Home / Berita / Opini / Penistaan Agama: Ki Panji Kusmin, Salman Rushdi, dan Ahok

Penistaan Agama: Ki Panji Kusmin, Salman Rushdi, dan Ahok

Ahok
Dalam pertemuan dengan masyarakat Kepulauan Seribu pada Rabu (28/9) itu, Ahok menyatakan bahwa masyarakat bisa jadi tidak memilih dirinya karena “dibohongin oleh surat Al Maidah 51 macem macem itu” (tribunnews.com)

dakwatuna.com – Pada edisi No. 8 bulan Agustus tahun 1968, majalah sastra “Horison” memuat sebuah cerita pendek (cerpen) karya Ki Panji Kusmin. Cerpen itu berjudul, “Langit Makin Mendung”. Cerpen itu sangat menyinggung umat Islam sebab kisahnya diawali dengan cerita para nabi yang bosan hidup di surga.

“Refreshing sangat perlu. Kebahagiaan berlebihan djustru siksaan bagi manusia jang biasa berdjuang. Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir-bibir kami sudah pegal-pegal kedjang memudji kebesaranMu; beratus tahun tanpa henti.

Membatja petisi para nabi, Tuhan terpaksa menggeleng-gelengkan kepala, tak habis pikir pada ketidakpuasan di benak manusia… Dipanggillah penanda-tangan pertama: Muhammad dari Medinah, Arabia. Orang bumi biasa memanggilnya Muhammad SAW….”

Itulah, antara lain, sepenggal kisah dari “Langit Makin Mendung” yang membuat umat Islam meradang. Buya Hamka menyatakan, cerita itu telah menistakan agama. Sementara HB Jassin sebagai Ketua Redaksi Majalah Horison bersikukuh bahwa sastra tak dapat dipidanakan. Dan atas nama kerahasiaan penulis, HB Jassin tak pernah mau membuka siapakah Ki Panji Kusmin. Sebagian orang mengatakan Ki Panji Kusmin adalah HB Jassin sendiri.

Faktanya, karya “sastra” itu telah menimbulkan keresahan masyarakat, maka, HB Jassin ditangkap, dan didakwa Jaksa telah melakukan penistaan agama.  Oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, HB Jassin divonis satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun.

**

Pada tahun 1988, Salman Rushdi menjadi manusia paling dicari di kolong jagat bumi. Pasalnya, Ayatullah Rahullah Khomaini, pemimpin spiritual Iran, memfatwakan “sepuluh juta dolar” bagi siapa saja yang bisa memenggal kepala Rushdi.

Salman Rushdi, seorang sastrawan Inggris berdarah India, baru saja meluncurkan novel yang menyinggung umat Islam. Novel itu berjudul, “The Satanic Verses” atau “Ayat-ayat Setan”. Bagian yang diyakini paling menistakan agama adalah, antara lain:

  1. Rushdi menggambarkan bahwa Nabi Muhammad SAW (dia menyebutnya dengan kata “Mahound”) telah salah menerima wahyu yang ternyata datang dari Setan.
  2. Rushdi menggambarkan para istri Nabi Muhammad SAW sebagai pelacur. Pada sequence yang lain, dia menceritakan mimpi Aisyah di India yang akan mengajak orang ke Mekah untuk berhaji. Mereka melewati sungai lalu lenyap ditelan air. Orang-orang percaya Aisyah sudah sampai Mekah.

Kini, Salman Rushdi bergelar “Sir” di Inggris. Sebuah gelar bangsawan yang disematkan oleh Sang Ratu untuk mereka yang dianggap sukses membangun peradaban.

*

Dua cerita di atas adalah contoh penistaan agama yang menggunakan sastra sebagai media. Sebagian orang berargumen, sastra tak boleh dipidanakan sebab ia merupakan ekspresi kebebasan berpikir.

Bagi saya, sastra seharusnya memperlembut jiwa, bukan merusak pola dan rasa. Sastra seharusnya memperkaya ruang batin kita yang miskin akibat keserakahan umat manusia. Sastra adalah katalisator pembangkit kekuatan rasa untuk bergerak maju ke depan, membebaskan manusia dari belenggu kemalasan.

Hanya dari pemahaman seperti itulah, peran sastrawan dalam membangun peradaban ditentukan. Maka sastra yang menyakiti adalah sembilu yang lebih tajam dari belati; menghunus hingga ke lubuk sanubari, membekas tanpa luka, menikam berbilang tahun lamanya.

Ketika Al-Quran diturunkan, masyarakat Arab jahiliah adalah pemuja sastra. Setiap tahun, tujuh karya puisi terbaik mereka gantungkan di Ka’bah sebagai bentuk apresiasi. Karya yang selalu dipuja, antara lain, adalah karya Umrul Qais.

Guntingannya,

ألا أيّها اللّيلُ الطّويلُ ألا انْجَلي * بصُبْحٍ وما الإصْباحَ مِنك بأمثَلِ

“Wahai malam yang panjang, bilakah kau akan tergantikan dengan pagi?_ * bergantikan subuh walaupun tiada pagi seindah dirimu”.

Tetapi, sastra (dan sastrawan) acapkali mengikuti (dan diikuti) hawa nafsunya. Sehingga Al-Quran mengingatkan:

وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ (٢٢٤)أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ (٢٢٥)وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لا يَفْعَلُونَ (٢٢٦)إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانْتَصَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ (٢٢٧)

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.** tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap- tiap lembah ** dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)? * kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali”. (QS As-Syua’ra: 224-227).

Penistaan agama dengan bahasa sastra saja harus dibawa ke muka hukum, maka penistaan agama dengan bahasa yang kasar, lebih pantas untuk mendapatkan keadilan. Sebagai orang yang diduga melakukan tindak pidana penistaan, Ahok harus dibawa ke muka peradilan, agar terang benderang segala maksud ucapannya. Ingat, Ahok adalah seorang pejabat negara, dan ucapannya, “dibohongi pake surah al-Maidah 51″ menusuk hingga ke ulu hati.

Penistaan agama adalah ranah pidana, dan sebuah tindak pidana tidak hapus dengan sekedar permintaan maaf. Misalnya, si-A diduga mencuri, lalu karena ketahuan, Si-A mengembalikan barang curiannya dan meminta maaf. Walaupun si-B sebagai pemilik barang telah memaafkan, tindak pidana pencurian yang diduga dilakukan oleh Si-A tidak hapus.

Maka, dugaan tindak pidana penistaan agama yang dilakukan Gubernur Ahok harus tetap diproses oleh kepolisian. Lalu, biarkan hakim yang akan memutuskan apakah perbuatan Ahok melanggar UU (PNPS) No. 1 tahun 1965 ataukah tidak. Jika setiap dugaan perbuatan pidana berakhir bersama permohonan maaf, betapa kacaunya sistem hukum di negeri ini.

Wallahua’lam. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Menyelesaikan pendidikan dasar di Pondok Pesantren Attaqwa, Bekasi. Lalu melanjutkan studi ke International Islamic University, Pakistan. Kini, dosen di Fakultas Hukum Universitas Djuanda, Bogor. Email: [email protected] Salam Inayatullah Hasyim

Lihat Juga

Din Syamsuddin: Agama Harus di Praktekkan dalam Kehidupan Sehari-hari

Organization