Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Belajar dari Ibrahim AS

Belajar dari Ibrahim AS

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – “Mooooh…” Sapi coklat yang sedari tadi melawan, akhirnya roboh juga. Terhempas ke tanah. Menggeliat hebat hingga debu-debu berhamburan. Tampaknya, ia deg-degan dan takut melihat ketiga teman nya yang terlebih dahulu menemui ajalnya.

“Allahu Akbar!” pekik sang Imam Masjid. Darah merah segar mengucur deras dari leher si sapi. Terdengar nafas tersengal-sengal. Perlahan, perut dan kakinya mulai melemah. Tiba-tiba saja naluri ke hewanianku muncul. Kasian.

Perasaan saya sebagai manusia kepada binatang sudah tidak karuan begini, bagaimana jika yang disembelih itu bukan binatang melainkan manusia. Bagaimana jika yang tergeletak itu bukan sapi tapi anak sendiri. Kisah Ayahanda Ibrahim dengan anaknya, Ismail, memberikan kesan dan mengajarkan pelajaran yang mendalam, tentang keikhlasan, keridhaan, kepekaan, dan kasih sayang.

Belajar dari Ibrahim. Kepada Nabi Ibrahim, Allah meminta anaknya untuk menaati Rabb nya. Sedangkan dari kita, Allah hanya meminta mengorbankan kambing atau sapi. Alangkah malunya jika kita masih enggan dan bermalas-malasan untuk menyisihkan sebagian rizki dariNya.

Tiada keraguan di dalam hati Ibrahim ketika mengiyakan titah Tuhannya. Karena letak cinta yang tertanam kuat kepada Tuhannya lah, Nabi Ibrahim mendapatkan gelar khalilullah, kekasih Allah Yang Mahatinggi.

Tiada keraguan di dalam janji-janji Allah kepada orang yang mau berqurban, bahwa Allah pasti membalas lebih dari apa yang mereka qurbankan. Di setiap darah yang menetes, malaikat beristighfar, memohonkan ampun atas dosa-dosanya.  Di setiap helai rambut yang terdapat pada jasad binatang sembelihan itu, ia mendapatkan kebajikan, dileburkan semua keburukannya, diangkat derajatnya, dan dari setiap helai rambut itu pula, ia akan mendapatkan rumah megah di surga.

Hari raya qurban tidak hanya mengajarkan tentang keikhlasan tetapi juga tentang kepekaan dan kasih sayang. Bagi kita, makan daging mungkin sudah biasa. Steak, burger, sosis, dan olahan daging lainnya. Namun, ada saudara kita yang makan daging adalah hal yang sangat istimewa. Mereka merasakan arti pesta, bisa makan enak.

Hari raya qurban bukan hanya tentang sesembelihan tetapi juga arti kehidupan. Dalam perjalanan hidup, kita akan dihadapkan pada banyak pilihan yang tidak menutup kemungkinan menuntut adanya pengorbanan. Merelakan apa yang dicinta, memaknai arti aatal maala ‘alaa hubbihi. Menerima dengan lapang dada, dan bersyukur sebanyak-banyaknya.

Berqurban bukan hanya bicara mengenai besar kecilnya atau seberapa banyak hewan sembelihan tetapi seberapa besar keikhlasan dan seberapa dekat kita dengan Allah Azza Wa Jalla.

Sapi mati bisa dibeli lagi, sedangkan keridhaan Allah hanya orang tertentu yang mampu menjumpai. (dakwatuna.com/hdn)

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Nadifa Salsabila Nizar
Mahasiswi aktif jurusan S1 Akuntansi Universitas Sebelas Maret Surakarta. Seorang akuntan yang jatuh cinta pada tulisan.

Lihat Juga

Sekilas Tentang Maulid Nabi SAW

Figure
Organization