Topic
Home / Berita / Silaturahim / 29 Pahlawan Berlatarbelakang Santri

29 Pahlawan Berlatarbelakang Santri

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Bedah Buku Pahlawan Santri, Tulang Punggung Pergerakan Nasional. Acara ini digelar di aula perpustakaan, Universitas negeri Malang. (fadhaa)
Bedah Buku Pahlawan Santri, Tulang Punggung Pergerakan Nasional. Acara ini digelar di aula perpustakaan, Universitas negeri Malang. (fadhaa)

dakwatuna.com – Jelang peringatan Hari santri,  pada 5 oktober 2016 PCNU Kota Malang menggelar Bedah Buku: Pahlawan Santri, Tulang Punggung Pergerakan Nasional. Acara ini digelar di aula perpustakaan, Universitas negeri Malang. Hadir dalam acara ini moderator Dr M. Faisol Fatawi,  Penulis buku Munawir aziz, dan Prof Dr. Djoko saryono. Selain itu, hadir pula dosen Fakultas Syariah UIN Malang, Dr. KH. Isyroqunnajah.

Aula perpustakaan disesaki pengunjung baik dari GP Anshor, dosen UIN Malang delegasi/utusan pesantren sekitar kota Malang, ibu-ibu Fatayat, guru-guru TPQ dan Madrasah diniyyah. Bedah buku dimulai pk 10.00 wib dan diakhiri saat adzan Dhuhur berkumandang. Baik penulis dan pembedah buku diberi kesempatan selama 20 menit untuk memaparkan telaah atau argumentasinya.

Perlu diketahui pembaca, Mas munawir adalah alumni CRCS, Pascasarjana UGM dan menjadi editor salah satu buku yang diterbitkan oleh Penerbit Nasional. Dengan mengenakan batik madura dan berpeci hitam, Alasan Mas munawir menulis buku setebal 224 halaman ini adalah “untuk melengkapi mozaik sejarah kebangsaan. Khususnya dimana posisi santri” ujarnya.

Selama ini, dalam buku sejarah Nasional terutama karangan Prof Dr. Nugroho Notosusanto, ada semacam marginalisasi peranan pahlawan berlatar santri. Uniknya, sebelum menuliskan profil Kyai yang berjasa dalam memerdekakan bangsa, Mas munawir mengaku terlebih dahulu ziaroh dan tawasul ke makam para kyai.

Isi buku yang pada tahun 2015 pernah dibedah di Perpustakaan DKI jakarta tersebut mengulas peranan 29 tokoh. Ditinjau dari tempat kelahiran dan domisilinya, sebagian kecil dari Aceh, Sumatera, Madura, Kalimantan dan Lombok. Mayoritas dari pulau Jawa.

Pahlawan di pulau Jawa yang diulas dalam buku ini diantaranya KH. Hasyim asy’ari, KH. Wahab Hasbulloh, KH Wahid hasyim dan KH. As’ad Samsul arifin. Tiap tokoh mendapat porsi 4 hingga 6 halaman.

Prof Djoko saryono mengomentari, “Buku ini tergolong bacaan sejarah popular. Belum memenuhi kaedah ilmiah seperti dilengkapi catatan kaki dan analisis tajam”. Beliau berharap ada revisi dan penambahan tokoh terutama di wilayah NTT, Maluku dan Papua. Tidak menutup kemungkinan di wilayah Indonesia bagian timur terdapat Pahlawan berlatarbelakang Santri.

Sekilas saat membaca isi buku ini, cukup melihat cover buku dan daftar bisa diketahui bahwa penulisnya tidak mengulas profil Pahlawan dari Muhammadiyah, Persis dan al-Irsyad. Saya memaklumi karena penulis buku ini warga Nahdliyin. Perlu diingat, kultur agama amat mempengaruhi seseorang dalam kepenulisan buku.

Pahlawan berjenis kelamin perempuan juga tidak ditampilkan dalam buku ini. Bukankah RA Kartini termasuk santrinya Kyai Soleh darat di Semarang. Kyai soleh Darat juga gurunya pendiri Muhammadiyah dan NU. Belum lagi ada tokoh bernama Rasuna said. Beliau santri dari ayahanda Buya hamka yakni Haji rasul, mahir berbahasa arab bahkan ahli pidato dan berdebat (lihat buku Ulama perempuan Indonesia, 2002, hal 73-74). Mengapa hal ini luput dari perhatian penulisnya?. Selanjutnya, bila memeriksa daftar Pustaka, buku ini tidak merujuk buku “sejarah Umat Islam” karangan buya Hamka dan buku Api sejarah (2 jjlid) karangan Prof Ahmad mansyur Suryanegara. Kedua buku ini amat berbobot dan relevan untuk dijadikan rujukan dalam daftar pustaka.

Diantara 29 tokoh pahlawan berlatarbelakang santri, ada satu tokoh yang menarik perhatian saya yakni KH Abdullah bin nuh. Sepanjang hidupnya dikenang sebagai sastrawan, pendidik dan pejuang. Namanya diabadikan sebagai nama jalan raya dari cianjur menuju Sukabumi. Hanya 4 halaman profil KH abdullah bin Nuh diulas oleh Mas munawir. Sayangnya, tidak mengulas peran beliau dalam membawa paham Hizbut Tahrir ke Indonesia (lihat buku Pahlawan santri, hal 121-124). Sebelum mengakhiri tulisan ini, bedah buku ditutup puisi yang dibacakan Prof Djoko saryono. “Ya allah Yang maha literasi. Semoga buku yang kami tulis, serupa kapal nabi Nuh yang bisa menyelamatkan umat manusia“. Wallahu’allam bishowwab. (fadhaa/SaBah/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Fadh Ahmad Arifan
Alumni Jurusan Studi Ilmu Agama Islam di Pascasarjana UIN Malang. Pasca lulus, pada 2013-2015 menjadi Dosen tetap di STAI al-Yasini, Pasuruan. Sejak Februari 2015, menjadi Pengajar Sejarah Kebudayaan Islam di MTs-MA Muhammadiyah 2 kota Malang. Telah mengunggah lebih dari 50 karangan populer dan ilmiah, terutama di bidang Pemikiran Islam, Filsafat, Tasawuf dan Politik. Artikel terbaru berjudul 'Para Penguasa Suriah Dalam Catatan Sejarah' dimuat di Majalah Tabligh bulan April 2018

Lihat Juga

Keikhlasan Dalan Kerja Dakwah

Figure
Organization