Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Dunia Dikejar, Akhirat Ditinggal

Dunia Dikejar, Akhirat Ditinggal

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (irontreedesigns.co.uk)
Ilustrasi. (irontreedesigns.co.uk)

dakwatuna.com – Sore itu di sebuah kawasan bisnis perkantoran ibukota, waktu menunjukkan masuk  shalat Ashar dan adzan mulai dikumandangkan dari seluruh penjuru bumi Allah yang maha luas. Panggilan Sang Maha Pencipta telah tiba, panggilan yang dengan itu Allah bukakan sesi tanya jawab, dialog dan curhat bagi hamba-Nya yang rindu akan panggilan Rabb-Nya. Saat itu ada yang masih sibuk di depan layar komputernya mengutak-atik perkerjaan yang dikejar deadline, padahal ia mendengar adzan itu dengan jelas dari masjid seberang kantornya, namun syaitan berhasil melalaikannya.

Sebut saja namanya si Bujang, sudah sebulan ini ia bekerja demi menggapai cita-citanya yang ingin menikah muda. Segala daya dan upaya ia kerahkan untuk mengumpulkan lembaran demi lembaran rupiah untuk meyakinkan calonnya bahwa ia sudah setengah mapan. Hebatnya, si bujang ini sudah (banyak) paham tentang keutamaan menikah (saat) muda yang tidak hanya untuk menyempurnakan setengah agama dan mengikuti sunnah Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tetapi Si Bujang juga mengharapkan rumah tangga yang samara serta menghasilkan generasi yang rabbani.

Apalah artinya daya dan upaya manusia tanpa pertolongan dari Allah. Tanpa sadar Si Bujang terlena akan harta dunia yang baru saja ia raih, ia selalu terlambat shalat Ashar lebih dari satu jam karena pekerjaan kantor yang tidak bisa ia tunda dan memang benar-benar tidak bisa ditunda. Ia mengabaikan panggilan yang memudahkannya di setiap jalan dan rintangannya, tapi nyatanya Si Bujang malah menggadaikan ibadahnya demi setetes kenikmatan dunia. Lalu apakah lantas Allah akan menyegerakan cita-citanya bila panggilan Tuhannya saja sering diabaikan?

Ilmu adalah penyelamat dari segala kebodohan dan kelalaian, ilmu adalah penyelamat bagi orang-orang yang tenggelam dalam dunia. Lihatlah selalu orang-orang di bawah kita, lihat para pejalan kaki dan yang tak punya kaki itu berjuang keras menghadapi dunia untuk sekedar mengais nikmat dan rezeki dari Sang Illahi. Carilah dan kejarlah dunia sesuai dengan kebutuhan, tidak berlebihan, tidak serakah buta. Namun jangan berhenti sampai di situ, jadikanlah akhirat sebagai tujuanmu yang paling besar. Bila dunia mulai menggoda dan memanggilmu, kencangkan keimanan dan ketaatanmu terhadap Allah. Keluarlah dan kejarlah sebatas kebutuhanmu, bukan sebebas hawa nafsumu. Carilah makan, minum, pakaian, dan tempat berlindung dengan cara yang halal dan thayyib, maka dengan itu Allah akan mencukupi dan memberkahi kebutuhan duniamu layaknya seekor burung yang pergi di pagi hari dengan perut kosong dan kembali di sore hari dengan membawa rezeki dan nikmat yang Allah beri.

Menjadi kaya raya di jaman sekarang ini sudah menjadi standar kesuksesan dunia yang menyesatkan diri. Islam tidak melarang umatnya untuk mencari dunia dan menjadi kaya raya. Umat ini memiliki banyak contoh dari orang-orang yang memiliki banyak harta dunia seperti sahabat Nabi yang paling utama dan dijamin surga, yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq, Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Mereka adalah para pengusaha sukses, miliarder dari umat ini. Namun apakah dengan harta itu mereka lantas lalai? Apakah mereka mendapatkan dan mencari hartanya itu dengan pergi pagi lalu pulang di pagi hari lagi? Demi Allah tidak. Mereka adalah teladan terbaik sepanjang masa bagi orang-orang kaya saat ini. Harta yang mereka dapat, banyak atau sedikit selalu disyukuri dan tidak menjadikan mereka lalai akan dunia. Justru sebaliknya, mereka tamak dan rakus akan akhirat. Harta yang telah mereka keluarkan di jalan Allah tidak pernah habis, malah terus bertambah banyak, Allah balas berkali-kali lipat. Sungguh Allah telah menurunkan ketenteraman dan kelapangan hati kepada mereka yang selalu bersyukur. Itulah konsep dan prinsip yang kita cari selama ini.

Para sahabat bukanlah tipe pecinta dan budak dunia yang kita bayangkan seperti manusia di zaman ini yang membanting tulang di pagi, siang, malam, keluarga terabaikan, Tuhan ditinggalkan, uang di-Tuhan-kan. Sungguh merugilah mereka para budak dunia. Sudah berapa banyak buku motivasi dan motivator di televisi yang sudah kita teladani? Sudah berapa banyak seminar pengembangan diri yang diikuti? Adakah perubahan dalam diri ini? Bila cita-cita ingin menjadi orang kaya, contohlah para sahabat Nabi yang dengan itu dunia dibuat tunduk di atas keimanan dan ketaatan kepada Dzat pemilik seluruh kekayaan. Sungguh, akhirat adalah tempat pulang terbaik, yang di dalamnya terdapat surga yang sudah rindu untuk dihuni dan dinikmati bagi orang-orang yang bertakwa dan bersabar. Wallahu ‘alam. (dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 1,00 out of 10)
Loading...

Hamba Allah, Pendekar ilmu dan Pendidik di bumi pertiwi.

Lihat Juga

Si Kecil Omran, Durrah, dan Tangisan Dunia