Topic
Home / Narasi Islam / Sosial / Masjid Ramah Anak

Masjid Ramah Anak

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Ramadhan di Masjid Al-Hikmah, Jakarta Selatan (Al-Hikmah)
Ilustrasi – Ramadhan di Masjid Al-Hikmah, Jakarta Selatan (Al-Hikmah)

dakwatuna.com – Namanya anak-anak. Kesukaannya bermain. Kebahagiaan mereka adalah pada saat bermain. Mereka senang bermain di mana saja. Bahkan pada saat mereka ke masjid. Akhirnya ada pengurus masjid yang keberatan dengan kedatangan anak-anak ke masjid. Bahkan beberapa masjid memasang pengumuman tentang larangan anak-anak ke masjid. “Anak-anak dilarang ke masjid”. Begitu tulisan pengumuman itu. Anak-anak dianggap hanya membuat gaduh dan mengganggu kekhusyukan jamaah shalat.

Ketika ada anak yang datang ke masjid, pengurus sudah memberikan peringatan atau ancaman agar tidak ribut di masjid. Kepada anak-anak yang ribut, pengurus tidak segan-segan menghardik, membentak, atau menghukum anak-anak. Ada pula alasan lain melarang anak-anak ke masjid karena mereka dianggap belum baligh (dewasa). Mereka belum wajib untuk salat jamaah di masjid.

Begitu pun ketika sudah di masjid anak-anak masih mendapat perlakuan diskriminasi. Mereka dianggap tidak layak berada di shaf terdepan walaupun mereka datang sejak awal. Padahal hak mendapatkan shaf terdepan adalah untuk mereka yang datang sejak awal. Bukan berdasarkan usia.

Sekilas larangan ini benar adanya. Padahal larangan ini termasuk berlebihan dan tidak bijaksana. Banyak mudharat yang ditimbulkan. Banyak dampak negatif dibelakangnya.

Mari kita lihat perilaku Rasulullah dalam memuliakan anak-anak ketika di masjid. Rasulullah bahkan membawa cucu beliau yaitu Hasan dan Husen ke masjid. Rasulullah mengajarkan mereka untuk terbiasa ke masjid. Rasulullah pernah sujud dalam waktu yang lama karena pada saat itu cucu beliau sedang menaiki punggungnya. Tengoklah. Rasulullah saat sujud tidak merasa terganggu saat dinaiki punggungnya. Rasulullah tidak menurunkan cucu beliau dan tidak pula marah.

Inilah panduan kita. Betapa pun ributnya anak-anak di masjid, kita tidak boleh berlaku kasar atau berkata keras kepada mereka. Namanya juga anak-anak. Bagi mereka bermain adalah sebuah kebahagiaan. Hadapi mereka dengan kelembutan dan keramahan. Nasehati mereka dengan bijaksana. Raih hati mereka agar nasehat kita mengena di hati mereka.

Rasulullah SAW juga mengatakan, “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun. Dan pukullah mereka jika enggan melakukannya pada usia sepuluh tahun….” (HR Ahmad). Kebiasaan shalat ke masjid tidak serta merta dilakukan. Kebiasaan itu perlu dimulai sejak dini. Mereka perlu dilatih sejak kecil. Dan kelak ketika mereka sudah baligh (dewasa) maka sudah terbiasa dengan masjid.

Justru akan timbul mudharat (kerugian) ketika anak-anak dilarang ke masjid. Mereka akan mencari tempat pelarian lain. Pada akhirnya mereka memilih pergi ke warnet, mall, atau tempat hiburan lainnya. Jalanan menjadi alternatif tempat bermain. Mungkin ini pula yang menjadi sebab anak-anak zaman sekarang lebih sering dijumpai di tempat-tempat hiburan ketimbang di masjid. Ditambah lagi jika sambutan penjaga tempat hiburan itu jauh lebih ramah, murah senyum dan bersahabat daripada penjaga masjid. Akhirnya mereka mengambil kesimpulan lebih baik di tempat seperti itu.

Sambutan penjaga masjid yang tidak ramah menimbulkan kesan bahwa masjid adalah tempat yang angker dan eksklusif. Mereka datang ke masjid hanya pada saat-saat tertentu misalnya salat tarawih di bulan ramadhan atau shalat hari raya. Kondisi ini menyebabkan regenerasi pengurus masjid terhambat. Sebab mereka kesulitan mencari anak muda yang mau datang ke masjid. Anak muda malas datang ke masjid akibat kesan buruk di masa anak-anaknya.

Masjid sebagai simbol agama seharusnya mencerminkan ajaran agama itu sendiri yaitu kasih sayang dan keramahan. Masjid-masjid pun hendaknya berbenah. Mengizinkan anak-anak datang ke masjid. Tidak mengapa mereka bermain di masjid. Lebih baik mereka berada di masjid daripada berada di lain tempat yang menjauhkan mereka dari agama.

Agar mereka tertib dan tidak ramai di masjid mungkin kita bisa mengupayakan solusinya. Pertama, sediakan arena bermain untuk anak. Di beberapa masjid sudah melakukannya. Memberikan akses bermain untuk anak. Ada kolam bola, perosotan, atau balon pada sudut masjid. Bahkan ada masjid yang menyediakan minum gratis atau pampers gratis. Pelayanan yang keren sekali. Kedua, pembinaan oleh orang tua. Di rumah orang tua memberikan penanaman nilai tentang adab-adab di masjid. Di antaranya tenang, tidak membuat gaduh atau mengganggu orang shalat. Ketiga, manajemen shaf. Anak-anak diberikan shaf di antara orang dewasa agar dapat mengawasi dan mendisiplinkan mereka. Tentu mereka tidak mau ribut jika ada orang tua di dekatnya. Keempat, pengurus masjid senantiasa tidak bosan memberikan imbauan kepada jamaah masjid. Nasehat yang berulang-ulang diharapkan dapat dimengerti, dipahami dan diterapkan.

Penting sekali membuat anak betah di masjid. Agar mereka menjadi generasi muda yang hatinya terpaut dengan masjid. Jika hati mereka sudah terpaut dengan masjid, kita tidak susah melarang anak-anak ke warnet, mall, tempat hiburan, atau konser musik yang tidak penting. Pada akhirnya kenakalan remaja dan perilaku menyimpang lain dapat diminimalisir. Mari buat masjid kita menjadi tempat yang ramah, aman, bersih dan menyenangkan bagi anak-anak.

Kesimpulannya, membawa anak-anak ke masjid adalah sunnah Rasulullah. Tapi mengusir anak-anak bukan sunnah Rasulullah. Patut kita renungkan perkataan Muhammad Al-Fatih, penakluk Konstantinopel (Turki-sekarang), “Jika suatu masa kamu tidak mendengar gelak tawa anak-anak, riang gembira di antara shaf shalat di masjid-masjid, maka sesungguhnya takutlah kalian akan datangnya kejatuhan generasi muda di masa itu..” (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Guru di SMP Islam Terpadu Darul Hikmah Pasaman Barat. Menuntut ilmu di Universitas Andalas, Padang.

Lihat Juga

Seminar Nasional Kemasjidan, Masjid di Era Milenial

Figure
Organization