteks hubungan antara Islam dengan Nasrani yang memang langsung tersurat pada ayat tersebut, ada konteks lain yang perlu kita perhatikan, misalnya pada Surat Ar Rum yang menyinggung kedekatan Muslim dan Nasrani, juga pada surat Al Maidah: 82 yang menyinggung kedekatan serupa, “Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”.”

Muslim dan Nasrani memiliki banyak kedekatan sejak awal sejarah kenabian Muhammad, sejak kesaksian Pendeta Buhaira atas kenubuwatan seorang Muhammad, kesaksian Waraqah bin Naufal atas awal kerasulannya, serta hubungan baik Raja Habsyi dan Kaisar Romawi terhadap kaum muslimin. Tidak berhenti di sini, dalam perspektif akhir zaman, kaum Nasrani akan beriman dan berada dalam satu kebersamaan dengan kaum muslimin sebagaimana yang tersirat dalam surat An Nisa: 159. Berbeda dengan hubungan antara Islam dan Yahudi, meskipun keduanya merupakan sesama agama samawi dalam rumpun millah Ibrahim, permusuhan antara keduanya ditempatkan sebanding dengan permusuhan dengan kaum Musyrikin.

Dari sini, kita perlu memperhatikan pada konteks yang satunya lagi, terkait dengan Tiongkok. Latar belakang Ahok sendiri secara formal memang seorang Nasrani dan Tionghoa. Menilik hubungan antara Nasrani dan Tionghoa ini, penting untuk dicermati lebih seksama, mengingat antara Tiongkok dan Barat saat ini sedang berhadap-hadapanan memperebutkan superioritas dunia. Lebih jauh lagi, Bangsa Tiongkok pernah mendapatkan perlakuan yang sangat menyakitkan dari kolonialis Barat termasuk selama masa-masa Perang Candu. Dari sini bisa dinilai, bahwa hubungan antara Tiongkok dan Nasrani adalah hubungan rivalitas.

Maka hubungan antara Nasrani dengan Tiongkok ini perlu kita kritisi lebih dalam, termasuk keimanan seorang Ahok terhadap Kristus. Bisa jadi ada agenda lain, bisa jadi Tiongkok menjadikan Kristen hanya sebagai batu loncatan dalam proses mengambil alih supremasi dunia dari tangan Barat.

Maka menjadi aneh jika pada aksi 411 yang lalu, terungkap beberapa provokator yang membawa identitas kekristenan mereka. Seharusnya, sebagai penyusup mereka membawa identitas lain atau tidak membawa identitas sama sekali. Maka bisa jadi memang ada upaya mengadu domba dan membenturkan antara Islam dengan Nasrani dalam skala nasional dan global.

Kondisi di negeri kita saat ini memang sedang menghadapi permasalahan krusial. Umat Islam yang mayoritas secara jumlah, berada dalam posisi termarjinalkan, minoritas secara peran. Bangsa ini sedang terseok-seok menghadapi kompetisi global. Polemik Al Maidah: 51 juga bisa bisa berdampak secara global, pada hubungan Muslim dan Barat, terutama Muslim yang saat ini berada dalam kondisi minoritas. Apalagi saat ini Islam sedang menggeliat di negara-negara Eropa dan Amerika. Sehingga upaya pembauran Muslim dengan Barat berhadapan dengan upaya membenturkannya. Hal ini bisa kontraproduktif dan memperlemah Islam dan Barat itu sendiri. Apalagi selama ini kediktatoran Timur lebih menjanjikan untuk mengeliminasi Islam daripada kebebasan Barat. (dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Erdogan: Turki Sudah Perangi Terorisme Selama 35 Tahun, Jerman Malah Dukung Mereka