Home / Berita / Surat Pembaca / Surat “Cinta” untuk Saudaraku, Buni Yani: Innallaha Ma’ana

Surat “Cinta” untuk Saudaraku, Buni Yani: Innallaha Ma’ana

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (telltalecreations.com)
Ilustrasi. (telltalecreations.com)

dakwatuna.com – Bismillahirrohmaanirrohim…

Setelah menonton acara ILC @TVone semalam (11/10/16), masih ada yang mengganjal di hati selain dari sikap “ngambang” sang Presiden ILC (Karni Ilyas) yang selalu membujuk umat Islam untuk ikhlas memaafkan Ahok atau dengan kata lain tidak meneruskan proses hukum terhadap Ahok. Perasaan yang mengganjal itu adalah “lemah”nya Sdr. Buni Yani selaku pengunggah video Ahok, ketika menghadapi laporan terhadap dirinya kepada pihak kepolisian yang dilakukan oleh para pemuja Ahok (Ahokers).

Di mana semalam beliau dan tim kuasa hukumnya mengatakan bahwa beliau sangat ketakutan dan sampai gemetaran masuk ke kantor polisi, karena merasa “riwayat”nya sudah tamat akibat laporan tersebut. Sebagai saudara seiman dan seakidah, terus-terang saya menaruh simpati yang mendalam kepada Sdr. Buni Yani atas apa yang menimpanya saat ini. Namun di samping itu ada beberapa point juga yang ingin saya bahas dan soroti, sebagai berikut :

  1. Sebagai seorang muslim yang memegang teguh syahadatnya, harusnya Sdr. Buni Yani tidak perlu merasa takut dengan apapun dan kepada siapa pun termasuk para Ahokers. Sebab menurut saya tindakannya itu sudah sangat benar dan tepat dengan menyebarkan video yang berisi penistaan agama Islam yang dilakukan oleh seorang pejabat negara dalam hal ini adalah Ahok. Ini merupakan bentuk kepekaan seorang Buni Yani yang merasa terusik keimanannnya, akibat dari perbuatan jahat orang lain yang telah menistakan agamanya (Islam). Dan ini sangat dibenarkan dalam agama manapun juga, lebih-lebih agama Islam. Ini juga merupakan bentuk “jihad fi sabilillah” seorang Buni Yani, yang apabila akibat dari keberaniannya ini dia ditakdirkan mati, maka matinya itu adalah syahid dan jaminannya adalah jannah (surga)..!!!
  2. Sebagai seorang akademisi, harusnya pula Sdr. Buni Yani tidak perlu gentar. Sebab apa yang sudah dilakukannya adalah bentuk kepeduliannya terhadap kelangsungan pendidikan di negeri ini. Ingat, bukan sekali ini saja Ahok bersikap dan bertindak semena-mena dengan melontarkan berbagai ucapan yang berbau kebencian, permusuhan dan juga SARA? Apakah pantas seorang pejabat publik mengucapkan kata-kata kotor dan tak bijak di depan khalayak ramai atau media, yang mana bisa jadi sikap dan ucapannya itu nanti akan ditiru oleh orang lain yang merasa setuju ataupun tidak setuju dengan dirinya? Bukankah seorang pejabat atau “public figure” itu harus mampu memberikan contoh (teladan) yang baik kepada masyarakat, bukan justru sebaliknya? Inilah yang harus disadari dan dipahami oleh Sdr. Buni Yani.
  3. Sebagai seorang mantan jurnalis, seharusnya sebelum mengunggah dan menyebarkan video tersebut, Sdr.Buni Yani sudah bisa meraba dan memprediksi bahwa apa yang dilakukannya ini pasti akan mendatangkan feedback (umpan balik) dari masyarakat yang menonton video tersebut, terutama dari umat Islam. Pasti akan ada banyak reaksi yang muncul setelah video itu tersebar, baik pro maupun kontra. Jika reaksi itu datangnya dari umat Islam yang lurus keimanannya, pasti akan mendukung dan membelanya sekaligus juga akan mengecam tindakan Ahok. Namun jika reaksi itu datangnya dari para pemuja Ahok (baik muslim/bukan), pasti Sdr. Buni Yani akan mereka bully bahkan juga tidak tertutup kemungkinan ada yang mengancam ataupun mungkin main kekerasan terhadap Sdr. Buni Yani. Hal yang sangat wajar, dan itu pasti terjadi. Akan tetapi bukankah semua itu adalah “resiko” yang harus dihadapi dan ditanggung oleh Sdr. Buni Yani, yang apalagi jika mengingat kasus ini menyentuh wilayah sensitif keberagamaan seseorang atau sekelompok orang? Harusnya Sdr. Buni Yani sudah menyadari betul hal ini, jadi tak perlu kaget atau merasa sangat khawatir dengan segala bentuk reaksi yang timbul. Pun tak perlu takut dengan keselamatan dirinya. Ingat, apapun resikonya (baik atau buruk) hadapi saja dengan tenang dan tunjukkan kepada para pemuja Ahok bahwa anda tidak gentar sedikitpun kepada segala bentuk ancaman/intimidasi mereka.

Terakhir, saya ingin mengatakan kepada Sdr. Buni Yani bahwa saat ini saya dan seluruh umat Islam di Indonesia (bahkan mungkin di dunia) mengapresiasi serta bersimpati kepada anda. Kami ada bersama anda untuk membela agama ini, kami berjuang bersama anda. Jangan takut, jangan gentar, jangan kecut, jangan tunduk kepada apapun dan siapa pun juga. Kita punya Allah yang siap menjaga kita. Allah tidak tidur juga tidak buta dan tuli. Allah pasti akan membalas semua perbuatan (amalan) kita sekecil apapun yang kita buat.

Saudaraku Buni Yani, ingatlah… hidup ini hanya sekali dan jiwa kita adalah milik Allah, takkan ada yang bisa merampasnya kecuali dengan seijin Allah azza wajalla. Kita, Ahok, Ahokers, kepolisian atau siapa saja pasti akan mati. Jika Allah sudah berkehendak, takkan ada yang mampu menghalanginya. Termasuk hidup dan mati kita cuma Allah yang menguasainya, kun fayakun kata Allah…jadilah maka terjadilah. Dan setelah mati kita semua akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah terhadap semua amalan yang kita buat selama hidup di dunia. Mari kita isi hidup yang cuma sekali ini dengan amal sholeh yang diniatkan untuk beribadah kepada Allah semata. Bukankah kita semua ingat dan sudah sangat hafal dengan pesan Allah ini bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang mampu memberikan manfaat bagi sekitarnya?

Jadi saudaraku Buni Yani, teruslah berjuang dengan keyakinan yang benar. Jangan pernah berhenti sedetikpun dan jangan pernah mundur selangkahpun, sampai Allah sendiri yang menghentikannya. Sekali lagi ingatlah bahwa saya beserta umat Islam lainnya selalu bersama anda dan orang-orang yang berjuang di jalan-Nya, yang telah mengikhlaskan jiwa dan raganya untuk agama yang mulia ini (Islam). Barang siapa yang menolong agama Allah, maka Allah pasti akan menolongnya. Yakinlah, Allah pasti bersama kita…!!!

Selamat berjuang, Saudaraku…doa kami selalu menyertaimu. Semoga Allah melindungi dan meridhoi setiap niat dan perjuangan kita…aamiin… Allahu Akbar..!!

*note : semoga Sdr. Buni Yani berkenan dengan isi surat ini dan mohon dimaafkan lahir – batin jika ada yang salah dalam penyampaiannya.

Surat ini juga saya tembuskan kepada Sdr. Buni Yani melalui inbox di akun FB miliknya (saya belum bisa mengirim ke kronologinya, karena belum berteman dengannya di FB ini. Tapi saya sudah meng-add beliau, mudah-mudahan setelah ini beliau mau merespon dan menerima pertemanan saya), sebagai bentuk simpati, kepedulian dan dukungan moril saya kepada Sdr. Buni Yani.

Pamulang, 12 Oktober 2016
Salam jihad dari saudaramu.

(dakwatuna.com/hdn)

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Ibu rumah tangga dengan 5 orang anak.Terus berkarya, baik dalam diam maupun bergerak, tak ada kata berhenti sampai Allah yang menghentikannya, tetap tegar walau badai menghadang.

Lihat Juga

Semusim Cinta, Ajang Menambah Ilmu dan Silaturahim Akbar WNI Muslimah Se-Korea Selatan

Organization