Home / Pemuda / Essay / Jangan Jadi Generasi Tahu Bulat

Jangan Jadi Generasi Tahu Bulat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – “Tahu bulat, tahu bulat, lima ratusaaan.. Digoreng dadakan dina katel, gurih..gurih..

enyoiii. wakwaw…”

Begitulah kira-kira “’nyanyian” tukang tahu yg biasa lewat depan rumah. Saya akhirnya hafal sama lagu tahu bulat karena setiap sore lewat depan rumah. Lama-lama jadi penasaran dengan jajanan yang sedang jadi trending topic di masyarakat ini, saya memutuskan untuk mencicipi rasa tahu bulat yang katanya enyoii itu… hehehe

Tahu bulat mengembang dan terlihat besar setelah digoreng dengan minyak panas. Tapi setelah dimakan, ternyata isinya kopong alias gak ada isinya. Dan kalau dibiarkan dingin, tahu bulat yang tadinya mengembang menjadi kempes alias menciut.

Hmm…. Sambil terus mengunyah dan menghabiskan tahu bulat, pandanganku kemudian tertuju kepada sekelompok anak muda yang sedang berkumpul di sebuah taman. Muda-mudi yang masih berseragam sekolah SMA menghabiskan waktu dengan duduk santai benyanyi sambil bermain gitar, merokok, bercanda, tertawa, memainkan hand phone, ngobrol, berdua-duaan (khalwat). Astaghfirullah…Mereka menghabiskan detik-detik usia emas hanya dengan kegiatan yang tak bermanfaat.

Melihat perilaku anak-anak muda ini, saya pun bergumam dalam hati, “sepertinya ada persamaan anak-anak muda ini dengan tahu bulat…” Tubuh mereka besar dan tinggi-tinggi, bahkan mungkin melebihi tinggi dan besarnya orang tua mereka. Asupan makanan yang mereka makan sehari-hari dengan gizi yang cukup, menjadi penyebab badan mereka besar dan tinggi. Tapi ironisnya, di balik besar dan tingginya tubuh mereka, jiwa mereka kosong. Seperti tahu bulat yang terlihat besar mengembang tapi isinya kopong.

Pemuda kini disibukkan dengan hal-hal yang tidak jelas. Hanya menuruti hawa nafsu untuk bersenang-senang dan santai. Mereka enggan mengisi waktu dengan hal-hal yang positif dan produktif. Seringkali kita tidak sadar bahwa waktu sangat cepat berlari. Jika masa muda dibuang dengan percuma, penyelasan akan muncul di waktu senja (tua).

Bahayanya, ketika hati dan pikiran kita kosong maka kita sulit membedakan mana kebenaran dan mana keburukan. Mana yang bermanfaat dan mana yang akan menjerumuskan kita ke dalam lubang kenistaan.

Salah satu penyebab kerusakan pemuda adalah kekosongan waktu alias tidak ada kegiatan yang bernilai positif. Jika tidak diisi dengan kegiatan positif, maka akan diisi dengan kegiatan negatif

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata:

وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ

“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil.”

Kita bisa lihat profil orang-orang sukses, mereka menghabiskan usia mudanya dengan bekerja keras, bukan santai-santai. Agar hidup makin terarah, mereka membuat target besar yang jadi impian mereka (big dream). Tidak hanya sampai di situ, mereka juga membuat target tahunan dan target mingguan sebagai anak tangga pencapaian cita-cita mereka. Karena bagi mereka, kesuksesan itu adalah sebuah proses. Kesuksesan tidak datang secara tiba-tiba (instan). Ibarat pepatah bilang, “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.”

Banyak hal yang bisa dilakukan selagi muda untuk memperkaya kualitas diri, demi menjemput kesuksesan di masa depan. Allah SWT memberikan kita kemampuan berpikir untuk bisa berkarya. Di masa muda, karakter kita mulai terbentuk. Kalau kita salah melangkah dalam mengisi masa muda, akibatnya bisa fatal dan permanen.

Dan jangan lupa loh.. masa muda akan diminta pertanggungjwabannya oleh Allah di hari akhir kelak

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Rabb-Nya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan dan apa saja yang telah ia perbuat dari ilmu yang dimilikinya.” (HR. Tirmidzi)

Kelak di hari kiamat, semua orang akan minta perlindungan Allah. Dan ternyata, pemuda yang tumbuh dengan ketaatan kepada Allah akan mendapatkan perlindungan dan naungan dari-Nya, dimana pada hari itu tidak akan ada naungan (sama sekali) kecuali naungan dari-Nya. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan Allah, di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (diantaranya adalah): …….Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang ulama pernah berkata:

“Dan tidak akan bangkit suatu umat kecuali ada di pundak para pemuda yang punya kepedulian dan semangat menggelora.”

Allahu ‘alam. (dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 6,00 out of 10)
Loading...

Tentang

Ibu rumah tangga dengan empat orang anak. Lulusan Fakultas Sastra UI.

Lihat Juga

Andai Kami Tahu