Topic
Home / Pemuda / Cerpen / Kisah Si Gadis Es dan Mentoring

Kisah Si Gadis Es dan Mentoring

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (spinning-stars.deviantart.com)
Ilustrasi. (spinning-stars.deviantart.com)

dakwatuna.com – Ini adalah kisah tentang seorang gadis pecicilan, pencarian dalam hidup, juga kata ajaib yang melaluinya gadis pecicilan yang nyaris hopeless bin ngenes itu berubah. Dan kata itu adalah

‘Mentoring’

Berawal dari sebuah rasa

Cinta? Hmm.. gak pernah basi sih tu topik but bukan itu guys. Bukan kek cerita-cerita film dimana tokoh utama jatuh cinta ama pemuda soleh lalu ujug-ujug belajar agama supaya si pemuda meliriknya, indak! La! La.. la.. la nahtajul maalaa* # lah ko saya jadi nyanyi ya? Abaikan ^^

Daaan, rasa yang dirasakan gadis yang kuceritakan ini adalah..

I-R-I

Yup, iri pemirsah!  Alhamdulillah bukan dengki ^^

Mulai tertarik dengan kisahnya? Ok silakan merapat dan siapkan cemilan, yang gak punya boleh minta ke temen nya hehe..

Ehem. Back to the girl

Alkisah ada seorang gadis yang kuper abis, cuek bebek, dan bisa dibilang anti sosial meski waktu itu media sosial belum sebooming sekarang. Tapi doi tetep punya temen yang cukup deket sih meski keitung jari dan mereka gak sering bersama. Kenapa? Karena gadis itu seolah punya dunianya sendiri#bukan autis loh ya! Doi lebih banyak ngabisin waktu di perpus sampai-sampai hampir semua buku (cerita) di sekolahnya habis dia baca. Sisa harinya dia habiskan buat baca komik dan nonton film di laptopnya. Dan jika kebanyakan orang gak tahan kemana-mana sendiri, dia justru menikmati kesendirian nya.

Tiga tahun dia sekolah di SMA favorit di kotanya, selama itu pula ia merasa ada kekosongan dalam hatinya (Kayak ada lubang-lubangnya gitu kalo dia disuruh ngedeskripsiin). Gadis itu ngerasa hidupnya hampa. Padahal dia hanya melakukan hal-hal yang disukainya loh! Sampe-sampe nilai-nilai sekolahnya terjun bebas saking cueknya dia pada PR dan tugas.

Gadis itu bener-bener menderita, hidup tapi berasa mati. Dan semua rasa sesak itu ia bawa lari pada satu-satunya tempat yang membuatnya merasa lebih hidup sejenak, ekskul Pencinta Alam (PA). Alhamdulillah dia justru belajar berpegang teguh hanya pada Allah lewat ekskul ini meski gadis itu masih juga merasa ada yang kurang dalam hidupnya.

Loh terus sebelah mana mentoringnya? Do.. sabar bro -,-

Nah, ekskul yang membawanya berpetualang dan nyasar ke banyak tempat ini ternyata menjadi jalan pula baginya mengenal salah satu sohibnya yang lewatnya Allah hadirkan jalan hidayah itu.

Sebut saja dia Careuh, sohib gadis es itu di ekskul PA yang paling bawel kaya emak-emak hoho.

Suatu hari ketika mereka sudah menginjak kelas XII, careuh datang dengan penampilan berbeda. Dia jadi lebih sering pake rok ama kaos kaki, padahal bisa dibilang dulu dia lebih tomboy dari doi. Careuh cerita kalo dia sekarang lagi belajar ngaji lagi plus hafalan Qur’an di RQ dan setiap jum’at dia dan beberapa teman mereka yang ternyata teman dekat si gadis es waktu SMP dulu ikutan mentoring di SMA tetangga. Mentornya adalah seorang ibu muda yang juga menjadi guru tahsin dan hafalan mereka.

Sohib bawelnya itu gak pernah ngajak apalagi maksa si gadis buat ikut semua kegiatan barunya itu. Si gadis es juga gak tertarik ikutan ngaji karena menurutnya yang dulu di kampung gak pernah diminta bayaran kalau belajar ngaji, harus bayar sekian ribu (keitung murah sih sebenernya) buat belajar baca Qur’an yang dia udah bisa (meski gak tau udah bener apa kagak bacaannya) itu tuh sayang binggo! ‘Mending aku pake duitnya buat nyewa komik dah’ gitu pikirnya. Ck,ck,ck, minta dilempar sendal banget ya??

Emang waktu itu doi belum ngerti dan selain PA aka anak Pencinta Alam, si gadis juga masih pendek akal. Padahal kalo dipikir-pikir sekolah formal yang bisa nolong urusan dunia aja kita rela bayar mahal. Dan meski orang-orang mikir harusnya gak boleh pamrih dalam urusan agama, tapi kan guru yang ngajarin kita ilmu akhirat itu sudah rela meluangkan waktu buat kita? Masa kita gak mau menghargai usaha beliau? Dan emang tempat ngaji Careuh dan kawan-kawan si gadis es itu dibawah sebuah lembaga bimbingan baca Qur’an yang udah terjamin.

Singkat cerita, segalanya berjalan seperti biasa. Tapi si gadis es lama-lama panas juga ngeliat kebersamaan Careuh dan kawan-kawannya itu. Doi ngerasa tertinggal jauh dibelakang#beuh. Abisnya kalo mereka ngumpul, cuma doi sendiri yang gak bisa ikutan ngobrol soal kegiatan hafalan, belajar tehsin pake metode *piip, serunya mentoring sama si teteh yang kocak, dll. Rasanya tuh kek lo jadi sebatang rumput gajah ditengah ladang mawar# aneh juga ya perbandingannya? Intinya lo ngerasa beda sendiri dan terabaikan dah hehe. Yah.. biarpun mereka gak pernah nyuekin si gadis dan tetep suka ngumpul bareng, tapi tetep aja gak seru.

Saat itulah, rasa iri pada kebersamaan kawan-kawannya itu muncul dan membuatnya memancang satu tekad:

 ‘Gua harus bisa menjadi bagian dari mereka dan bisa ikutan ngobrol soal tarzan, eh, tasik, tahsin, asin atau apalah itu!’ pikirnya optimis.

Meski berawal dari niat yang gak sepenuhnya bener dan belom ikhlas, ternyata momen itu adalah sebuah titik kulminasi perubahan si gadis es kawan-kawan. Jawaban dari do’a-do’anya selama hampir tiga tahun di SMA dalam beberapa Dluha dan Dzuhurnya di mesjid SMA kala lebih banyak yang memilih menghabiskan waktu istirahatnya di kantin. Gadis itu tersungkur mengadukan mengapa hatinya begitu sesak dan hampa juga betapa tersiksanya ia oleh perasaan itu.

Awalnya si gadis es masih ikut dengan ogah-ogahan. Kadang kalau diajak ke mentoring ngasih banyak alasan. Tapi karena menjelang kelas tiga akhir mereka makin gabut, doi akhirnya mulai rutin ngikut. ‘Yah.. itung-itung ngisi waktu luang’ pikirnya #Bhak!

Tapi lama-lama si gadis es merasakan hal yang berbeda. Ada sesuatu yang lain mewarnai hatinya, menggerakan kembali ghirah hidupnya.

‘Oh, mentoring tuh kajian keislaman gitu toh? Lebih enak juga sih karena anggotanya sedikit gak kaya tabligh akbar, jadi lebih bebas nanya. Mana si tetehnya kocak banget lagi! Hehe..’

‘Hei, ternyata belajar tahsin tuh asik juga ya? Ow,ow, ternyata cara baca hurufku masih salah-salah (jadi malu udah ngeremehin pas awal dulu), dan asik juga ya ngehafal Qur’an pake metode ini? Nadanya bikin ngaji jadi asik dan ngemudahin hafalan!’

Ikut mentoring bukan hal mudah  bagi si gadis juga sohib-sohibnya. Isu-isu soal aliran sesat bikin SMAnya mengetatkan aturan dan melarang mentoring yang diadakan ROHIS sekolah. Jadilah mereka harus sembunyi-sembunyi pergi ke SMA tetangga dengan masih berseragam batik SMA mereka demi memuaskan rasa haus pada ilmu baru yang bisa mereka dapatkan di mentoring. Belum lagi kecurigaan berlebih orangtua dan keluarga. Dan yang bisa dilakukan gadis itu adalah terus membuktikan bahwa justru mentoring membuatnya menjadi lebih baik.

Dan itu terbukti guys!

Lewat mentoring plus hafalan Al-Qur’an meski baru lima ayat perminggu, banyak hal yang mulai berubah dalam diri si gadis es. Ia merasa lubang-lubang yang dulu memenuhi hatinya telah hilang sepenuhnya dan entah bagaimana ia selalu merasa hatinya tak pernah kosong lagi meski ia sedang sendiri. Sikapnya pada kedua orangtuanya menjadi lebih baik. Ia juga tak lagi membanding-bandingkan hidupnya dengan orang lain. Kini ia telah memilki pemahaman baru yang jauh lebih baik. Dan lewat mentoring pula ia mulai paham hakikat menutup aurat, dan belajar berjilbab dengan baik karena ia tau Allah menyuruh hal itu karena sayang mereka, agar mereka lebih terjaga dan berharga.

Yang tak kalah penting adalah..

Salah satu hadiah paling berharga juga terindah yang pernah ia rasakan dalam hidupnya

sahabat-sahabat seperjuangannya

Gadis es yang kini sedang bermetamorfosis menjadi gadis matahari yang penuh kehangatan itu yakin, inilah persahabatan sesungguhnya dalam ukhuwah islamiyah! Terikat oleh perjuangan bersama untuk lebih mengenal Allah. Dan lo pade perlu tau guys, jalinan persohiban karena ukhuwah itu ternyata jaaauh lebih nikmat, co cwit, dan indah tak terperi# Ini bukan saya yang lebay yah..ini seribu rius loh!

Dan kalo kalian punya konco-konco macam ini dimana mereka senantiasa mengingatkan kita pada kebaikan, sungguh kalian beruntung!

Saat anak-anak lain sibuk ikut bimbel sana-sini, mereka meneguhkan hati untuk tetap mentoring dan melanjutkan hafalan Qur’annya. Dan skenario indah-Nya kembali menyapa mereka. Kini mereka tengah berjuang di belahan bumi berbeda, di Perguruan Tinggi Negeri impian masing-masing setelah sebelumnya lulus tanpa tes masuk! Mereka yakin itulah bukti janji Allah bahwa:

‘BARANGSIAPA YANG MENOLONG AGAMA ALLAH, MAKA ALLAH AKAN MENOLONGNYA DAN MENEGUHKAN KEDUDUKANNYA’**

 ‘Tau aja dah Allah kalo kita-kita gak sesiap anak-anak lain SBMPTN hoho.. eh, Alhamdulillah’  Gadis matahari itu tersenyum haru, bersyukur kembali atas hadiah-hadiah tak terduga dari Allah. Padahal kalo mau dipikir secara logika, nilai-nilai dan prestasi akademiknya gak lebih baik dari teman-teman kelasnya yang lain. But, itulah Allah sob. Jika kalian bertanya siapa yang paling kreatif sejagat raya? Maka jawabannya adalah Allah aza wajala! Allah pencipta skenario terbaik yang gak pernah terduga dan selalu indah pada waktunya. Eits, tapi syarat dan ketentuan berlaku ya sob!

Dan terakhir jika kamu meragukan cerita gadis ini, saya berani menjamin bahwa kisah ini bukan fiktif apalagi piktip. Ini adalah kisah nyata tentang gadis matahari yang saya kenal dan masih  bersahabat dengan saya sampai saat ini, Alhamdulillah (^.^)V

Kutipan

*Lirik lagu Kun Anta

**QS Muhammad: 7

(dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Devi Tri Wahyuni
Salah satu anak pendidikan Sejarah UPI 2014 yang hobi lintas alam.

Lihat Juga

Gadis Palestina Berusia 15 Tahun Ini Bercerita Tentang Penjara Hasharon Israel

Figure
Organization