Home / Berita / Rilis Pers / Pernyataan Sikap Aksi 4 November Barisan Pemuda Indonesia

Pernyataan Sikap Aksi 4 November Barisan Pemuda Indonesia

untitleddakwatuna.com-Jakarta. Tanggal 4 November 2016 menjadi sejarah besar bagi republik ini. Hal itu disebabkan adanya gelombang aksi besar-besaran dari umat Islam. Massa sekitar 1 juta jiwa dari berbagai pelosok negeri hadir ke jantung ibu kota. Bersamaan dengan itu tercatat belasan kota juga diwarnai gelombang yang sama. Warna mereka serupa, putih. Apa yang membuat jutaan umat Islam rela berpayah-payah turun ke jalan? Hanya ada satu tujuan, menuntut keadilan! Keadilan hukum atas dinistakannya Al Qur’an dan dihinanya ulama oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Gelombang aksi besar ini diikuti oleh berbagai elemen dan ormas Islam dari seluruh penjuru tanah air. Kami Barisan Pemuda Indonesia, tergabung di dalamnya. Turun bersama dengan berbagai elemen umat di berbagai kota seperti Medan, Pangkalpinang, Palembang, Pekanbaru, Jambi, Banjarmasin, Samarinda, Balikpapan, Pontianak, Solo, Malang, Semarang, Jember, Purwokerto, Makassar, Kendari, Ambon, dan tentunya Jakarta yang tergabung di dalamnya Bandung, Cirebon, Bogor, Tangerang, dan Madiun.

Tuntutan aksi jelas, bahwa keadilan harus ditegakkan, supremasi hukum harus dijunjung tinggi. Bahwa apa yang diucapkan oleh Ahok dalam kunjungannya ke Kepulauan Seribu pada 27 September 2016 telah menciderai kebhinekaan bangsa ini. Terekam dengan jelas, dalam video yang dirilis oleh pemprov DKI Ahok telah menistakan Al Qur’an surat Al-Maidah ayat 51 sebagai alat untuk membohongi. Serta menghina ulama sebagai pembohong. Video ini asli dan bukan editan. Hal ini jelas melanggar setidaknya dua undang-undang, yaitu KUHP pasal 156a tentang Penistaan Agama dan UU No.1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama.

Indonesia adalah negara hukum, maka supremasi hukum adalah suatu keniscayaan. Hukum harus ditegakkan seadil-adilnya. Jangan sampai hanya karena satu orang gubernur yang digaji dengan perasan keringat uang rakyat, memecah belah persatuan Indonesia. Gubernur bahkan Presiden sekalipun tidak boleh kebal hukum. Karena ketika ada upaya penyalahgunaan wewenang untuk tidak menegakkan supremasi hukum, maka telah terjadi penghianatan terhadap bangsa dan negara ini.

Ini adalah sikap kami sebagai anak bangsa yang menginginkan sebuah tatanan negara yang beradab dan adil. Jauh dari intervensi oleh pihak manapun. Aksi kami murni atas dasar penegakan hukum, tidak anti ras maupun agama tertentu. Aksi kami atas dasar pembelaan terhadap agama, yang kami yakin tidak ada satu pun umat beragama yang rela agamanya diinjak-injak dan dihinakan. Maka, selama keadilan belum tegak, kami Barisan Pemuda Indonesia, bersama berbagai elemen akan terus berdiri melawan tirani. (smr/dakwatuna)

Redaktur: Samuri Smart

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Asal Sulawesi Tenggara, hobi mencatat segala inspirasi

Lihat Juga

Indonesia Mendongeng Kembali Dibanjiri 500 Santri TPQ

Figure
Organization