Home / Narasi Islam / Sosial / Surat Cinta untuk Perempuan

Surat Cinta untuk Perempuan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (spesial)
Ilustrasi (spesial)

dakwatuna.com – Hari semakin berjalan, peradaban terus bergulir walau berganti generasi. Ada yang bersyukur, namun tak sedikit yang kufur. Langit tetap sama, indah dengan segala gugusan bintang, tanpa tiang dan tak retak sedikit pun, Namun entah kenapa banyak yang menolak kebenaran.

Kecerdasan manusia berbeda-beda menangkap pesan yang tertuang dalam rangkaian nasihat yang sarat dengan isyarat, ada yang mudah menangkap, kemudian menerima dengan lapang dada. Namun ada juga yang bebal, tak mempan dengan segala cara, tiada pilihan kecuali berdoa. Itu sudah sangat cukup!

Seorang muslimah membutuhkan sosok pahlawan yang bisa menasihati kendati kehadirannya hanya satu orang, ketimbang seribu orang yang membersamai namun selalu membantahnya.

Betapa banyak orang yang selalu bersama-sama, namun hati mereka bercerai berai dan betapa banyak orang yang terpisah, namun hati selalu bersatu padu, kokoh dan seirama.

Hidup dan mati seorang muslimah teramat mulia, kesulitan yang menghimpit dan kesedihan duniawi tidak pantas membuatnya bersedih hati. Belajar untuk terus bersabar dari sejarah para Nabi;

  • Nuh yang dihinakan kaumnya,
  • Ibrahim yang tertolak dakwahnya dan terusir oleh ayahnya,
  • Yakub yang dipisahkan dari anak kesayangan dan buyar penglihatannya,
  • Musa dan Bani Israel yang hampir tersusul Firaun beserta bala tentaranya,
  • Ayyub yang hidup dalam derita dan dijauhi keluarganya,
  • Yunus yang pernah hidup dalam perut ikan di kegelapan dan dalamnya lautan,
  • Dan Muhammad beserta kaum muslimin yang terkepung dalam perang parit dengan jumlah armada musuh yang lebih dahsyat.

Ketika mereka sudah hampir pada titik keputusasaan hingga berkata;

“Di manakah dan kapan datang pertolongan Allah?”.

Pada saat itu mereka sebenarnya telah mendapat petunjuk Allah Taala. karena tiada pertolongan selain dari Allah semata. Tiada jalan keluar selain pintu dariNya dan inilah karunia terbesar bagi seorang hamba berupa hidayah. Maka katakan saja beberapa kalimat indah berikut:

  1. “Innii dzaahibun ilaa Robbi sayahdin” yang berarti “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”
  2. “Inna ma’iya Robbi sayahdin” yang berarti “Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”
  3. “Innii Muhaajirun ilaa Robbii, innahu Huwa Al-Aziz Al Hakim” yang berarti “Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku); Sesungguhnya Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Dalam kondisi sulit seperti ini, maka seorang hamba berhak dihilangkan dari kesedihan dan kesulitannya, karena pintu-pintu langit sejatinya telah terbuka untuknya dengan cucuran rahmat dan keberkahan dari Allah semata. Maka berbahagialah!

Ketahuilah! Jika landasan hidup seorang muslimah karena Allah Ta’ala. Maka semua masalah seberat dan sehebat apapun akan terasa ringan dan mudah tanpa perlu frustasi, menyalahkan orang, takdir apalagi sampai gila hingga gantung diri.

Berbahagialah dalam melewati hari-hari, karena tiada yang membuat seorang hamba lebih berbahagia melainkan bertemu dengan hari Jum’at penuh berkah dan waktu-waktu mustajab, kemudian menanti Jum’at berikutnya hingga akhirnya berjumpa dengan bulan Ramadhan penuh kemuliaan.

Puncaknya ia diperkenankan melihat Rabbnya, berkumpul dengan para Nabi, orang-orang shaleh yang dicintai dari kalangan kerabat maupun sahabat. Saling berhadapan berbagi keceriaan dan cerita, tiada cela sedikit pun dengan karunia yang tidak akan pernah putus. Ya Rabbanaa wa lakal hamdu.

Duhai sebaik-baik perhiasan dunia!

Ketahuilah! Dalam sejarah orang-orang baik cenderung sering menjadi korban dan berumur pendek, adapun yang kurang baik terkadang memiliki segalanya dan berumur panjang. Generasi setelahnya harus pandai mengambil pelajaran. Idealnya bisa berumur panjang dan banyak tabungan amal shalehnya.

Rata-rata umur manusia sekarang hanya setengah abad, kita sudah terasa lama hadir menghiasi bumi yang sudah tua renta, sisanya bisa kita hitung masing-masing. Di antara kita berbeda dalam menyikapi masalah duniawi.

  • Ada yang sibuk dan terlena dengan perkara dunia, kemudian bersedih karenanya.
  • Ada yang terus mencari jati diri, selalu dibuat galau karenanya
  • Ada yang tidak khawatir dan tidak pula bersedih , karena perkara dunia sangatlah mudah, yang sulit adalah perkara akhirat.

Mari belajar dari para Nabi, mereka sudah pasti selamat di akherat kelak, itulah makna ayat di akhir surat Ash shaffat; “wa salaamun ala al mursaliin wal hamdulillaahi Robbil ‘aalamiin” yang berarti “Dan Kesejahteraan dilimpahkan atas Para rasul. dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”

Kemudian tanyakan pada diri sambil bercermin, bagaimana dengan kondisi saya, anda dan kita semua, sungguh tiada yang menjamin, karena sebagian besar manusia kelak tidak akan selamat pada hari persidangan dan diputuskan amal perkara dengan seadil-adilnya.

Jika kita merasa sempurna, kaya, hebat, kuat, pintar, sukses dan alim kemudian berbangga dan menyombongkan diri. Ingat! di luar sana masih banyak orang yang lebih hebat dari kita namun mereka tetap berlaku sederhana, jujur, taat dan tak suka berbuat sembarang apalagi menyakiti hati orang. Jika saja semua peka, pastilah tiada kezaliman dan yang dizalimi tiada guna membalas, karena semua akan berbayar. Bukankah Allah Ta’ala Maha Adil.

Duhai sebaik-baik perhiasan dunia!

Ketahuilah! Integritas, keilmuan dan kualitas keimanan seseorang bisa diketahui ketika ia dalam perantauan, bepergian dan sedang bersendirian. Saat itu masing-masing sudah menyadari kapasitasnya. Adapun di zaman kebingungan dan media sosial terlalu banyak kepura-puraan, orang-orang bodoh cenderung ingin tampil bak dewa, ia begitu sempurna padahal sedang mengigau. Alamak!

Menjadi seorang muslimah bukan sebatas lebel dan tak sekedar pengakuan, apalagi pencitraan, lebih dari itu ada beberapa hal yang patut disematkan;

  • Berakhlak seperti ajaran Al Quran,
  • Kokoh keimanan dan keislaman
  • Semangat dalam ketaatan
  • Hidup dengan kebaktian dan pengabdian
  • Cinta ilmu pengetahuan,
  • Besar pemaafan,
  • Kuat kesabaran,
  • Gemar kebajikan,
  • Menolak segala Jenis kerusakan dan kemunduran,
  • Menyegerakan ampunan
  • Dan benar ketulusan.

Duhai sebaik-baik perhiasan dunia!

Tidakkah tanda-tanda kebesaran Allah Taala sudah banyak diperlihatkan, penciptaan manusia sampai jagat raya. Maka tiada alasan bagi kita semua untuk tidak beriman secara utuh, ambil pelajaran, kemudian berubah menjadi sebenar-benar muslimah.

Adapun para pembantah, mereka selalu sibuk bermain, bersenda gurau dan terus mencari hiburan hingga ajal menjemput. Alangkah sayang!

“Maka biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka yang pada hari itu mereka dibinasakan (yaitu) hari ketika tidak berguna bagi mereka sedikit pun tipu daya mereka dan mereka tidak ditolong.” (Ath-Thuur: 45-46)

Dalam Taurat, Zabur, Injil hingga Alquran telah disebutkan bahwa kejayaan umat di muka bumi secara khusus akan diwariskan untuk hamba-hamba Allah Taala yang bertaqwa.

“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur[[1]] sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh. Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah (Allah).” (Al-Anbiyaa: 105-106)

Cukup sudah kita membicarakan masalah populer yang penuh kegaduhan nan membosankan, gemerlap kehidupan, gaya hidup para pesohor hingga kesenangan duniawi yang bersifat fana, menipu layaknya permainan atau pertandingan olahraga. Mau sampai kapan?

Duhai sebaik-baik perhiasan dunia!

  • Anda adalah pilihan Tuhan
  • Terlalu banyak karunia yang diberikan
  • Anda dipersiapkan menjadi madrasah peradaban
  • Pemenuh kebutuhan jasmani dan rohani tatkala lapar
  • Penawar dan perawat tatkala sakit
  • Luapan keceriaan tatkala gembira
  • Tempat berkeluh kesah kala bersedih
  • Pembela, pelindung sekaligus penasehat terbaik
  • Pengingat tatkala lalai
  • Pemecah keheningan tatkala sunyi dan sepi
  • Penawar rindu dalam dekapan kehangatan
  • Tetap tulus bermunajat hingga menembus langit tatkala terpisah
  • Perhatian yang tak terputus tatkala terasing bahkan terzhalimi
  • Pengasih tak terbilang tatkala sempit
  • Pintu keberkahan dari pintu-pintu langit
  • Dan surga berada di telapak kaki Anda

Duhai sebaik-baik perhiasan dunia!

  • Adakah kita melihat keajaiban yang bisa menandingi itu semua? Adakah?
  • Adakah sebuah kebaikan melebihi itu semua? Adakah?
  • Adakah yang bisa menggantikan posisi dan peran Anda secara utuh? Adakah?
  • Sekali-kali tidak, Anda tidak akan pernah menemukannya.
  • Sungguh! Betapa mulia engkau ditakdirkan menjadi rumah peradaban
  • Yaitu rumah bagi mereka yang selalu merindukan kasih sayang, pelukan, dan perhatian secara khusus dari Anda
  • Maka bertakwalah kepada Allah Taala.

Duhai sebaik-baik perhiasan dunia!

Ada sedikit kisah, kala itu ada seorang pemuda menangis tersedu-sedu mengiringi kepergian jenazah ibunda tercintanya ke liang lahat.

“Kenapa begitu bersedih? Bukankah Anda orang berilmu?” Tanya pelayat dengan nada heran.

“Bagaimana saya tidak menangisi kepergian seseorang yang surgaku ada padanya” Jawab pemuda secara singkat

Duhai sebaik-baik perhiasan dunia!

Bukankah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda; “Ibu, ibu, ibu, kemudian bapak”

Dan tahukah Anda? Betapa mudahnya mengartikan kata “Selamat tinggal”, namun siapa yang bisa memahami ucapan “Selamat tinggal duhai ibu”

Duhai sebaik-baik perhiasan dunia!

  • Manusia yang berbahagia bukanlah:
  • Mereka yang hidup tanpa beban
  • Tanpa air mata
  • Tanpa keluh kesah
  • Tanpa ujian
  • Tanpa keletihan
  • Tanpa rasa sakit
  • Tanpa derita
  • Tanpa kesedihan
  • Tanpa kesulitan
  • Tanpa kepiluan
  • Tanpa kepedihan
  • Tanpa tekanan
  • Tanpa kegelisahan
  • Tanpa kebuntuan
  • Tanpa terluka
  • Bahkan tanpa penindasan dan kesewenang-wenangan

Ketahuilah! Bahwa manusia paling berbahagia di dunia ialah ;

  • Mereka yang senantiasa beriman
  • Bertasbih siang dan malam
  • Senang bersujud
  • Pandai mengagungkan dan memuliakan
  • Tetap beribadah sampai ajal menjemput
  • Memohon pertolongan,
  • Meminta perlindungan,
  • Mengadukan segala keluh kesah,
  • Senang bertawakal,
  • Terus bersabar
  • Tegar menjalani kehidupan
  • Bersyukur atas segala limpahan karunia
  • Konsisten dalam beramal kebajikan
  • Memohon ampun dan menyegarakan bertobat
  • Dan menyerahkan segala urusan
  • Hanya kepada Yang Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha memperkenankan doa-doa
  • Yaitu Ar-Rahman, Dialah Allah Taala yang Maha Pemurah.

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan.” (An-Nisaa: 125)

Teriring salam dan doa di akhir untaian nasihat, Semoga Allah Taala senantiasa memberikan kebahagiaan dan merahmati para perempuan yang kelak akan menjadi penaung dan rumah peradaban bagi keluarga serta keturunan mereka. Ya Robbana. (sb/dakwatuna.com)

[1]. Yang dimaksud dengan Zabur di sini ialah seluruh kitab yang diturunkan Allah kepada nabi-nabi-Nya. Sebagian ahli tafsir mengartikan dengan kitab yang diturunkan kepada Nabi Daud. dengan demikian Adz Dzikr artinya adalah kitab Taurat.

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Dosen Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung (UNISBA) & PIMRED di www.infoisco.com (kajian dunia Islam progresif)

Lihat Juga

Din Syamsuddin: Aliansi Rusia-Dunia Islam Bisa Ditiru