Topic
Home / Berita / Opini / Jejak Demonstrasi Kaum Sarungan

Jejak Demonstrasi Kaum Sarungan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Sebanyak 34 kiai pengasuh pondok pesantren dan 5000 warga NU long march menentang acara peringatan Milad Fatimah yang bakal digelar penganut Syiah di kampung Arab Bondowoso Jawa Timur, Minggu (3/4/2016). (bangsaonline.com)
Ilustrasi – Sebanyak 34 kiai pengasuh pondok pesantren dan 5000 warga NU long march menentang acara peringatan Milad Fatimah yang bakal digelar penganut Syiah di kampung Arab Bondowoso Jawa Timur, Minggu (3/4/2016). (bangsaonline.com)

dakwatuna.com – Yang saya larang, memakai atribut NU. Yang saya larang, jangan pakai bendera Anshor, bendera IPNU, karena NU didirikan oleh kyai-kyai bukan untuk demonstrasi tapi untuk pendidikan, kerakyatan, dan kemasyarakatan,” kata Said di Istana Negara ketika diliput kompas TV dan CNN Indonesia.

Terkait demonstrasi, tampaknya beliau lupa sejarah atau jangan-jangan belum menonton film Sang Kyai. Dalam film tersebut ratusan santri-santri Tebuireng melakukan demonstrasi/unjuk rasa kepada Nippon (tentara jepang) supaya segera membebaskan Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari. Demonstrasi kala itu di iringi dengan membaca shalawat di depan penjara hingga akhirnya tentara Jepang bersedia memindahkan Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari ke penjara di Mojokerto.

Jejak demonstrasi kaum sarungan bukan hanya itu saja. Sewaktu Pak Harto sedang berkuasa, Kyai Alawy Muhammad dan kaum Sarungan di Madura tercatat berani menggelar demonstrasi. Mereka mendemo tindakan brutal aparat yang pada bulan September 1993 menembaki masyarakat nipah yang menolak pembangunan waduk tersebut. Empat warga wafat dan sebagian lagi luka-luka.

Selain tragedi pembangunan waduk Nipah, Pembangunan PLTN Muria pun mereka tolak dengan demonstrasi. Lagi-lagi kaum sarungan ini amat kreatif menciptakan shalawat yaitu “shalawat anti nuklir”. Harus saya akui mereka pakarnya shalawatan, walau itu belum tentu sesuai tuntunan Rasulullah. “Saya berasumsi, 80 % masyarakat Jepara itu “beragama” Nahdlatul Ulama. Makanya saya ciptakan shalawat ini, baik dalam tulisan latin maupun Arab pegon” ujar Zakariyya. Begini teks shalawat ciptaan Zakariyya El-Anshori:

Eling-eling sira manungsa,
PLTN gawe sengsara,
Mumpung durung diputusna,
Mula sira padha mikira

Eling-eling sira manungsa,
PLTN bisa cilaka,
Mumpung durung ditutugna,
Mula sira padha nolak’a

Nuklir ora kaya mebel ukir,
Nuklir beda karo lampu senthir,
Nuklir uga dudu untir-untir,
Proyek Nuklir mara’ake fakir.
(Proyek Nuklir mara’ake kenthir)

Demonstrasi yang paling mencekam adalah saat idola mereka dilengserkan oleh MPR RI. Pemuka agamanya mengirim pasukan berani mati ke ibu kota. Meski dengan ilmu kebal dan aneka ritual menyalahi aqidah, tetap saja tidak kebal dengan water cannon dan gas air mata milik aparat. Sebagian lagi gelar demonstrasi dengan menebangi pohon di jalan-jalan Pasuruan. Tak lupa sebagian dari mereka sempat merusak panti asuhan milik Muhammadiyah dan kantor partai Beringin.

Demonstrasi yang patut ditiru adalah saat kaum sarungan berhadapan dengan kelompok syiah di Bangil. Peristiwa demonstrasi terjadi pada April 2016. Mengutip situs Hidayatullah, Demonstrasi tersebut menolak acara kelompok sesat Syiah di Gedung Diponegoro, Bendomungal 389, Kelurahan Kalirejo Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Massa yang mayoritas adalah warga NU ini meminta aparat membubarkan acara Wiladah Fatimah az Zahra. “Kami orang Bangil ingin acara Syiah ini yang terakhir kalinya,” demikian himbau seorang santri asal Bangil.

Selain kelompok sesat syiah, HTI jadi sasaran demonstrasi. Kaum sarungan menggelar orasi bela negara dan NKRI dari bahaya ideologi khilafah. Contohnya di kota Tangerang, Malang dan Surabaya, mereka menolak “muktamar Khilafah”. “Ormas model seperti HTI tidak perlu diberikan izin apapun, karena jelas-jelas sudah menghina martabat bangsa dan negara. Mereka sudah menghina leluhur pendiri bangsa ini. Itu berarti itu sama dengan menghina kami warga NU. Sebab, bangsa ini berdiri tegak ada darah syuhada santri dan ulama yang berkorban” kata kyai yang memimpin demonstrasi di Tangerang.

Baru-baru ini, kaum sarungan menggelar demonstrasi di halaman gedung DPRD Tegal. Mereka menuntut supaya oknum anggota dewan yang mengunggah status di Facebook terkait sikap Ketua PBNU. “Kami sangat menghormati ketua PBNU, ini hanya dilecehkan oleh oknum anggota dewan. Makanya, kami dari Aliansi Pemuda NU tidak rela kalau ketua kami dihina seperti ini,” kata korlap Demonstrasi seperti diberitakan situs Radar tegal.

Ciri khas demonstrasi yang dilakukan kaum sarungan adalah dilengkapi shalawat dan sebagian lagi memakai atribut berwarna hijau. Sebagian besar demonstrasi yang mereka lakukan terkait pemuka agamanya dan masalah kelompok di luarnya seperti HTI dan syiah. Bila pemuka agamanya dikritisi bahkan dilecehkan, mereka murka. Namun giliran Gubernur kafir melecehkan al-Quran, mereka tidak murka apalagi berinisiatif melaporkan ke aparat Kepolisian.

Sebelum menutup tulisan ini, pernyataan kyai bertitel profesor dan doktor tersebut sungguh tidak berdasarkan fakta sejarah. Sekali lagi segenap kaum sarungan perlu ingat petuah pendirinya Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari. “Pertahankanlah agama Islam, berusahalah sekuat tenaga memerangi orang yang menghina Al-Quran, menghina sifat Allah dan tunjukkanlah kebenaran kepada para pengikut kebatilan dan penganut akidah sesat. Ketahuilah, usaha keras memerangi (pemikiran-pemikiran) tersebut adalah wajib”. Wallahu’alam. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Fadh Ahmad Arifan
Alumni Jurusan Studi Ilmu Agama Islam di Pascasarjana UIN Malang. Pasca lulus, pada 2013-2015 menjadi Dosen tetap di STAI al-Yasini, Pasuruan. Sejak Februari 2015, menjadi Pengajar Sejarah Kebudayaan Islam di MTs-MA Muhammadiyah 2 kota Malang. Telah mengunggah lebih dari 50 karangan populer dan ilmiah, terutama di bidang Pemikiran Islam, Filsafat, Tasawuf dan Politik. Artikel terbaru berjudul 'Para Penguasa Suriah Dalam Catatan Sejarah' dimuat di Majalah Tabligh bulan April 2018

Lihat Juga

Demonstran Minta Trump Merdekakan Hong Kong dari Cina

Figure
Organization