Home / Berita / Opini / Ini Soal Rasa, Bukan SARA

Ini Soal Rasa, Bukan SARA

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ahok
Dalam pertemuan dengan masyarakat Kepulauan Seribu pada Rabu (28/9) itu, Ahok menyatakan bahwa masyarakat bisa jadi tidak memilih dirinya karena “dibohongin oleh surat Al Maidah 51 macem macem itu” (tribunnews.com)

dakwatuna.com – Polemik kasus Surah al-Maidah: 51 diungkapkan Ahok pada pertemuan dengan masyarakat Kepulauan Seribu tanggal 27 September 2016, belum juga selesai, meskipun sudah lebih sebulan berlalu. Saat ini pihak aparat keamanan dibuat sibuk untuk mempersiapkan pengamanan demo yang akan dilaksanakan oleh berbagai ormas, kelompok, golongan, dan masyarakat yang direncanakan akan dilaksanakan pada 4 November nanti untuk menuntut dituntaskannya kasus dugaan penistaan agama tersebut.

Aksi demo besar sudah berlangsung beberapa kali terkait dengan isu ini, bahkan bukan semakin mengecil, tetapi justru semakin masif hampir di seluruh Indonesia, sehingga hal ini harus diselesaikan secepatnya, agar tidak semakin liar dan berkembang pada isu sensitif yang lain.

Rasa Bukan SARA

Sebetulnya secara pribadi kurang tertarik membahas kasus ini, tetapi setelah diamati ternyata kasus ini sudah ditarik ke sana kemari yang akhirnya menjadi semakin runyam. Kemarahan umat Islam pada sosok Ahok bukan karena kasus al-Maidah: 51 saja, tetapi akumulasi dari berbagai kasus sebelumnya yang memang mengandung kontroversi yang membuat sebagian umat Islam marah. Alasannya sederhana, bila umat Islam memang menyoal substansi surah al-Maidah: 51, maka rasanya bukan Ahok saja yang ditolak tetapi banyak pemimpin non muslim lainnya yang akan ditolak, seperti menteri yang cakupan kewenangannya lebih luar dari sekedar provinsi, gubernur, Walikota/bupati dan seluruh jabatan publik lainnya, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif.

Kalaupun ada yang menyatakan ini adalah isu politik, banyak ulama yang selama ini dikenal sebagai ulama yang wara’, ulama yang tidak mudah terpancing isu ikut serta dalam mengecam hal ini, sehingga kesimpulannya ini terkait dengan RASA bukan SARA.

Rasa-rasanya masyarakat merasakan tidak pantas seorang pemimpin berkata sesuka hatinya, tanpa memikirkan perasaan rakyat dan kelompok lainya, meskipun yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran, apatah lagi menyinggung masalah-masalah yang bersifat sensitif.

Rasa-rasanya seorang pejabat setingkat gubernur tidak pantas mengomentari sesuatu di luar kewenangannya, apalagi tendensi politik.

Rasa-rasanya masyarakat Islam menganggap ada perlakuan tidak adil pada kasus yang sama, padahal hukum adalah panglima di negeri ini.

Mungkin kita masih ingat kasus pemakzulan Bupati Garut Aceng Fikri, kasus yang menimpanya bukan hal serius terkait dengan hukum, tetapi hal yang sangat bersentuhan sosiologis. Secara sosiologis, wanita merasa terhina dan tersinggung karena sang bupati menceraikan istrinya dari perkawinan singkat dengan menggunakan pesan singkat.

Hal ini semakin runyam ketika sang bupati dalam wawancara sebuah TV nasional mengibaratkan antara perceraian dengan memilih baju di pasar. Akhirnya terjadi demo besar-besaran meskipun tidak sebesar demo dugaan penistaan agama oleh Ahok, tetapi demo tersebut akhirnya menumbangkan sang bupati dari jabatannya yang diperoleh dari sistem yang demokratis.

Karakter dan Marwah Pemimpin

Standar etika seorang pemimpin berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Seorang pemimpin yang memiliki karakter yang temperamen tetap diharuskan menjaga lidahnya, jangan sampai keluar sesuatu yang dapat menyinggung perasaan orang lain, berbeda dengan masyarakat pada umumnya, perbuatan yang sama dilakukan oleh pemimpin dan masyarakat, hukum etisnya bisa berbeda, sebab pemimpin menjadi panutan sehingga harus menjaga marwahnya. Dalam kajian hadis disebutkan bahwa seorang dikatakan adil bila memenuhi beberapa kriteria, salah satunya adalah orang yang dapat menjaga muruah/marwahnya, sehingga pemimpin dituntut untuk memperhatikan segala tindak lakunya di masyarakat.

Marwah yang terjaga pernah dicontohkan oleh Umar bin Khaththab. Suatu hari pada tahun 638 M, seorang pendeta dari Yerusalem mengumumkan bahwa seorang pemimpin besar Islam, Umar bin Khattab akan datang untuk menandatangani perjanjian damai dan perlindungan khalifah bagi kota suci Yerusalem. Seluruh penduduk Yerusalem pun berbondong-bondong ke gerbang kota. Mereka bersiap menanti rombongan kunjungan kenegaraan yang akan tiba. Mereka semua ingin melihat, menyambut, dan mengucapkan selamat datang kepada khalifah yang terkenal karena keadilannya itu. Namun arak-arakan yang diharapkan itu tidak ada. Di cakrawala mereka hanya melihat dua orang yang sederhana bersama seekor unta yang kelelahan.

Salah seorang dari mereka duduk di atas punggung unta, dan yang lainnya berjalan kaki sambil menuntun untanya. Mengira bahwa khalifah pastilah yang duduk di punggung unta, segera seluruh penduduk kota berlarian menyongsong dan menyalami sang penunggang unta untuk menyambutnya, namun sang penunggang unta tersebut berkata: “Aku bukanlah khalifah Islam yang kalian nantikan. Aku hanyalah pengawalnya”. Penunggang unta itu mencoba menjelaskan bahwa dalam melewati perjalanan jauh dari Damaskus ke Yerusalem, Umar menghargai pengawalnya dengan bergantian menaiki unta mereka. Pada saat menjelang tiba di gerbang kota, Umar sang khalifah mendapat giliran berjalan kaki menuntun unta. Semua orang takjub dengan pribadi sang pemimpin besar Islam itu. Saat tiba waktu salat, sang Uskup mengajak Umar ke sebuah gedung yang indah dan mempersilahkan Umar salat di sana.

Menyadari bahwa gedung itu tempat suci orang Kristen, Umar memilih salat di depan pintu gereja. Uskup bertanya: “Mengapa? haramkah salat di sana?”. Umar kemudian menjawab “Jika saya salat di tempat suci kalian,” demikian kata Umar kepada sang Uskup setelah selesai salat, “para pengikut saya yang tidak mengerti dan orang-orang yang datang ke sini di masa yang akan datang akan mengambil alih bangunan ini kemudian mengubahnya menjadi masjid, hanya karena saya pernah salat di dalamnya. Mereka akan menghancurkan tempat ibadah kalian. Untuk menghindari kesulitan ini dan supaya gereja kalian tetap sebagaimana adanya, maka saya salat di luar”.

Apa yang dilakukan oleh Umar untuk menjaga dua golongan sekaligus, menjaga perasaan non muslim sekaligus menjaga munculnya kemungkinan multi tafsir atas perbuatannya. Marwah dan sifat yang semacam inilah yang mestinya dimiliki oleh setiap pemimpin.

Akhirnya

Walau demikian, umat Islam Indonesia sepengetahuan saya terkenal dengan sikap toleran dan pemaaf, saking pemaafnya TIMNAS Sepakbola Belanda ketika datang ke Indonesia untuk pertandingan persahabatan dengan TIMNAS Indonesia terlihat cukup jelas di stadion Gelora Bung Karno seragam oranye mayoritas digunakan oleh penonton, padahal Belanda adalah penjajah Indonesia selama tiga setengah abad lamanya, tetapi masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam sudah memaafkannya. Bagaimana dengan kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok? Meskipun Ahok sudah minta maaf tetapi banyak umat Islam belum bisa menerima maaf tersebut tanpa proses hukum.

Sedemikian tersinggungkah umat Islam dengan ucapan Ahok, sedemikian kejikah ungkapan Ahok tentang surah al-Maidah: 51, tidakkah di luar sana banyak ungkapan dan perilaku yang lebih keji dari apa yang dilakukan Ahok, atau tidak adakah jasa dan pelayanan Ahok ke Umat Islam sama sekali, saya kira jawabannya ada pada “RASA”.

Sekali lagi, mari kita kedepankan sifat pemaafan terhadap kesalahan orang lain, terlebih jika yang bersangkutan sudah meminta maaf dengan tetap meminta proses hukum berjalan dan apapun keputusan hukum harusnya diterima dengan lapang dada karena kita berada pada negara yang memiliki hukum dan aturan yang berlaku tanpa boleh siapapun memaksakan kehendak dan tanpa boleh seorang pun yang kebal hukum. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Ketua Yayasan Harisah al-Gifary induk PP. al-Risalah Batetangnga Polman & Dosen STAIN PAREPARE. PNS.

Lihat Juga

Din Syamsuddin: Agama Harus di Praktekkan dalam Kehidupan Sehari-hari

Organization