Topic
Home / Berita / Opini / NKRI dan Nasionalisme Santri

NKRI dan Nasionalisme Santri

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Logo kirab Hari Santri Nasional. (pondok-srampadan.blogspot.com)
Ilustrasi – Logo kirab Hari Santri Nasional. (pondok-srampadan.blogspot.com)

dakwatuna.com – Sudah setahun lebih presiden Joko Widodo (Jokowi) mendeklarasikan keputusan presiden No. 22/2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Tanggal itu dipilih karena bertepatan dengan penandatanganan Resolusi Jihad (22 Oktober 1945), yang digagas oleh pendiri NU (Nahdlatul Ulama), KH. Hasyim Asy’ari dan puluhan kiai se Jawa-Madura. Resolusi jihad merupakan bentuk dukungan para santri dan kiai terhadap kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pernyataan kontradiktif pun muncul, terutama dari kalangan Muhammadiyah. Mereka mengklaim bahwa penetapan Hari Santri Nasional hanya menyebabkan umat Islam terkotak-kotak pada kelompok santri dan non santri.  Bahkan ketua umum Muhammadiyah, Haedar Nashir menyebut bahwa tindakan tersebut hanya mengukuhkan kategorisasi di kalangan umat Islam. Hal ini senada dengan penelitian Clifford Geertz dalam bukunya The Religion of Java (1960) yang membagi Islam di Jawa dalam trikotomi santri, abangan, dan priyai.

Terlepas dari pro-kontra di atas peran santri terhadap kemerdekaan negara ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Santri telah menuliskan tinta sejarah karena kontribusinya mempertahankan NKRI. Mereka telah turut andil dalam merebut kemerdekaan Indonesia ketika para kolonial akan melakukan serangan kembali setelah proklamasi kemerdekaan. Namun, masyarakat kita tidak pernah melirik sumbangsih para santri sehingga perannya hilang secara perlahan.

Tahun kemarin tepatnya tanggal 19 Desember 2015 Mhd. Darwis Nasution , SE, M. AP, dalam acara diskusi publik yang dilaksanakan oleh Angkatan Muda Majelis Dakwah Islamiyah (AMMDI) mengatakan “Kontribusi santri dan pesantren dalam berbagai kegiatan kurang mendapat perhatian, perannya kabur dan hilang dari ingatan masyarakat seiring berjalannya waktu. Padahal, rekam sejarah tentang santri dalam bangsa Indonesia perlu diputar ulang sebagai upaya resolusi semangat santri dalam perjuangan mengisi kemerdekaan Indonesia”. (Harian Analisa, 19/12/2016)

Semangat Juang Santri

Penulis pernah membaca sebuah meme Apabila para penjajah datang menyerbu negeri ini, para santri siap berdiri paling depan untuk membelanya. Sedangkan para pejabat akan lari terbirit-birit mencari perlindungan walaupun setiap hari Senin mereka mengangkat tangan hormat kepada bendera. Saya kira substansi meme di atas bukan hanya gertak sambal. Bagi santri memperjuangkan bangsa sendiri adalah suatu kewajiban. Karena bagi santri membela negara adalah jihad fii sabilillah yang telah mengakar kuat dalam jiwanya.

Wejangan kiai adalah sebuah petuah yang harus dilaksanakan oleh santri. Karena kiai merupakan sosok figur yang berkarismatik karena keilmuannya. Mungkin kita ingat bagaimana perjuangan santri dan kiai Gontor di masa  kemerdekaan dalam mempertahankan kedaulatan negara. Mereka dengan senjata seadanya dan kobaran api semangat yang tinggi telah membuktikan bahwa bagi mereka mempertahankan tanah air adalah sebuah keniscayaan.

Namun, isu yang berkembang di masyarakat belakangan ini membelot. santri ibarat kelompok manusia yang identik dengan radikalisme dan terorisme. Pondok pesantren yang merupakan pendidikan Islam menjadi kambing hitam para pemangku kepentingan. Santri seolah dipersiapkan untuk mencetak manusia berwatak keras dan ekstrem.

Bahkan sempat terdengar isu miring dari seorang pejabat terkait kondisi pondok pesantren. Pertama, bahwa adanya 19 pesantren yang terindikasi kemasukan teroris. Kedua, masuknya narkoba ke dalam lingkungan pesantren (NU Online, 16 Maret 2016). Tentu hal ini membuat kita tertegun, Benarkah pondok pesantren yang mengedepankan etika dan moral adalah sarang pencetak manusia tak beradab?

Sudah masyhur bahwa kehidupan santri identik dengan etika kesopanan. Santri selalu dididik untuk selalu mengamalkan amar maruf nahi mungkar (menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran). Bahkan, nilai moral (adab) menjadi prioritas utama penentu kelulusan santri, tidak hanya berbarometer angka-angka. Maka, sangat tidak masuk akal jika tindakan teror dan radikal disematkan di pundak santri.

Karakter Santri Terhadap Negara

Di tengah arus modernitas dan wajah media yang tak menentu, santri harus bisa menjaga tradisi lama yang baik (almuhafadzotu alal qodimis sholih) dan mengambil tradisi baru yang lebih baik (wal akhdu alal jadidil aslah).

Begitu pun dengan karakter santri yang identik dengan kebhinnekaan harus selalu dilestarikan. Seperti cinta tanah air (hubbul wathan). Pendidikan yang diajarkan kepada santri tidak melulu kitab kuning, akan tetapi santri telah ditanamkan cara bermuamalah, baik secara individu maupun sosial. Rasa empati dan simpati dalam keseharian santri dengan sesama teman adalah bukti kecil bahwa santri memilik jiwa dan raga yang selalu siap untuk membela negara. Menurut KH. Wahid Hasyim (1950) bahwa jiwa nasionalisme di pesantren (santri) terbangun dari tiga nilai. Yaitu persaudaraan sesama muslim (ukhuwah Islamiyah), antar sesama anak bangsa (ukhuwah wathaniyah), dan antar sesama manusia (ukhuwah insaniyah).

Kedua, cinta damai. Kebersamaan yang berkelanjutan membuat santri mencintai perdamaian. Kehidupan yang sama-sama jauh dari sanak famili praktis telah membuka mata santri bahwa hidup itu saling membutuhkan (zoon politicon). Hal ini telah terbukti minimnya tindakan kriminal dan radikal di kalangan santri. Maka, sangat jarang bahkan tidak pernah kita temukan santri bertauran antar santri.

Ketiga, Kepedulian Sosial. Bukan menjadi rahasia lagi bahwa santri yang menempuh pendidikan selama 24 jam ditanamkan kepedulian sosial yang tinggi. Seperti, membawa teman yang sakit ke klinik, bersih-bersih bersama (tandziful am), pelaksanaan shalat berjemaah dan lain-lain.

Akhirul kalam, jangan menjadi kacang yang lupa sama kulitnya. Menenggelamkan kontribusi santri dalam membela kemerdekaan lantaran sebagian kelompok Islamofobia (anti-Islam). Bangsa ini patut bangga memiliki pondok pesantren yang dapat melahirkan santri-santri bermoral, beretika, dan jiwa nasionalisme yang tinggi. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Pendidik di Pondok Pesantren Terpadu Daarul Fikri, Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat.

Lihat Juga

Meneguhkan Pesantren Tanpa Rokok

Figure
Organization