Home / Berita / Opini / Pilkada DKI Jakarta dan Kekuatan Cinta

Pilkada DKI Jakarta dan Kekuatan Cinta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Pemilihan Kepala Daerah di DKI Jakarta akan digelar pada 15 Februari 2017. (suarapemilih.com)
Pemilihan Kepala Daerah di DKI Jakarta akan digelar pada 15 Februari 2017. (suarapemilih.com)

dakwatuna.com – Suasana pilkada DKI memanas menyusul tindakan Ahok yang secara terang-terangan melakukan pelecehan terhadap Alquran, meski belakangan ia mengakui kesalahan dan meminta maaf. Emosi dan suasana batin umat Islam diobok-obok. Ahok sengaja memancing agar kita terpancing. Agar kerusuhan terjadi di ibukota akibat kemarahan umat Islam, sehingga umat ini akan dicap sebagai radikal, provokator, dan perusak demokrasi.

Ini sebuah desain yang disengaja sebenarnya, agar energi umat Islam habis diawal sebelum bertarung. Agar kita kalah sebelum berperang. Agar kita kelelahan dan lemah dalam strategi-strategi berikutnya. Agar Ahok melenggang ke DKI 1 untuk kemudian menguasai Jakarta dan diplot memimpin Indonesia.

Pasangan cagub Ahok-Djarot sudah kentara kepentingan mafia yang didukung para naga (chines overseas). Sarat kepentingan politik penjajah asing, aseng, dan asong. Kepentingan taipan yang akan mengangkangi Jakarta. Yang akan menyetir dan punya target mengendalikan seluruh sumberdaya bangsa. Untuk melemahkan agama, merendahkan para ulama, mengeruk kekayaan negeri, menghinakan kaum pribumi. Kan pasti menorehkan luka dan sejarah kelam yang tiada terperi. Sangat mungkin tercipta duka dan nestapa sepanjang masa.

Pasangan cagub Agus-Sylviana meski agak lebih baik, tapi sarat politik warisan, kental kepentingan kelompok, kepentingan segelintir orang. Terlebih kepentingan keluarga, Kepentingan trah, kepentingan kelanjutan dinasti. Sah-sah saja memang. Tapi, suara umat berpotensi terbelah, terpecah, dan tercacah akibat adanya dua pasang cagub muslim. Ini pasangan cagub yang muncul belakangan. Sengaja dimunculkan dan terindikasi kuat dalam upaya memecah suara umat.

Meski Jakarta bukanlah segala-galanya, namun faktanya ia menjadi barometer politik nasional. Kemenangan di Jakarta sangat mempengaruhi dan menentukan kemenangan umat Islam secara nasional. Jakarta harus kita cintai, Jakarta harus diselamatkan, karena menyelamatkan Jakarta sesungguhnya adalah menyelamatkan Indonesia. Umat Islam di negeri ini baik yang ada di Jakarta maupun di daerah lain di seluruh Indonesia harus bersatu. Kaum muslimin seluruhnya harus memiliki rasa cinta terhadap Jakarta. Karena, musuh-musuh Islam pun hari ini menunjukkan kebersatuannya dan memperlihatkan kesolidannya. Mereka mengerahkan segala daya upaya untuk berhasil memenangkan Ahok. Mengeluarkan seluruh energi dan kekuatan finansialnya untuk memanfaatkan momentum selangkah lagi non-muslim memimpin Indonesia, negara yang mayoritas penduduknya muslim.

Pasangan cagub Anies-Sandiaga, Insya Allah ada kepentingan umat didalamnya. Kepentingan bangsa dan negara. Kepentingan menyelamatkan Jakarta menjadi Jayakarta. Kepentingan anak-anak bangsa yang setia. Ada Anies Baswedan bintang bersinar di dunia pendidikan. Ada Sandiaga yang rela ‘turun tahta’. Ada Mardani yang tak ngotot tetap harus cawagub. Ada PKS yang melepas ego partainya demi kepentingan bersama. Ada Gerindra, partai nasionalis berjiwa ksatria. Ada para ulama yang menaruh asa bersama. Ada para pemuda yang tak ingin negara ini tergadai. Ada para wong cilik di setiap sudut Jakarta yang tak ingin kehidupannya tergusur. Karena sangat mungkin dibawah kepemimpinan Ahok nanti Jakarta kan dirubah seperti Singapura.

Dalam Anies-Sandiaga tak ada sandiwara. Dalam Anies-Sandiaga tak ada dusta. Dalam Anies-Sandiaga tak ada luka. Dalam Anies-Sandiaga tak ada derita dan nestapa. Dalam Anies-Sandiaga ada asa. Ada harapan menatap masa depan. Ada harapan untuk Jakarta tersenyum. Ini menjadi tanggungjawab seluruh kaum muslimin Indonesia untuk membuat Jakarta tersenyum di Pilkada DKI 2017 ini. Karena cinta dalam dada Jakarta pun tersenyum.

Ayo bantu Jakarta untuk tersenyum! Ini tanggungjawab kita bersama, meski tidak tinggal di Jakarta, meski bukan sebagai pemilih pilkada DKI, meski sama sekali kita tak terkait dengan Jakarta. Bantu kaum muslimin Jakarta dengan doa-doa kita dan gerilya didunia maya. Beritahukan pada saudara dan siapa saja di jakarta untuk memilih Anies-Sandiaga. Kita akan buktikan pada dunia bahwa Jakarta adalah Jayakarta, bahwa Jakarta kelak tidak akan menjadi Singapura.

Memenangkan Anies-Sandiaga tidak hanya menjadi tanggungjawab kaum muslimin di Jakarta. Tapi juga membutuhkan perhatian dan kecintaan kaum muslimin dari seluruh Indonesia terhadap agenda penting dan utama menyelamatkan Jakarta. Karena jika semata hanya mengandalkan basis kekuatan Jakarta dan strategi memenangkan pilkada dengan cara-cara yang konvensional, teramat berat Anies-Sandiaga bisa menang.

Dibutuhkan kekompakan dan kesolidan umat Islam dalam menghadapi pertarungan memperebutkan DKI 1 ini. Itulah kekuatan cinta dalam tubuh umat. Apa yang harus kita lakukan?

Pertama, membangun kekuatan cinta terhadap Jakarta dalam dada-dada setiap kaum muslimin Indonesia dimanapun ia berada, dengan menumbuhkan dan membangkitkan kesadaran politik umat seluas-luasnya. Cinta kepada Jakarta yang dilandasi kekuatan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta yang melahirkan pembelaan terhadap Islam. Itulah kesadaran yang mendorong tumbuhnya atensi dan antusiasme terhadap pilkada DKI 2017. Maka umat harus dibangunkan, diberitahu, dan disadarkan bahwa kepentingan kaum muslimin Jakarta adalah kepentingan kaum muslimin di seluruh Indonesia. Umat harus dibangunkan, diberitahu, dan disadarkan bahwa Jakarta dalam kondisi “siaga 1”. Jika Jakarta lepas maka umat di negeri ini terancam bahaya besar.

Kedua, menghimbau kepada seluruh kaum muslimin Indonesia dimanapun berada untuk menghubungi , kerabat, saudara, sahabat, dan siapa pun orang yang ia kenal di Jakarta untuk mengarahkan pilihannya pada pasangan Anies-Sandiaga. Insya Allah dengan kekuatan cinta, cinta yang hakiki, cinta karena membela agama Allah umat ini akan bersatu melawan siapa saja yang memusuhi Islam dan bersama-sama meredam potensi kezholiman.

Ketiga, membangun kesadaran cyber fiisabilillah yaitu dengan gerilya di dunia maya. Perang didunia maya adalah keniscayaan. Dunia maya beda dengan dunia nyata. Dunia maya adalah permainan kata, gambar, video, dan audio. Sebagaimana didunia nyata bahwa setiap amal perbuatan kita adalah zikrullah, bahwa setiap aktifitas kita adalah ibadah, dan bahwa setiap kegiatan kita didunia nyata adalah amal-amal ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Kita juga ingin detik-detik kita didunia maya adalah ladang pahala, kita ingin selancar kita didunia maya penuh makna dan bermanfaat bagi pembelaan, kemenangan, dan kejayaan Islam.

Dalam konteks pilkada DKI. Maka, jadikan setiap kata yang ditulis adalah pembangunan citra dan opini positif pasangan Anies-Sandiaga, jadikan gambar yang dishare sebagai upaya memenangkan Anies-Sandiaga, jadikan setiap video yang dibagi membangun kesadaran politik umat Islam, dan jadikan setiap audio yang disebar menambah pemahaman dan semangat dakwah dan jihad di dunia politik.

Ini zaman perang cyber. Obama dua kali memenangi pilpres amerika karena didukung tentara cyber yang kuat. Sama halnya dengan Jokowi naik RI 1. Didukung tentara cyber yang kuat, tentara bayaran, yang setiap detiknya dihitung uang, milyaran duit digelontorkan.

Menguasai perang dunia maya diantaranya menang poling dimana-mana, menang opini juga, dan menang pencitraan. Jokowinya mah biasa aja, cuma menang citra, disetting menang poling, disetting menang opini, disetting menang citra. Ya memang sengaja disetting. Karena mereka sadar itu bagian dari pemenangan. Pengkondisian untuk menang di dunia nyata. Itulah cara kerja didunia maya. Umat juga harus disadarkan, bahwa ini zaman perang cyber.

Keempat, menghimpun kekuatan doa. Hemat saya, strategi dan cara-cara konvensional tidak akan bisa untuk memenangkan Jakarta. Meskipun itu normatif tetap dilakukan di lapangan. Tapi yang lebih penting dan utama adalah kekuatan doa. Doa dari seluruh kaum muslimin di seluruh Indonesia. Agar Allah, Yang Maha Menguasai hati-hati manusia, menggerakkan seluruh hati penduduk Jakarta untuk menjatuhkan pilihannya pada pasangan Anies-Sandiaga. Doa adalah senjata. Anak-anak panah yang melesat. Menembus pintu-pintu langit, menembus Arsy yang agung, mengetuk pintu Ar-Rahman Ar-Rahim. Doa bisa menolak takdir buruk menjadi baik. Doa menyelamatkan kita dari kejelekan yang mungkin akan menimpa. Doa melindungi kita dari berbagai keburukan.

Dan diantara ukuran kedekatan seorang hamba kepada Rabbnya adalah cara, kuantitas, dan kualitas dia dalam berdoa. Apakah dia bermunajat di waktu-waktu mustajab? Saya mengingatkan dan mengajak diri pribadi dan kita semua mulai saat ini hingga detik-detik jelang pencoblosan nanti mari kita semua berdoa khusyu saat turun hujan, berdoa khusyu antara dua khutbah jumat, berdoa khusyu saat sebagai musafir, berdoa khusyu saat antara azan dan iqamat, berdoa khusyu saat sujud-sujud sholat, berdoa khusyu saat bada sholat lima waktu, berdoa khusyu saat di malam-malam sunyi di sepertiga malam, dengan doa-doa kemenangan pasangan Anies-Sandiaga, doa kemenangan kaum muslimin dimanapun berada.

Jika tak ada doa-doa kusyu kita diwaktu-waktu mustajab seperti itu bisa jadi ini pertanda ada jarak antara kita dengan Allah Yang Maha Kuasa. Jika tidak ada doa-doa khusyu dalam setiap dada-dada kaum muslim mustahil Allah akan menurunkan pertolongan-Nya. Mustahil Allah akan memenangkan kita. Seorang ulama ditanya berapa jarak antara bumi dengan arys? Jawabnya bukan beribu-ribu kilometer, bukan bermil-mil, tapi jaraknya dekat. Sedekat doa-doa yang dikabulkan.

Jika kita mengabaikan kekuatan doa, teramat berat untuk bisa menyelamatkan Jakarta. Karena, melihat kekuatan sumberdaya lawan baik secara finansial maupun yang lainnya, kita ketinggalan jauh. Sikap Ahok yang menghina Alquran dan mendapatkan dukungan dari sebagian tokoh yang notabene muslim, menunjukkan betapa kekuatan umat benar-benar terbelah. Maka doa-doa kita yang kuat, yang tulus ikhlas, dan yang sungguh-sungguh memohon kepada Allah Yang Maha Kuat akan melahirkan kekuatan-kekuatan berikutnya. Ini akan menjadi kekuatan teramat dahsyat, doa-doa dengan landasan kekuatan cinta pada-Nya dari jutaan kaum muslimin setiap detik, setiap saat, dan setiap hari akan membuka pintu Arsy-Nya, Allah akan menurunkan pertolongan-Nya. Dalam sejarah Islam betapa banyak golongan yang sedikit mengalahkan golongan yang banyak, dengan izin Allah.

Saling mendoakanlah sesama kita wabil khusus doa-doa kita buat saudara-saudara kita di Jakarta. Karena doamu untuk saudaramu, sesungguhnya adalah doamu untuk dirimu sendiri. Optimis Anies-Sandiaga menang, karena kekuatan Allah tak pernah terpecah.

Kelima, membangun sikap tawakkal yang kuat kepada Allah SWT. Bahwa sesungguhnya nama gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 sudah tertera dalam lauhul mahfudz. Setelah berikhtiar dengan kuat (kalkulasi manusiawi) dan doa yang kuat (kalkulasi Rabbani), maka hasilnya kita serahkan dan kita percayakan kepada Allah SWT. Apapun hasilnya itulah yang terbaik bagi umat ini. Yang pasti, keyakinan kita bahwa janji Allah pasti benar yaitu Allah pasti mengabulkan doa hamba-hamba-Nya. Pengabulan doa-doa itu Allah berikan dalam satu diantara tiga bentuk. Pertama, benar Allah kabulkan sesuai apa yang kita minta. Kedua, benar Allah kabulkan dalam bentuk lain yang nilainya setara dengan apa yang kita minta. Atau, ketiga, benar Allah kabulkan dalam bentuk lain dimana terhindarnya kita dari keburukan atau kemadhoratan yang sesungguhnya nilainya atau efek kebaikannya jauh melebihi dari apa yang kita minta kepada Allah.

Wallahu’alam…

Untukmu Jakartaku

Wahai Jakarta…
Demi cintaku pada-Nya
Jakarta kan kucinta

Demi cintaku pada Rasul-Nya
Jakarta kan kubela

Demi cintaku pada kejayaan Islam
Jakarta kuinginkan jadi Jayakarta

Jakarta tersenyum
Akupun tersenyum
Jakarta menangis
Akupun menangis
Jakarta bahagia
Akupun bahagia
Jakarta merana
Akupun merana

Tunggu saat selesai Pilkada
Apakah ibukota tersenyum atau menangis
Akankah jakarta bahagia atau merana
Akankah jakarta tertata atau menderita
Akankah jakarta kembali menjadi jayakarta, atau kan seperti singapura
Semoga dengan cinta dan doa-doa kita
Allah bela Jakarta untuk Islam nan jaya

(dakwatuna/iko)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Kontributor di www.pesantrenpolitik.com, Mantan Ketua KAMMI Sumatera Barat 1998. Hobi merefleksikan berbagai peristiwa yang dialami sekitar dengan menulisnya dalam bentuk puisi dan artikel opini.

Lihat Juga

Program Polisi Pi Ajar Sekolah, Pengabdian Polisi Jadi Guru SD dan TK