Home / Narasi Islam / Khutbah / Khutbah Jum'at / Khutbah Jum’at: Di Bawah Naungan Al-Quran

Khutbah Jum’at: Di Bawah Naungan Al-Quran

Ilustrasi-Alquran (inet)
Ilustrasi-Alquran (inet)

dakwatuna.com – Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Sebagaimana kita ketahui, di negeri kita telah terjadi pernyataan yang menistakan Al Quran. Bukan sembarang orang yang menyatakannya, tapi seorang pejabat negara, yakni Gubernur DKI Jakarta. Sekali lagi, umat Islam melakukan demonstrasi hari ini di Jakarta, diikuti oleh umat Islam dari berbagai daerah untuk menuntut kepada penegak hukum agar menghukum pelakunya. Demonstrasi seharusnya tidak perlu terjadi, apalagi sampai terjadi di berbagai daerah apabila ada proses hukum yang cepat sebagaimana kasus-kasus lain.

Ada banyak hikmah atas penistaan yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok terhadap Al Quran. Salah satunya adalah mengingatkan kita untuk semakin memperkokoh komitmen kepada Al Quran, mulai dari bisa membaca, rajin membaca, memahami hingga mengamalkan dan mendakwahkannya. Setiap kita harus berusaha untuk menjalani hidup sebagaimana petunjuk-petunjuk yang terdapat di dalam Al-Quran, ini berarti kita hidup di bawah naungan Al-Quran.

Sayyid Quthb, dalam tafsirnya Fi Dzilalil Quran menyebutkan bahwa hidup di bawah naungan Al-Quran adalah nikmat, kenikmatan yang tidak bisa dirasakan kecuali oleh orang-orang yang menghayatinya, kenikmatan yang dapat mengangkat derajat manusia, memberkati dan membersihkan kehidupan ini dari segala bentuk kekotoran.

Ada banyak manfaat yang dapat kita peroleh dari hidup di bawah naungan Al-Quran. Sekurang-kurangnya, kita bisa menyimpulkannya menjadi tiga. Pertama, kehidupan kita menjadi terbimbing. Hal ini karena meskipun manusia memiliki akal pikiran yang cerdas, tapi tidak menjamin baginya memiliki kemampuan membedakan antara yang haq dengan yang bathil atau yang benar dan yang salah, padahal kemampuan membedakan antara yang haq dengan yang bathil merupakan sesuatu yang amat penting menuju kehidupan yang baik. Karena itu manusia amat memerlukan bimbingan yang benar, baik dalam berpikir, bersikap maupun bertingkah laku. Sudah begitu banyak manusia yang tidak berpikir, bersikap dan bertingkah laku secara benar karena tidak mau mengambil bimbingan dari Al-Quran.

Karena tidak mengambil bimbingan dari Al-Quran, banyak manusia yang tersesat dalam masalah ketuhanan sehingga menuhankan benda-benda yang memiliki sejumlah kelemahan seperti manusia dan patung, pohon, dan jenis-jenis berhala lainya, Allah swt berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ عِبَادٌ أَمْثَالُكُمْ فَادْعُوهُمْ فَلْيَسْتَجِيبُوا لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka Serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.(QS Al A’raf [7]:194).

Dengan sebab tidak menjadikan Al-Quran sebagai pembimbing hidup, maka banyak manusia yang dalam masalah hukum tidak mendapatkan perlakuan hukum dan tidak bisa menegakkan hukum secara adil. Kasus-kasusnya begitu banyak mulai dari maling ayam dan maling sandal yang dikeroyok massa lalu dianiaya dan dibakar hingga mati, sementara disisi lain, ada orang yang bersalah dengan kesalahan yang besar tapi tidak dihukum yang sesuai dengan tingkat kesalahannya, bahkan sampai ada yang dibebaskan begitu saja dan begitulah seterusnya, akibatnya terjadi kekacauan dalam tatanan kehidupan masyarakat sebagaimana yang kita rasakan sekarang ini.

Dalam masalah akhlak, akibat tidak menjadikan Al-Quran sebagai pembimbing hidup, telah terjadi kehancuran tata nilai kehidupan sehingga begitu banyak kasus-kasus yang mengerikan dan mengkhawatirkan bagi peradaban manusia dimasa datang mulai dari perzinaan yang merajalela, pengguguran kandungan yang kian banyak, narkoba yang terus merusak generasi bangsa, pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, pencurian, korupsi dan sejenisnya yang kian merusak citra masyarakat dan berbagai bentuk kerusakan akhlak lainnya yang ke semua itu membuat masa depan masyarakat dan bangsa semakin mengkhawatirkan, hal ini karena akibat negatif yang ditimbulkan dari kerusakan akhlak, bukan hanya menimpa mereka yang jauh dari Al-Quran tapi juga bisa terjadi pada mereka yang hidupnya sejalan dengan nilai-nilai Al-Quran.

Oleh karena itu, Al-Quran membawa kenikmatan dalam kehidupan manusia manakala difungsikan sebagai petunjuk sehingga dapat membedakan antara yang haq dengan yang bathil, Allah swt berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan adalah bulan yang diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan atas petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan yang bathil). (QS Al Baqarah [2]:185).

Jamaah Sekalian Yang Berbahagia.

Kedua yang merupakan manfaat dari hidup di bawah naungan Al-Quran adalah memiliki kemampuan untuk mengatasi berbagai persoalan hidup. Hidup yang kita jalani ini tidak pernah sepi dari berbagai persoalan, satu persoalan belum teratasi, tapi sudah muncul persoalan berikutnya. Orang yang tidak mengambil bimbingan dari Al-Quran menjadi bingung dalam menghadapi persoalan itu, kebingungan mengakibatkan kekalutan dan kekalutan membuatnya melakukan tindakan-tindakan yang tidak terkendali, ujungnya adalah merugikan dirinya dan orang lain, bahkan bukan hanya kerugian di dunia ini saja tapi juga di akhirat nanti.

Ada banyak contoh yang bisa kita ungkap, misalnya kebingungan dalam menghadapi persoalan ekonomi membuat seseorang menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Bahkan banyak kasus bunuh diri yang dilakukan oleh seseorang hanya karena terimpit persoalan ekonomi yang besar, padahal bunuh diri akan membawanya pada kesengsaraan sepanjang masa dalam kehidupan berikutnya di akhirat. Di samping itu kekalutan juga membuat seseorang melakukan tindak kekerasan yang tidak pada tempatnya, bahkan tidak sedikit suami yang bertindak kasar kepada istrinya atau istri terhadap suaminya, orang tua terhadap anaknya, bahkan anak terhadap orang tuanya dan sesama anggota masyarakat yang semestinya saling hormat menghormati dan cinta mencintai.

Sementara bagi orang yang hidup di bawah naungan Al-Quran, dia amat yakin bahwa segala kesulitan dan persoalan hidup pasti ada jalan keluarnya, apalagi hal ini merupakan janji Allah swt yang tidak mungkin salah, Allah swt berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا.وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ

Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka (QS At Thalaq [65]:2-3).

Bahkan di penghujung ayat 4 dari surat yang sama, Allah swt berjanji:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya dijadikan baginya kemudahan dalam urusan-urusannya (QS At Thalaq [65]:4).

Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Manfaat Ketiga yang bisa kita dapat dari hidup di bawah naungan Al-Quran adalah kehidupan kita menjadi bersih. Pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan suci bersih tanpa noda dan dosa sedikit pun, Islam tidak mengenal ada istilah dosa keturunan dari orang tua terhadap anaknya. Namun tanpa bimbingan Al-Quran kehidupan manusia menjadi kotor, kotor jiwanya, kotor pikirannya dan kotor perbuatannya.

Jiwa yang kotor telah melahirkan sikap-sikap buruk seperti riya atau ingin mendapatkan pujian dari orang lain, hasad atau iri hati terhadap kemajuan dan keberhasilan yang dicapai orang lain, takabur atau menyombongkan diri dengan sebab merasa memiliki kelebihan pada dirinya dan sebagainya. Sementara pikiran yang kotor telah membuat manusia menjadi orang yang menganggap baik perbuatannya yang buruk, ketentuan yang benar dianggapnya sebagai hambatan dan sebagainya. Sedangkan perbuatan yang kotor telah mengakibatkan peradaban manusia menjadi begitu rendah, bahkan bisa lebih rendah dari binatang ternak yang biasanya nilainya ditentukan hanya dengan ukuran berat badan. Bahkan secara fisik, kekotoran manusia dalam bertingkah laku juga mengakibatkan malapetaka yang amat besar. Karena itu perhatikanlah bagaimana perzinaan telah menyebabkan penderita AIDS yang sedemikian mengkhawatirkan, pengguguran kandungan dan sebagainya.

Adapun hidup di bawah naungan Al-Quran, maka kehidupan manusia menjadi bersih, bersih jiwanya dengan selalu mengutamakan keikhlasan, husnuzhzhan atau berbaik sangka terhadap orang lain, tawadhu atau rendah hati terhadap orang lain, meskipun orang itu lebih rendah kedudukannya, jujur yang dapat menghangatkan hubungan persaudaraan, tawakkal atau berserah diri kepada Allah setelah berusaha seoptimal mungkin yang akan membawa sikap optimis dan sebagainya. Di samping itu bersih juga pikirannya sehingga yang dipikirkannya adalah hal-hal yang akan membawa manfaat dan kebaikan atau kebenaran, baik bagi dirinya, keluarga maupun masyarakat, bangsa dan agamanya, sedangkan bersih perbuatan adalah apapun yang dilakukannya, semua berorientasi kepada amal yang shalih sebab amal yang shalih merupakan bekal yang amat penting dalam kehidupan di akhirat nanti. Kehidupan yang bersih seperti inilah yang akan membukakan dan mendatangkan keberkahan baik, dari langit maupun dari bumi, Allah swt berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS Al A’raf [7]:96).

Oleh karena itu hidup di bawah naungan Al-Quran, di samping memberikan kenikmatan lahir dan batin, jasmani dan rohani, juga dapat meneropong kehidupan ini, mana jalan yang benar dan mana jalan yang salah, mana bahagia dan mana sengsara, mana kemajuan dan mana keterbelakangan, mana keadilan dan mana kezaliman dan begitulah seterusnya.

Dari sini, semakin kita sadari dan harus kita akui bahwa ajaran Islam yang indah dan nikmat ternyata terhalang keindahan dan kenikmatannya itu oleh sikap dan perilaku umat Islam, akibatnya tidak sedikit manusia, bahkan umat Islam sendiri yang takut terhadap penegakan nilai-nilai dan syariat Islam. Karenanya tidak aneh kalau upaya penegakannya ditentang sendiri oleh sebagian kaum muslimin, bahkan bukan karena mereka awam terhadap Islam dan Al-Quran, tapi karena memang mereka tidak berada di bawah naungan Al-Quran itu sendiri.

Demikian khutbah Jumat kita hari ini, harapan kita, semoga terjalin kehidupan yang damai dan sejahtera. Jangan ada lagi upaya menghina dan menista agama dengan kata-kata yang tidak pantas diucapkan. Kita tentu memaafkan pelakunya, namun proses hukum tetap harus ditegakkan sebagaimana berlaku pada kasus yang lain. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading...
Avatar
Drs. H. Ahmad Yani adalah Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Dakwah (LPPD) Khairu Ummah, Ketua Majelis Dai Paguyuban Ikhlas, Ketua Redaksiwww.nuansaislam.com dan pengurus Koordinasi Dakwah Islam (KODI) DKI Jakarta. Selain itu juga sebagai anggota Majelis Syura Ikatan Dai Indonesia (IKADI). Aktif berdakwah dengan memberikan ceramah, pelatihan dai dan manajemen masjid di seluruh wilayah Indonesia, pernah juga berdakwah di Eropa dan Jepang serta televisi dan radio. Dakwah tulisan selain melalui website juga menulis di media Islam dan menerbitkan buku yang hingga kini sudah mencapai 27 judul. Semua ini dilakukan atas hasil didikan Almarhum Aba H. Nafsih dan Ibu Hj. Syarifah. Semoga pahalanya mengalir untuk beliau.

Lihat Juga

MK, Sosial Media dan Etalase Demokrasi