Home / Berita / Opini / Dari Santri untuk Indonesia

Dari Santri untuk Indonesia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Logo kirab Hari Santri Nasional. (pondok-srampadan.blogspot.com)
Ilustrasi – Logo kirab Hari Santri Nasional. (pondok-srampadan.blogspot.com)

dakwatuna.com – Salah satu prestasi Presiden Joko Widodo yang akan dikenang oleh kalangan umat Islam utamanya masyarakat pesantren adalah pengakuan secara administratif terkait dengan eksistensi kaum sarungan dengan ditetapkannya Hari Santri Nasional tepat pada tanggal 22 Oktober, meskipun kontroversi mengiringi pemilihan dan penentuan tanggal 22 Oktober, sebab dianggap hanya mewakili kelompok tertentu.

Prestasi Presiden Jokowi ini merupakan kado istimewa bagi santri, sebab setelah lebih dari 70 tahun Indonesia merdeka barulah pemerintah menetapkannya, bahkan presiden Gus Dur pun yang berasal dari rahim pesantren dan santri tulen tidak sempat memikirkan hal tersebut.

Penetapan hari santri cukup beralasan bila kita membaca sejarah akan kontribusi santri pada bangsa Indonesia. Santri itu sendiri diartikan sebagai orang yang mendalami agama Islam atau orang yang beribadah sungguh-sungguh dan orang saleh. Dari senilah kemudian tempat mereka berkumpul disebut sebagai Pe-Santri-an (pesantren) Dari segi historis, pesantren tidak hanya diidentikkan dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian budaya Indonesia (indogenous), yang sudah berdiri dan eksis ratusan tahun yang lalu, bahkan sebelum Belanda, datang ke Indonesia.

Perjuangan santri

Pesantren memiliki peran yang cukup vital dalam mengawal masyarakat prakemerdekaan. Peran santri dan pesantren pada saat itu tidak hanya mengawal pemahaman agama masyarakat Nusantara, tetapi juga menjadi basis perjuangan melawan segala bentuk penindasan, bahkan penulis buku The History of Java mengakui bahwa kiai merupakan ancaman serius atas kepentingan Belanda di Indonesia.

Tidak terhitung kiai yang disokong oleh para santri dan rakyat jelata melakukan pemberontakan melawan penjajah Belanda, sehingga Belanda menjadikan Pesantren sebagai musuh yang harus ditaklukkan. Itulah sebabnya pesantren pada umumnya terletak di pelosok-pelosok desa.

Salah satu bukti autentik atas perjuangan santri saya dapatkan di salah satu pondok tertua di Indonesia yang kini berusia 279 tahun yaitu Pondok Pesantren Sidogiri. Saat masuk ke gerbang pesantren, akan terlihat “lonceng” yang berfungsi sebagai penanda waktu menyerupai bom yang seukuran tubuh orang dewasa. Ketika saya bertanya ke salah seorang pengurus pondok, kemudian diceritakan tentang perjuangan kiai dan para santri Sidogiri dalam melawan penjajah, sehingga Belanda terpaksa menjatuhkan bom ke lokasi pesantren, tetapi tidak meletus yang kemudian bom tersebut diabadikan sebagai lonceng pesantren.

Bambu runcing yang dijadikan sebagai senjata andalan pejuang kemerdekaan itu berasal dari  inisiatif Kiai Subki dari Temanggung. Bambu runcing sebelum digunakan santri dan rakyat terlebih dahulu didoakan, sehingga muncul ungkapan “Indonesia mengusir Belanda hanya dengan Bambu Runcing,” tetapi bambu runcing itu bukan bambu runcing biasa, tetapi bambu runcing yang penuh berkah.

Perjuangan kalangan pesantren yang paling dikenang untuk bangsa Indonesia adalah resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945 yang difatwakan oleh Hadhratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Fatwa tersebut menyebar luas ke pelosok Jawa Timur, utamanya kalangan santri di Pesantren. Resolusi jihad tersebut memantik munculnya banyak laskar di pesantren seperti  Hizbullah dan Sabilillah. Mereka berbondong-bondong ke Surabaya untuk melawan Belanda yang mencoba mengganggu euforia kemerdekaan RI 45. Teriakan Bung Tomo yang berlatar belakang santri “merdeka atau mati” yang diakhiri dengan pekikan “Allahu Akbar” membakar semangat para pejuang dan akhirnya meletuslah perang di Surabaya yang diabadikan sebagai hari Pahlawan Nasional 10 November.

Resolusi jihad Hadhratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari inilah yang ditetapkan pemerintah sebagai Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015.

Kontribusi santri

Kontribusi perjuangan santri untuk bangsa ini sudah tidak terelakkan lagi. Dalam dunia pendidikan, santri tidak perlu diragukan keilmuannya, baik pada aspek ilmu agama maupun ilmu umum. Karakter building dan revolusi mental telah lama dilakukan dan diterapkan oleh pondok pesantren. Tidak dapat dibayangkan andai pondok pesantren di Indonesia yang jumlahnya kurang lebih 25.000 dengan santri yang mencapai 3,5 juta orang mengajarkan ajaran yang menyimpang, radikal atau kekerasan, maka boleh jadi apa yang terjadi di Timur Tengah seperti Suriah, Irak, Yaman, dan tempat yang lain juga akan terjadi di Indonesia.

Dalam dunia usaha, pesantren juga memberikan kontribusi yang besar untuk bangsa bahkan salah satu iklan dari Kementerian Koperasi dan UKM menjadikan Koperasi Pesantren Sidogiri sebagai contoh koperasi sukses di Indonesia.

Dalam dunia politik, santri juga telah menduduki berbagai jabatan politik di negeri ini, baik eksekutif, legislatif hingga yudikatif, bahkan posisi tertinggi yakni Presiden pernah diduduki seorang santri, bahkan jutaan santri menjadi panutan di masyarakat dan menjadi tokoh masyarakat di daerahnya masing-masing.

Pengakuan pada eksistensi dan kontribusi santri juga dilakukan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dengan mendorong pondok-pondok pesantren mendirikan SMK lengkap dengan sarana dan prasarana yang sepenuhnya ditanggung oleh mereka. Kontribusi ini hanyalah sebagian kecil yang dapat diungkap dalam tulisan ini.

Pesan santri

Perjuangan dan kontribusi santri yang begitu banyak untuk bangsa Indonesia ini tidak boleh dinodai oleh siapapun. Karena itulah, pada Hari Santri Nasional yang kedua ini, kami seluruh santri berpesan untuk semua elemen bangsa:

  • Jangan pernah mengganggu keutuhan NKRI, sebab negeri ini dibangun juga dari darah dan nyawa para kiai dan santri.
  • Jangan sering meneriakkan Allahu Akbar untuk kekerasan, sebab kami dahulu menggunakannya hanya untuk mengusir penjajah bukan mengusik saudara sebangsa kami.
  • Jangan pernah meragukan nasionalisme kami, sebab pesantren sangat cinta tanah airnya dengan mengikutkan setiap daerah pada nama pondok pesantren.
  • Saudaraku para santri di manapun berada, selamat Hari Santri Nasional, jangan pernah berkecil hati, tetaplah optimis negeri ini membutuhkan karakter yang kuat seperti kalian untuk membangun bangsa ini. Saatnya angin akan berembus dan berpihak kepada kita. Lihatlah peminat pesantren bukan semakin turun tetapi semakin banyak, bahkan membludak.
  • Saudaraku para santri, orang lain boleh saja menuduh pesantren tempat teroris, anarkis, dan ketinggalan zaman tapi fakta dan sejarahlah yang berbicara bahwa santrilah yang mengakui NKRI sebagai harga mati, tidak mengenal tawuran dan bisa berkiprah di segala bidang.
  • Saudaraku para santri, perlakukan diskriminasi dan anggapan anak tiri dalam dunia pendidikan nasional tidak bisa menghalangi kita untuk berhasil, bahkan setiap santri dapat memetik hikmahnya agar pesantren bisa survive, mandiri dan kuat dalam menghadapi tantangan dan rintangan.

Selamat Hari Santri 22 Oktober 2016. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Ketua Yayasan Harisah al-Gifary induk PP. al-Risalah Batetangnga Polman & Dosen STAIN PAREPARE. PNS.

Lihat Juga

Tegas! Di Hadapan Anggota DK PBB, Menlu RI Desak Blokade Gaza Segera Dihentikan

Organization