Home / Berita / Opini / Sastra dan Ocehan: Hati-Hati Atas Penistaan Agama

Sastra dan Ocehan: Hati-Hati Atas Penistaan Agama

Ilustrasi. (Republika/Mardiah)
Ilustrasi. (Republika/Mardiah)

dakwatuna.com – Pada edisi No. 8 bulan Agustus tahun 1968, majalah sastra “Horison” memuat sebuah cerita pendek (cerpen) karya Ki Panji Kusmin. Cerpen itu berjudul, “Langit Makin Mendung”. Cerpen itu sangat menyinggung umat Islam sebab kisahnya diawali dengan cerita para nabi yang bosan hidup di surga.

“Refreshing sangat perlu. Kebahagiaan berlebihan djustru siksaan bagi manusia jang biasa berdjuang. Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir2 kami sudah pegal2 kedjang memudji kebesaranMu; beratus tahun tanpa henti.

Membatja petisi para nabi, Tuhan terpaksa meng-geleng2kan kepala, tak habis pikir pada ketidakpuasan di benak manusia… Dipanggillah penanda-tangan pertama: Muhammad dari Medinah, Arabia. Orang bumi biasa memanggilnya Muhammad SAW….”

Itulah, antara lain, sepenggal kisah dari “Langit Makin Mendung” yang membuat umat Islam meradang. Buya Hamka menyatakan, cerita itu telah menistakan agama. Sementara HB Jassin sebagai Ketua Redaksi majalah Horison bersikukuh bahwa sastra tak dapat dipidanakan. Dan atas nama kerahasiaan penulis, HB Jassin tak pernah mau membuka siapakah Ki Panji Kusmin. Sebagian orang mengatakan Ki Panji Kusmin adalah HB Jassin sendiri.

Faktanya, karya “sastra” itu telah menimbulkan keresahan masyarakat, maka, HB Jassin ditangkap, dan didakwa Jaksa telah melakukan penistaan agama. Oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, HB Jassin divonis satu tahun penjara.

*

Pada tahun 1988, Salman Rushdi menjadi manusia paling dicari di kolong jagat bumi. Pasalnya, Ayatullah Rahullah Khomeini, pemimpin spiritual Iran, memfatwakan “sejuta juta dolar” bagi siapa saja yang bisa memenggal kepala Rushdi.

Salman Rushdi, seorang sastrawan Inggris berdarah India, baru saja meluncurkan novel yang menyinggung umat Islam. Novel itu berjudul, “The Satanic Verses” atau “Ayat-ayat Setan”. Bagian yang diyakini paling menistakan agama adalah, antara lain: (1). Rushdi menggambarkan bahwa Nabi Muhammad SAW (dia menyebutnya dengan kata “Mahound”) telah salah menerima wahyu yang ternyata datang dari Setan. (2). Rushdi menggambarkan para istri Nabi Muhammad SAW sebagai pelacur. Pada sequence yang lain, dia menceritakan mimpi Aisyah di India yang akan mengajak orang ke Mekkah untuk berhaji. Mereka melewati sungai lalu lenyap ditelan air. Orang-orang percaya Aisyah sudah sampai Mekkah.

Kini, Salman Rushdi bergelar “Sir” di Inggris. Sebuah gelar bangsawan yang disematkan oleh Sang Ratu untuk mereka yang dianggap sukses membangun peradaban. Meskipun bergelar bangsawan, Salman Rushdi sesungguhnya terpenjara dalam hidupnya.

Dua kasus di atas adalah contoh penistaan agama yang menggunakan sastra sebagai media. Sebagian orang berargumen, sastra tak boleh dipidanakan sebab ia merupakan ekspresi kebebasan berpikir. Bagi saya, sastra seharusnya memperlembut jiwa, bukan merusak pola dan rasa. Sastra seharusnya memperkaya ruang batin kita yang miskin akibat keserakahan umat manusia. Maka, sastra yang melecehkan keyakinan orang tak pantas mendapat penghormatan, apalagi gelar bangsawan.

Ketika Al-Quran diturunkan, masyarakat Arab jahiliah adalah pemuja sastra sehingga mereka mengira Al-Quran adalah karya sastra. Setiap tahun, tujuh karya sastra dalam bentuk puisi terbaik mereka gantungkan di Ka’bah sebagai bentuk apresiasi. Mereka menamakannya, “al-mua’laqatus sab’ah” atau (tujuh karya yang digantungkan).

Tetapi, sastra (dan sastrawan) acapkali mengikuti (dan diikuti) hawa nafsunya. Sehingga Al-Quran mengingatkan: “dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.** tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap- tiap lembah ** dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)? * kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali”. (QS As-Syua’ra 224-227).

*

Di Pakistan, Asia Bibi hanyalah seorang buruh harian pemetik buah. Dia tinggal di daerah Sheikhpura, wilayah provinsi Punjab. Suatu hari, dia bertengkar dengan buruh lainnya. Namun, saat bertengkar, dia lalu “nyerocos” berbicara yang menistakan agama karena menghina kemuliaan Rasulullah SAW. Oleh buruh lainnya, perbuatan Asia Bibi dilaporkan ke aparat kepolisian. Asia Bibi lalu disidangkan, dan berdasarkan Undang-Undang Anti Penistaan Agama (Blasphemy Law), Asia Bibi divonis mati!.

Kini perkara Asia Bibi berada di tingkat Mahkamah Agung, menunggu putusan akhir. Namun, belum lagi perkara Asia Bibi ini tuntas, sudah ada tiga nyawa yang melayang.

Pertama: Menteri Urusan Minoritas Shahbaz Bhatti yang berkomentar, “saya akan memperjuangkan agar Asia Bibi dibebaskan”. Ia lalu didor orang di dekat rumahnya di Islamabad, ibukota Pakistan.

Kedua: Gubernur Punjab Salman Tasir. Saat habis menjenguk Asia Bibi di penjara, dia berkomentar; “saya akan berjuang agar Asia Bibi diberikan grasi oleh Presiden”. Dia lalu ditembak mati oleh Mumtaz Malik Qadri, ajudannya sendiri.

Ketiga: Mumtaz Malik Qadri lalu ditangkap polisi, dan didakwa telah membunuh majikannya. Ia divonis mati oleh Pengadilan. Saat di persidangan, Mumtaz Malik Qadri menyatakan tidak menyesal sedikitpun membunuh majikannya demi menjaga kemuliaan Rasulullah SAW. Saat dimakamkan di kampung halamannya, Rawalpindi, puluhan ribu orang mengantarkan jenazah Mumtaz Malik Qadri ke peristirahatannya yang terakhir.

Sebuah pesan tegas disampaikan oleh para penta’ziyah itu. Para hakim di Mahkamah Agung tidak boleh bermain mata dalam memutus perkara Asia Bibi.

*

Penistaan agama dengan bahasa sastra saja harus dibawa ke muka hukum, (pada kasus HB Jassin di atas bahkan telah divonis pengadilan), maka penistaan agama dengan bahasa yang kasar, lebih pantas untuk mendapatkan keadilan; (ubi jus ibi remedium), seperti kasus Asia Bibi di Pakistan.

Kini, kita menghadapi persoalan yang kurang lebih sama. Yaitu dugaan penistaan dengan bahasa yang kasar. Sebagai orang yang diduga melakukan tindak pidana penistaan, Ahok harus dibawa ke muka peradilan, agar terang benderang segala maksud ucapannya. Ingat, Ahok adalah seorang pejabat negara, dan ucapannya, “dibohongi pake surah al-Maidah 51” menusuk hingga ke ulu hati kita.

Penistaan agama adalah ranah pidana, dan sebuah tindak pidana tidak hapus dengan sekedar permintaan maaf. Misalnya, si-A diduga mencuri, lalu karena ketahuan, Si-A mengembalikan barang curiannya dan meminta maaf. Walaupun si-B sebagai pemilik barang telah memaafkan, tindak pidana pencurian yang diduga dilakukan oleh Si-A tidak hapus.

Maka, dugaan tindak pidana penistaan agama yang dilakukan Gubernur Ahok harus tetap diproses oleh kepolisian. Lalu, biarkan hakim yang akan memutuskan apakah perbuatan Ahok melanggar atau tidak UU (PNPS) No. 1 tahun 1965 tentang Penodaan Agama. Jika setiap dugaan perbuatan pidana berakhir bersama permohonan maaf, betapa kacaunya sistem hukum di negeri ini.

Aparat penegak hukum harus hati-hati dengan perkara penistaan agama. Ia sangat sensitif. Rencana demo 4 November 2016 mendatang menjadi pesan penting masyarakat kepada aparat pemerintahan agar tak bermain mata dengan kasus penistaan agama.

Wallahua’lam. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Menyelesaikan pendidikan dasar di Pondok Pesantren Attaqwa, Bekasi. Lalu melanjutkan studi ke International Islamic University, Pakistan. Kini, dosen di Fakultas Hukum Universitas Djuanda, Bogor. Email: [email protected] Salam Inayatullah Hasyim

Lihat Juga

Din Syamsuddin: Agama Harus di Praktekkan dalam Kehidupan Sehari-hari

Organization