Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jodohku Mungkinkah Dirimu

Jodohku Mungkinkah Dirimu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (arinarizkia.wordpress.com)
Ilustrasi. (arinarizkia.wordpress.com)

dakwatuna.com – Impian ingin merasakan pacaran setelah menikah yang katanya jauh lebih nikmat itu terus terngiang di telingaku. Penasaran bagaimana melewati hidup baru dengan orang baru yang tak terlalu dekat sebelumnya. Mengikuti pola irama yang diciptakan getaran tak biasa di dalam dada, dulunya sendiri kini telah berdua sepertinya bakal jauh lebih indah dari hidupku saat ini. Aah mungkin sepertinya bakal indah ya, jika dilihat dari satu sisi saja. Namun jangan lupa juga bahwa banyak hal yang jauh lebih membutuhkan persiapan dibandingkan itu semua.

“Lelaki seperti apa yang kau cari”, ujarmu ketika itu

“cukup yang baik agamanya, bagus akhlaknya, serta terima diriku apa adanya”, jawabku tak banyak penjelasan

“masalah finansial tak jadi pertimbangan” lanjutmu

“Bukankah Allah berjanji dengan menikah maka akan Allah kayakan? Yang penting kitanya mau berusaha”, jawabku masih tak faham apa maksudmu

“tidakkah kau ingin mendapatkan jodoh yang pintar seperti dirimu..?” masih kau tambahkan pertanyaan yang hampir berupa pernyataan padaku

“ketika kita hanya mengharapkan pasangan yang sempurna sesuai kehendak kita maka takkan pernah berjumpa sampai bila-bila pun. Dengan menikahlah harusnya bisa saling melengkapi hingga kita dapati kesempurnaan itu”, aku masih coba berargumen.

“sebenarnya aku juga salah seorang pengagummu sejak sudah lama, namun aku tak berani menyampaikannya, dan ku rasa kinilah saatnya kau harus tahu semuanya”, Pernyataanmu bagai kejutan sengat listrik sesaat. Lalu aku bagai melayang di taman bunga dengan sayap lebih indah daripada kupu-kupu yang ada disana.

“ah aku tak ingin kau kecewa karena telah mengagumiku lalu nanti kau dapati aku tak sedikit pun serupa dengan yang membuatmu kagum itu” aku jauh lebih buruk dari apa yang kau lihat dan apa yang kau fikirkan” ujarku

“aku takkan kecewa, karena aku tak menuntut apa-apa”, Jawabanmu membuat hatiku seakan sudah berpindah dari rongga dada saking senangnya

Singkat cerita entah dari mana awalnya janji itu pun tak sengaja terlafadzkan. Kau akan menungguku hingga terlepas dari tugasku saat ini lalu fokus pada tugas sebagai pendamping hidupmu. Kian hari rasa khawatir akan aku yang tiada mampu menjaga janji, lalu seperti terbukanya peluang yang teramat besar untuk ada hubungan lebih dari sekadar teman hingga dua tahun kedepan membuatku harus berfikir ulang. Aku harus segera memberi kabar pada ibuku tentang semua ini, bagaimana dalam hemat beliau sebagai orang tua.

“kalau memang dia serius, kenapa mesti menunggu lama, nak…? bukankah akan lebih baik jika disegerakan saja..? usiamu juga tak menghalangi semuanya kan..?” pertanyaan lembut ibu mengiang di udara dari Sumatera hingga Jawa

“Iya bu, akan aku bicarakan lagi, ibu setuju kalau aku dengannya?” tanyaku ingin lebih yakin lagi.

“Ibu percaya padamu, dirimu yang akan menjalani semuanya, tapi kalau boleh ibu berpesan janganlah kau hanya melihat orang lain dari sisi dunianya saja, serta jangan terlalu lama kau ulur waktu, nak karena hati teramat mudah berubah haluan” ibu menyemangatiku.

“tapi kan aku masih kerja bu, otomatis aku harus ninggalin pekerjaan..? tanyaku

“iya nak gak apa-apa bulan depan kau ajukan surat pengunduran diri, tinggal kau cari lowongan baru di kampung halaman sembari mempersiapkan diri untuk pernikahanmu, kalau mau istirahat kerja dulu juga tak masalah,” tambah ibu lagi.

Keyakinan itu semakin kuat, tekadku semakin bulat, sebentar lagi aku akan menjalani tahapan demi tahapan menjadi Mar’atussalihah yang sesungguhnya. Menjadi istri dari suamiku, menjadi makmum bagi imamku, menjadi ibu sekaligus madrasatul ula bagi anak-anakku kelak. Menjadi anak serta menantu dari mertuaku, serasa tak sabar menunggu semuanya. Namun sayang ternyata semua itu hanya sesaat, sebelum ia menguap tak berwujud tak berbau, hanya ada bercak yang lama kelamaan akan kering dengan sendirinya.

Aku pun tak ingat lagi hal apa yang aku bicarakan denganmu hingga kau setuju untuk mempercepat waktu dua tahun itu menjadi empat bulan ke depan. Berbagai persiapan mulai kita rencanakan, dari aku yang harus menggunakan kebaya putih saat akad nanti (meski aku tak suka warna putih), hingga kau tawarkan untuk aku memilih satu warna baju lagi sesuai yang aku suka, aku sudah sangat bahagia membayangkan masa indah itu. Ah waktu seakan lambat berjalan.

Jarak yang teramat jauh membuat kita hanya bisa memutuskan semuanya melalui udara. Aku seakan tak sabar menanti bulan ini agar segera berganti. Setiap hari kita selalu berusaha menguatkan untuk menyusul rencana yang telah kita persiapkan. Aku pun belajar menguatkan hati dan meluruskan niat untuk siap berkomitmen menuju sakinah mawaddah wa rahmah bersamamu. Hingga keraguan demi keraguan itu akhirnya datang juga menghampirimu, tapi aku masih coba bertahan.

“kau tak malu dengan pekerjaanku, serta dengan gajiku yang masih kecil..”? awal mula keraguanmu

“dari awal sudah ku tegaskan bahwa aku percaya janjinya Allah yang akan memudahkan rezki kita setelah kita menikah dengan catatan kita mau berusaha. Apapun pekerjaanmu tak masalah bagiku yang penting halal lagi baik..”jawabku.

“lalu kita mesti tinggal dimana setelah menikah, aku tak ingin kita berdua malah jadi beban orang tuamu”Lanjutmu padaku

“Kau tak perlu risaukan itu semua, sementara tak apa aku tinggal di rumah orang tuaku sembari aku menunggu panggilan kerja. Jangan khawatir, aku sudah biasa hidup mandiri, saat sendiri saja aku tak bergantung pada orang tua apalagi setelah menikah,” (Meski sudah mulai sedikit serak aku masih kuatkan suara).

“aku tak menuntut kamu bekerja, karena uang yang aku dapatkan itu milikmu, uang yang kau dapatkan juga milikmu, aku yang harus menafkahimu” Jawabmu lagi

“aku faham itu, aku akan berusaha menjaga izzahmu, tapi tak ada salahnya kan kalau aku ingin ikut membantu dirimu. Kau juga harus ingat aku punya banyak saudara dengan orang tua yang sudah lanjut usia, otomatis aku harus membantu mereka sebisaku, takkanlah aku meminta semuanya padamu,” Ujarku

“Kita akan lewati semuanya bersama, keluargamu juga akan jadi keluargaku…” Jawabmu meyakinkanku. Tapi sebenarnya aku malu, ilmumu jauh lebih tinggi dariku, kau jauh lebih pintar dari padaku sementara aku bukan siapa-siapa,” Kau mulai risau lagi.

“Kalau memang seperti itu kamunya harus mulai merubah cara berfikir kamu. Fikirkan bahwa kita itu sama, kelebihan masing-masing kita akan menjadi pelengkap kebersamaan kita. Aku gak suka kamu selalu menilaiku dari sisi dunia, karena aku ingin kau cintai karena Allah semata”, tambahku

“iya Zara, maksudku begitu..maafkan aku”, Nada suaramu terdengar menyesal

Kadang aku berfikir betapa beruntungnya aku bertemu orang yang bisa memahami kondisi dan posisiku. Aku kian menguatkan hati, membisiki diri yang kadang resah, dengan berbagai bisikan-bisikan positif. Lalu hari ke hari aku kian belajar untuk berkomitmen dunia akhirat, karena Allah Ta’ala. Hingga saudaramu pun memastikan kesiapanku lewat suara lagi.

“Zara beneran sudah siap mau menikah dengan imam dengan segala kondisinya..?  tanya beliau

“InsyaaAllah siap bang, ketika komitmen itu saya tanamkan dalam hati maka saya telah berusaha menyiapkan segala kemungkinan yang akan dihadapi nantinya. Jujur saya serasa tak punya alasan untuk menolaknya bang karena insyaaAllah saya ikhlas dan redha dengan akhlak dan agamanya imam bang. ” jawabku sedikit grogi

“lalu nanti setelah menikah kalian akan tinggal dimana..?

“InsyaaAllah kami akan cari kontrakan di sekitar tempat kerjanya imam bang, kalau pun belum bisa mungkin saya akan menumpang sementara di rumah orang tua sementara imam tetap di tempat kerjanya, namun saya kembalikan semuanya ke Imam bang, bagaimana pun juga tetap dia sebagai suami nantinya yang berhak memutuskan, saya hanya ikut saja,” jawabku masih menahan gemetar

“iya tak masalah, nanti biar abang yang bicara sama orang tua, insyaaAllah mereka setuju kok, jangan khawatir ya. Tapi kalau bisa Zara pulang kampung dulu biar kami bisa datang ke rumah orang tuamu, lalu Zara pun melihat kondisi keluarga abang ke kampung kami”.

“iya bang insyaaAllah saya akan usahakan bisa pulang setelah surat pengunduran diri saya di setujui”, jawabku sembari menghembuskan nafas lega karena akhirnya telfonnya berakhir juga.

Ibuku benar ternyata hati itu penuh keraguan, dari hari ke hari bisa saja berubah, hingga keyakinanmu kian goyah. Lalu tinggallah aku berurai kecewa dan hati yang ternoda karena aku merasa sakit harus melukai orang tuaku, menghapus harapan mereka dalam sekejap. Mungkin aku terlupa melibatkan Allah secara langsung dalam proses ini. Aku egois meminta paksa pada Allah dalam do’aku, untuk segera menyatukan kami tapi aku tak bertanya pada Allah benarkah dia jodohku atau bukan. Aku terluka bahkan sangat kecewa namun aku sudah menyerah untuk usahaku di suatu hari yang aku telah lupa pada tanggal ke berapa di bulan yang sama kita memulai cerita.

“Zara…aku takut kalau setelah menikah nanti kau temui sifat jelekku lalu itu yang akan merusak keharmonisan rumah tangga kita nanti. Jadi aku pikir mending kita tunda dulu rencana kita itu. Kita jalani dulu saja biar saling mengenal sifat satu sama lain.” Ujarmu tanpa beban

Kau tak pernah menyadari kan betapa kau telah menggugurkan satu persatu kelopak bunga yang sedang merekah indah. Kau terlupa bagaimana usaha mempertimbangkan semuanya, dengan mudahnya kekhawatiranmu menjadi keputusan yang kau sendiri tak pikirkan siapa saja yang akan merasai akibatnya.

“aku tak semata mengikhlaskan hatiku kau isi karena kelebihanmu, aku telah menyiapkan diri untuk menutupi setiap kekuranganmu yang terhadir dalam hidupku”, ku coba pertahankan.

Masih berusaha ku pertahankan kelopak bunga yang tertinggal untuk sedikit bertahan menunggu takdir, akankah terekat kembali pada tampuknya atau akan jatuh terhempas ke bumi setelah di buai angin yang tak sengaja lalu.

“aku ingin kita punya sedikit bekal untuk persiapan rumah tangga kita, punya tabungan, dan aku rasa ini terlalu cepat buat kita, meski bertahun tahun kita di sekolah yang sama tetap saja masih banyak hal yang belum kita ketahui satu sama lainnya”.

Ku tahan air mata kekesalan untuk menahan emosiku, biar nada suaraku masih berada di oktaf normal.

“aku tak butuh hartamu, aku hanya butuh komitmenmu. Mengenal orang itu tak cukup waktu sebulan dua bulan atau setahun dua tahun tapi butuh waktu seumur hidup.  Tak sedikit orang yang hanya kenal beberapa saat sebelum akad nikah toh mereka bisa menjalani semuanya,” suaraku kian bergetar

“tapi Zara aku belum siap..!!!

Jleb…kejujuranmu membuat tampuk bunga tak lagi ada kelopaknya hanya tinggal serbuk-serbuk hitam tak berwarna. Masih ku berusaha menahan air mata agar ia tak berderai hingga Imam akan mengambil kesimpulan bahwa aku terlalu berharap padanya.

“lalu kenapa kemarin kau yang berusaha meyakinkan orang tuaku,,kau yang teramat yakin dengan semua rencana ini, hingga akhirnya orang tuaku luluh dan ingin disegerakan. Kini kau yang tak punya pendirian, apa yang mesti kusampaikan pada orang tuaku,kau tak faham Imam, kalau memang tak jadi cukup komunikasi kita sampai disini saja aku tak ingin timbul hal lain lagi,” kekesalanku sudah sampai di puncaknya

“maksudku bukan begitu Zara”,,

“cukup Imam, aku lelah”, sengaja ku cut ucapannya untuk mereda amarahku

Semua rasa emosiku bukan karena aku tak jadi menikah dengannya, tapi karena hatiku dan keluargaku merasa dipermainkan. Keputusanku telah ku pertimbangkan sesuai hematku sebelum akhirnya aku menerima semuanya., tapi kini semua seakan tak berharga. Sia-sialah semuanya. Beruntung keluargaku bisa terima semuanya dengan biasa-biasa saja.

Hanya sehari dua aku telah bisa menetralisir semua rasaku, aku mulai introspeksi diri, mungkin caraku salah, aku terlalu yakin dengan kemauan hati sendiri, hingga aku tak libatkan Allah lagi. Aku ingin di cintai karena Allah tapi aku tak minta Allah pilihkan, aku hanya pinta Allah yakinkan. Kini Allah berikan aku kesempatan kembali untuk semakin sering berdialog dengan-NYA agar aku selalu menghadirkan-NYA dalam setiap rencana yang ku damba. Mungkin Allah ingin aku tahu bahwa jodohku bukanlah dirimu. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Januarita Sasni, S.Si, SGI. Lahir di Sumatera Barat pada tanggal 25 Januari 1991. Menyelesaikan Pendidikan menengah di SMAS Terpadu Pondok Pesantren DR.M.Natsir pada tahun 2009. Menyelesaikan Perguruan Tinggi pada Jurusan Kimia Sains Universitas Negeri Padang tahun 2014. Menempuh pendidikan guru nonformal pada program Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa (SGI DD) sejak Agustus 2014 hingga Januari 2015, kemudian dilanjutkan dengan pengabdian sebagai relawan pendidikan untuk daerah marginal hingga Januari 2016. Sekarang menjadi laboran di Lab. IPA Terpadu Pondok Pesantren Daar El Qolam 3 sejak Februari 2016. Aktif di bidang Ekstrakurikuler DISCO ( Dza ‘Izza Science Community) sebagai koordinator serta pembimbing eksperiment dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah. Tergabung juga dalam jajaran redaksi Majalah Dza ‘Izza. Mencintai dunia tulis menulis dan mengarungi dunia fiksi. Pernah terlibat menjadi editor buku “Jika Aku Menjadi” yang di terbitkan oleh Mizan Store pada awal tahun 2015. Salah satu penulis buku inovasi pembelajaran berdasarkan pengalaman di daerah marginal bersama relawan SGI DD angkatan 7 lainnya. Kontributor tulisan pada media online (Dakwatuna.com) sejak 2015.

Lihat Juga

Manisnya Ramadhan

Figure
Organization