Topic
Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Masih 411: Presiden Merakyat(?)

Masih 411: Presiden Merakyat(?)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Aksi damai umat Islam di Jakarta menuntut proses hukum terhadap Ahok yang telah menistakan agama, Jumat (4/11/2016). (Antara//Wahyu Putro A)
Aksi damai umat Islam di Jakarta menuntut proses hukum terhadap Ahok yang telah menistakan agama, Jumat (4/11/2016). (Antara//Wahyu Putro A)

dakwatuna.com – Sudah 2 hari sejak dimulainya aksi damai 411. Tetapi suasana aksi tersebut masih ada di dalam jiwa ini. Terlebih ketika ikut aksi tersebut, air mata tak bias saya tahan lagi. Melihat ratusan ribu orang turun ke jalan demi menegakkan hukum atas penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Merinding rasanya di setiap lini masa medsos dijumpai foto-foto aksi tersebut. Seluruh umat muslim dari penjuru nusantara berdatangan dan berkumpul di Ibukota negeri ini. Semua saling menghormati. Gema takbir dan shalawat tak henti diagungkan. Merinding rasanya, menetes sudah air mata. Hebat mereka melakukan aksi ini. Jumat 4 November 2016 di Masjid Istiqlal luber dengan jamaah shalat Jumat dan ketika muadzin mengumandangkan Adzan, air mata ini benar-benar tidak tertahankan lagi. Seolah-olah inilah hari kemenangan yang nyata bagi umat ini. Luar biasa. Allahu Akbar!

Hari itu ratusan ribu umat Islam turun ke jalan, mereka marah karena agamanya, mereka teriak karena kemarahan atas ketidakadilan terhadap agamanya. Mereka berkumpul untuk membela agamanya. Tetapi apa yang kami dapat? Dari pagi kami berkumpul untuk mengadu kepada pak Presiden, dan yang kami dapat adalah pak presiden tidak ada di istananya.

Amat sangat disayangkan pak presiden lebih memilih meninjau proyek kereta bandara dibandingkan menemui ratusan ribu rakyatnya yang berdiri menantikan pak presiden. Padahal presiden Indonesia yang katanya terlabel merakyat tetapi tidak mau menemui rakyat. Yang katanya sering blusukan menemui rakyat, giliran rakyat yang menemui Anda ternyata Anda malah gak ada.

Saya percaya Pak Presiden sesungguhnya tidak ada niat meninggalkan rakyatnya. Jokowi yang saya kenal dengan blusukannya amat dekat dengan rakyatnya. Ketika masih menjadi wali kota Solo bahkan ketika sudah jadi Gubernur DKI beliau sempati menjumpai rakyatnya berdiskusi. Rakyat adem tidak tersakiti. Akan tetapi kita saksikan kemarin ketika para Ulama dan ratusan ribu rakyatnya ingin bertemu secara baik-baik kok sikap pak Jokowi jadi begitu, apa yang terjadi?

Ah, saya baru ingat, Pak Presiden kan punya wakil ya, jadi biarkan wakilnya yang menemui ratusan ribu orang tersebut. Ah, tapi ya pak, kenapa tidak dibalik? Kenapa tidak wakil bapak yang meninjau kereta bandara dan bapak menemui rakyatmu itu?

Pak presiden yang terhormat, saya lihat bapak begitu peduli dengan aksi yang viral di media sosial, sebut saja kasus warteg yang ditutup paksa bulan Ramadhan lalu. Bapak ingatkan? Bapak waktu itu nyumbang kan? Ngurusin kan ya pak. Tapi ya pak demo yang sudah direncanakan berhari-hari kok bapak malah tidak mau hadir? Bapak ke mana? Bapak takut? Padahal ratusan ribu orang itu hanya ingin bertemu bapak. Mereka hanya ingin pengertian bapak dan keadilan. Lihat pak, karena tak ada bapak, massa telat bubarkan diri, chaos pak.

Menurut Seskab Pramono Anung yang sempat berkomunikasi, Presiden yang ketika itu sedang meninjau proyek kereta Bandara sebenarnya ingin segera pulang ke Istana tapi kondisi jalan tidak memungkinkan untuk kehadiran beliau. Jadi rasanya memang bukan sekedar macet tapi situasi dan kondisi jalan tidak memungkinkan untuk kehadiran beliau.

Bicara urusan macet saya jadi ingat Syahrini. Bagaimana Syahrini mengatasi kemacetan?

Ilustrasi. (Indra Fitriyana)
Ilustrasi. (Indra Fitriyana)

Dari kampung halamannya di Sukabumi menuju Jakarta Syahrini hanya menempuhnya beberapa menit saja, Syahrini betul-betul berada di atas kemacetan. “Bye Sukabumi…bye macet” itu kata Syahrini. Syahrini menunggangi capung besi raksasa, ya Syahrini naik helikopter untuk mengatasi macet. Syahrini sigap ya…..

Teruntuk pak Jokowi yang katanya presiden negeri ini, di Negeri yang mayoritas Muslim, di negara hukum yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebhinekaan, semestinya saya dan ratusan ribu orang tersebut tidak perlu turun ke jalan untuk menuntut ketidakadilan ini, semestinya bangsa ini aman, damai dan tenteram dalam keharmonisan. Seandainya negara hukum ini benar-benar berpijak di atas hukum dan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan. Tapi karena ini tidak terjadi, negeri yang kami cintai ini hukum hanya berlaku hanya untuk yang lemah. Demi kepentingan hukum dilanggar, demi kekuasaan hukum tidak diindahkan. Maka kami harus turun ke jalan, kami harus teriak lantang menuntut semua ini, agar umat Islam pemilik bangsa ini tidak selamanya tertindas. Kalau aksi damai ini, tidak diindahkan, kira-kira apalagi cara kami untuk menjunjung nilai-nilai hukum di Negeri ini?

Mungkin ini coretan sederhana dari seorang mahasiswa yang jarang berdemo atau jarang turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasinya. Tetapi saksikanlah ya Rabb hamba telah menyampaikan pesan kebenaran untuk penguasa negeri ini. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Indra Fitriyana
Alumni SDN Sawahdadap 1, SMPN 2 Jatinangor, SMAN Cimanggung. Pernah aktif sebagai Wakil Ketua OSIS SMAN Cimanggung, Ketua KIR, Anggota PASKIBRA, dan Anggota ROHIS SMA. Pendidikan sekarang di Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung mengambil S1 Jurusan Teknik Sipil. Di kampus Indra aktif sebagai salah satu anggota LDK Keluarga Muslim Itenas. Pernah menjabat sebagai Ketua Umum LDK Keluarga Muslim Itenas tahun 2017. Sekarang Indra diamanahkan menjadi ketua FSLDK Bandung Raya

Lihat Juga

Pemimpin adalah Cerminan Rakyat

Figure
Organization