Home / Narasi Islam / Sosial / Smartphone Is Doesn’t Mean Not To Communicate

Smartphone Is Doesn’t Mean Not To Communicate

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Getty Images)
Ilustrasi. (Getty Images)

dakwatuna.com – Di zaman yang serba praktis saat ini, teknologi dan alat-alat canggih lain nya semakin tak terkendali lagi penggunaannya. Perubahan sosial yang diakibatkan olehnya pun cukup terasa bagi sebagian kalangan orang. Sebagai contoh, dahulu ketika anak-anak ingin bermain riang bersama, mereka saling bertatap muka, tertawa bersama, namun sekarang, mereka lebih memilih permainan yang menggunakan teknologi, sebut saja permainan Point Blank, Dota, Clash of Clans yang mengharuskan memakai alat seperti komputer, smartphone dan lain-lain. Alhasil tidak ada lagi kita temui suara riang anak-anak di lapangan pada sore hari, tidak ada lagi anak-anak yang gembira di lapangan, karena mereka menganggap lebih asyik bermain game lewat teknologi daripada dengan teman sepermainan nya. Jangan salah, bukan cuma anak-anak yang seperti ini, bahkan orang dewasa juga terkena ‘virus’ ini. Ketika niat awalnya ingin bersilaturahim, sesampai berjumpa, semuanya sibuk dengan gadget masing-masing. Kita tidak bisa menghapuskan kebiasaan- kebiasaan ini. Ini adalah efek dari globalisasi, zaman akan terus menuntut ke pola-pola yang semakin modern. Yang bisa kita lakukan adalah menyaring dengan sebaik-baiknya. Bagaimanapun, imbas dari globalisasi ini tidak selalu berdampak buruk. Karena adanya globalisasi, kita dengan mudah mengakses informasi dari internet, berkomunikasi tanpa harus jauh mendatangi, membeli kebutuhan tanpa harus beranjak dari rumah, dan lain-lain.

Saudaraku, yang ingin saya uraikan adalah fenomena keegoisan dan ketidakpedulian diri yang timbul akibat adanya teknologi modern, sebut saja contohnya smartphone. Kita pasti sering berkomunikasi lewat aplikasi online dengan teman, saudara, guru, seperti line atau whatsapp. Jumlah pemakainya yang banyak dan kebutuhan yang sama, sehingga timbullah ‘grup chat’ via online. Di dalam grup ini, sering saya temui orang-orang dengan karakter egois, ketidakpedulian, tidak mau tau, dengan apa yang disampaikan di grup tersebut. Sebagai contoh, saya menegur teman-teman sekedar basa-basi sambil menanyakan tugas seperti “assalamu’alaikum, ada tugas?” banyak orang-orang di dalam grup tersebut yang hanya sekedar membaca saja alias sider. Bukan hal yang sepele, meskipun hanya sekedar basa-basi, kalau respon dari satu grup nihil, bisa menimbulkan kekecewaan yang berujung pada sakit hati. Padahal, jumlah anggota di grup tersebut banyak, but no one’s care. Sangat memprihatinkan.

Rasulullah telah menjelaskan dalam hadits nya yang dishahihkan oleh Imam Bukhari, bahwa kaum mukmin itu ibaratkan satu bangunan, yang saling mengokohkan satu sama lain. Tanya ke diri kita, bagaimana bisa kita membangun sebuah bangunan kalau rasa peduli terhadap sesama saja kita tidak punya dalam hal sesederhana itu?

Saudaraku, Mari kita baca kisah yang pernah terjadi pada masa khalifah Sayyidina Umar bin Khattab ra.

Ketika Umar bin khattab sedang duduk di bawah pohon kurma di dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya para sahabat dan sedang asyik berdiskusi tentang sesuatu. Di kejauhan datanglah tiga orang pemuda. Dua pemuda diantaranya memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit diantara mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan Amirul Mukminin, kedua pemuda ini ternyata kakak beradik itu berkata, “Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!” “Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini!“.

Umar segera bangkit dan berkata, “Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?

Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata, “Benar, wahai Amirul Mukminin.”

“Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.”, tukas Umar.

Pemuda lusuh itu memulai ceritanya,

“Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku, kuikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia. Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera kucabut pedangku dan kubunuh ia. Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini.”

“Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.”, sambung pemuda yang ayahnya terbunuh. “Tegakkanlah had Allah atasnya!” timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh. “Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat’, ujarnya.

“Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat atas kematian ayahmu”, lanjut Umar. “Maaf Amirul Mukminin,” sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala, “kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa”.

Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur dan bertanggung jawab. Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata,“Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah” ujarnya dengan tegas, “Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash”.

“Mana bisa begitu?”, ujar kedua pemuda.

“Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?” tanya Umar. “Sayangnya tidak ada Amirul Mukminin, bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?” pemuda lusuh balik bertanya.

“Baik, aku akan meberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji.” kata Umar.

“Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah lah penjaminku wahai orang-orang beriman”, rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang hadirin terdengar suara lantang, “Jadikan aku penjaminnya wahai Amirul Mukminin”. Ternyata Salman al Farisi yang berkata.

Salman?” hardik Umar marah, “Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini”.

“Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, ya Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya”, jawab Salman tenang.

Akhirnya dengan berat hati Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.

Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua.

Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman. Salah satu sahabat Rasulullah saw yang paling utama.

Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya.

Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh. Akhirnya tiba waktunya penqishashan, Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi.

Hadirin mulai terisak, orang hebat seperti Salman akan dikorbankan. Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali. ”Itu dia!” teriak Umar, “Dia datang menepati janjinya!”. Dengan tubuh bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.

Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. Aku..” ujarnya dengan susah payah, “Tak kukira.. urusan kaumku.. menyita..banyak.. waktu..”. ”Kupacu.. tungganganku.. tanpa henti, hingga.. ia sekarat di gurun.. terpaksa.. kutinggalkan.. lalu aku berlari dari sana..” ”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,

“Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?”

”Agar.. jangan sampai ada yang mengatakan di kalangan Muslimin tak ada lagi ksatria tepat janji.” jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.

Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya, “Lalu kau Salman, mengapa mau-
maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?

“Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”, Salman menjawab dengan mantap. Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu. ”Allahu Akbar!”

Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak, “Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”. Semua orang tersentak kaget.

“Kalian..” ujar Umar, “Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru. ”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya” ujar kedua pemuda membahana.

”Allahu Akbar!” teriak hadirin. Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.

Begitupun kita di sini, di hari ini, saat ini sambil menyisipkan sebersit rasa iri karena tak bisa merasakannya langsung bersama saudara- saudara kita pada saat itu.

Kedua bersaudara yang menuntut berkata “Ketika ada orang-orang seperti ini, bagaimana mungkin seorang Muslim meminta ampunan, namun tidak ada seorang pun yang mau mengampuninya?” Jadi mereka mengampuni pemuda itu.

Melalui kisah ini, saya ingin mengajak kita untuk mengaplikasikannya lewat smartphone. Ketika ada yang menegur kita, ketika ada yang menyapa kita maka sambutlah, respon lah agar tidak ada yang tersakiti, merasa dikucilkan, diabaikan, ataupun dianggap tidak penting yang bisa berujung seperti kisah di atas; tidak ada yang peduli denganku, tidak ada yang merasa penting dengan sapaanku. Jika kita terus bersikap seperti ini pada akhirnya berimbas kepada melonggarnya ukhuwah. Padahal Nabi saw mengibaratkan kaum muslim seperti satu bangunan yang saling mengokohkan.

Saudaraku, beginilah seharusnya sikap kita ketika menggunakan smartphone ataupun alat-alat canggih lainnya. Bijaklah, Peduli lah. Jangan sampai ukhuwah kita lalai, jangan sampai keegoisan dan ketidakpedulian kita lebih tinggi dalam pergaulan. Ingat, bahwa kita ini saudara satu sama lain. Mari kita ambil hikmahnya, dan menerapkannya dalam ukhuwah. Betapa pentingnya menjaga ukhuwah itu. Kalau dari hal sesederhana saja seperti peduli dengan teguran teman tadi kita tidak mau tau, bagaimana mungkin kita ingin terus merajut ukhuwah? Bagaimana mungkin kita ingin membangun sebuah bangunan yang kokoh?

Mudah-mudahan tulisan ini bisa bermanfaat dan menjadi reminder kita dalam menggunakan smartphone.

Akhukum Fillah. (dakwatuna.com/hdn)

 

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jurusan Komunikasi & Penyiaran Islam

  • Abifadhil

    Artikel yang bagus untuk direnungkan..

Lihat Juga

Miskomunikasi Suami Istri