Home / Narasi Islam / Khutbah / Khutbah Idul Adha / Khutbah Idul Adha 1437 H: Pemuda Pelanjut Reformasi

Khutbah Idul Adha 1437 H: Pemuda Pelanjut Reformasi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر

اللهُ أَكْبَر خَلَقَ الْخَلْقَ وَأَحْصَاهُمْ عَدَداً، وَكُلُّهُمْ آتِيْهِ يَوْمَ القِيَامَةِ فَرْداً، اللهُ أَكْبَر عَزَّ رَبُّنَا سُلْطَاناً وَمَجْداً، وَتَعَالى عَظَمَةً وَحُلْماً، عَنَتْ الوُجُوْهُ لِعَظَمَتِهِ وَخَضَعَتْ الخَلَائِقِ لِقُدْرَتِهِ، اللهُ أَكْبَر مَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُوْنَ، اللهُ أَكْبَر مَا هَلَّلَ الْمُهَلِّلُوْنَ، اللهٌ أَكْبَر كَبِيْراً وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهُ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً.

الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ سَهَّلَ لِعِبَادِهِ طُرُقَ الْعِبَادَةِ، وَتَابَعَ لَهُمْ مَوَاسِمَ الْخَيْرَاتِ لِتَزْدَانِ أَوْقَاتِهِمْ بِالطَّاعَاتِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبَ الْوَجْهِ الأَنْوَرِ وَالْجَبِيْنِ الْأَزْهَرِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلى آلِهٍ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً. أَمَّا بَعْدُ:

فَيَاعِبَادَ اللهِ، أُوْصِي نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَةِ اللهِ الْكَرِيْمِ.

Ma’asyir al-muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,

Pagi ini, memoar sejarah seorang pemuda penuh kualitas kembali terbuka lebar, menyisakan kekaguman sekaligus kebanggaan kepada kemuliaannya.

Pagi ini, nikmat Islam yang telah diwariskan pemuda itu telah menyatukan jiwa-jiwa perindu Surga yang berusaha mengambil pelajaran terbaik darinya untuk kemudian melanjutkan kecintaan dan kebiasaan bershalawat kepadanya.

Pagi ini, doa-doa yang telah dipanjatkan pemuda itu mengiringi perjuangan dakwahnya telah membakar ruh kaum beriman untuk melanjutkan estafet dakwahnya membebaskan manusia dari segala bentuk penyembahan dan ketundukan kecuali hanya kepada Allah, Rabb al-‘Izzati wa al-Jalālah.

Dialah pemuda yang telah memberikan inspirasi bagi para pemuda sepanjang sejarah peradaban Islam, Ibrahim a.s. Menjadi pahamlah kita mengapa Allah memerintahkan kita untuk membaca kisah kehidupan pemuda mulia itu, sebagaimana firman Allah dalam Surat asy-Syu’araa [26] ayat 69:

وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ إِبۡرَٲهِيمَ (٦٩)

Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim.

Allahu Akbar 3x

Ma’asyir al-muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,

Renungkanlah, bagaimana pemuda Ibrahim a.s. ternyata tidak terbawa dengan keyakinan dan kebudayaan masyarakatnya yang menjadikan berhala sebagai tuhan mereka, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-An’am [6] ayat 74-75:

۞ وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٲهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصۡنَامًا ءَالِهَةً‌ۖ إِنِّىٓ أَرَٮٰكَ وَقَوۡمَكَ فِى ضَلَـٰلٍ۬ مُّبِينٍ۬ (٧٤)

وَكَذَٲلِكَ نُرِىٓ إِبۡرَٲهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ (٧٥)

Dan [ingatlah] di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”. (74) Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan [Kami yang terdapat] di langit dan bumi, dan [Kami memperlihatkannya] agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. (75)

Renungkanlah, bagaimana pemuda Ibrahim a.s. mampu mengembangkan daya nalarnya ketika mentadabburi alam dan seisinya, sehingga ia menemukan titik akhir pencarian yang menenangkan jiwanya, sesuatu yang tidak ditemukan peradaban Yunani Kuno meski telah berupaya penuh mencarinya. Hal ini terlihat dalam firman Allah Surat Al-An’am [6] ayat 76-78:

لَمَّا جَنَّ عَلَيۡهِ ٱلَّيۡلُ رَءَا كَوۡكَبً۬ا‌ۖ قَالَ هَـٰذَا رَبِّى‌ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلۡأَفِلِينَ (٧٦) فَلَمَّا رَءَا ٱلۡقَمَرَ بَازِغً۬ا قَالَ هَـٰذَا رَبِّى‌ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَٮِٕن لَّمۡ يَہۡدِنِى رَبِّى لَأَڪُونَنَّ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلضَّآلِّينَ (٧٧) فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمۡسَ بَازِغَةً۬ قَالَ هَـٰذَا رَبِّى هَـٰذَآ أَڪۡبَرُ‌ۖ فَلَمَّآ أَفَلَتۡ قَالَ يَـٰقَوۡمِ إِنِّى بَرِىٓءٌ۬ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ (٧٨)

Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang [lalu] dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”. (76) Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. (77) Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Renungkanlah, bagaimana pemuda Ibrahim a.s. mampu membuat keputusan penting dalam hidupnya, meyakini sesuatu yang paling asasi, meski berbeda dalam kesendirian, hanya untuk mengikuti fitrahnya yang paling suci. Hal ini begitu jelas termuat dalam firman Allah Surat Al-An’am [6] ayat 79:

إِنِّى وَجَّهۡتُ وَجۡهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ حَنِيفً۬ا‌ۖ وَمَآ أَنَا۟ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ (٧٩)

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Renungkanlah, bagaimana pemuda Ibrahim a.s. dengan gagah berani mempertahankan pendapatnya, tidak mencampurkan antara kebenaran dan kesesatan atau kebathilan, bahkan mampu memberikan jawaban penyadaran dengan logika yang luar biasa. Hal ini terlihat dalam firman Allah Surat Al-An’am [6] ayat 81:

وَڪَيۡفَ أَخَافُ مَآ أَشۡرَڪۡتُمۡ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمۡ أَشۡرَكۡتُم بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ عَلَيۡڪُمۡ سُلۡطَـٰنً۬ا‌ۚ فَأَىُّ ٱلۡفَرِيقَيۡنِ أَحَقُّ بِٱلۡأَمۡنِ‌ۖ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ (٨١)

Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan [dengan Allah], padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan [dari malapetaka], jika kamu mengetahui?”

Renungkanlah, bagaimana pemuda Ibrahim a.s. mampu menjadi pemuda yang lembut hatinya, bagus akhlaknya, dan sangat berbakti kepada orang tuanya, sangat ingin mendoakan kebaikan dan rahmat untuk ayahnya yang musyrik kepada Allah, hingga ilmu kemudian menyempurnakan ketaqwaannya. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat at-Taubah [9] ayat 114:

وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٲهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٍ۬ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ ۥۤ أَنَّهُ ۥ عَدُوٌّ۬ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُ‌ۚ إِنَّ إِبۡرَٲهِيمَ لَأَوَّٲهٌ حَلِيمٌ۬ (١١٤)

Dan permintaan ampun dari Ibrahim [kepada Allah] untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.

Allahu Akbar 3x

Ma’asyir al-muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,

Kini kita memahami, bahwa pemuda sejatinya bukan usia penuh persoalan, bukan seperti keyakinan filsafat Barat, bukan seperti istilah remaja, atau dalam bahasa Inggris disebut ‘teenagers’ atau dalam bahasa Arab disebut ‘murahaqah’, yang lebih bermakna masa-masa kebodohan, keguncangan, kekacauan, gemar melakukan kejahatan, dan menjauhi kebenaran.

Kini kita memahami, bahwa Islam telah membimbing manusia untuk senantiasa berjiwa muda, dan mampu membuat keputusan hidup yang benar di usia muda. Lihatlah bagaimana 5 dari 10 sahabat yang dijamin masuk Surga, telah memutuskan jalan hidupnya untuk kembali ke jalan Islam di usia kurang dari 16 tahun. Dialah Zubair bin Awwam r.a. yang masuk Islam usia 16 tahun, dialah Sa’id bin Zaid r.a. yang kembali di usia 15 tahun, dialah Thalhah ibn Ubaidillah r.a. yang masuk Islam di usia 14 tahun, dialah ‘Ali bin Abi Thalib r.a. yang masuk Islam di usia 10 tahun, dan bahkan dialah Sa’ad bin Abi Waqqash yang kembali di usia 7 tahun.

Kini kita memahami, mengapa Islam menamakan pemuda sebagai ‘asy-syabab’, yang lebih bermakna kekuatan, keindahan, kebaruan, bahkan awal dari sesuatu, dikarenakan pada masa inilah sejatinya bagian dari puncak kekuatan akal dan jiwa di dalam menyemai adab dan ilmu, pondasi dasar melanjutkan reformasi kebaikan dan kebenaran. Menjadi terang mengapa Islam dititipkan di atas bahu pemuda, sebagaimana semakin terang alasan utama mengapa musuh Islam berkonsentrasi merusak masa-masa terbaik pemuda Islam, melalui ragam media sebagai bagian dari bentuk Ghazw al-Fikr (Perang Pemikiran), atau Proxy War dalam Istilah Ketahanan Nasional.

Allahu Akbar 3x

Ma’asyir al-muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,

Pagi ini, Allah memanggil para pemuda untuk kembali menjadi dambaan umat bersama lurusnya tauhid atau aqidah mereka, bersama kemampuan mengembangkan daya nalar ilmiah di atas fitrahnya yang suci, bersama keberaniannya dalam mengambil keputusan terbaik untuk dirinya sesuai arahan Tuhannya, bersama kemampuannya dalam berargumen positif dan tidak mencampurkan antara kebenaran dan kesesatan atau kebathilan, dan bersama kelembutan hati dan kebagusan akhlaknya terkhusus berawal kepada orang tuanya.

Pagi ini, Allah memotivasi para orang tua untuk kembali menjadikan Islam sebagai panduan primer dalam pembinaan pemuda, mengevaluasi peran orang tua sebagai guru bagi anaknya selaku muridnya, menjadikan Nabi sebagai target ideal pengembangan jiwa pemuda, dan mengingatkan para orang tua untuk menjauhkan anak-anaknya dari segala sesuatu yang menjauhkannya untuk fokus dalam menyemai adab dan ilmu.

Pagi ini, Allah menguatkan peran masyarakat untuk menjadikan lingkungan tempat tinggalnya sebagai lingkungan layak pemuda, sebuah lingkungan yang layak dan membantu para pemuda mempercepat menemukan jati dirinya sebagai pemuda pelanjut reformasi, dikarenakan usia pemuda adalah usia penuh kekuatan di antara dua kelemahan, yakni usia bayi dan usia tua. Hal ini persis seperti firman Allah dalam Surat ar-Rum [30] ayat 54:

ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن ضَعۡفٍ۬ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ ضَعۡفٍ۬ قُوَّةً۬ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ قُوَّةٍ۬ ضَعۡفً۬ا وَشَيۡبَةً۬‌ۚ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ‌ۖ وَهُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡقَدِيرُ (٥٤)

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan [kamu] sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan [kamu] sesudah kuat itu lemah [kembali] dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.

Lihatlah bagaimana seluruh doa-doa yang pernah dipanjatkan Nabi Ibrahim a.s. telah menjadi kenyataan satu per satu dan terus menerus sepanjang waktu. Hal ini tidak lepas dari doa yang pernah dilantunkan pemuda Ibrahim a.s. sebagaimana firman Allah dalam Surat asy-Syura [26] ayat 83:

رَبِّ هَبۡ لِى حُڪۡمً۬ا وَأَلۡحِقۡنِى بِٱلصَّـٰلِحِينَ (٨٣) وَٱجۡعَل لِّى لِسَانَ صِدۡقٍ۬ فِى ٱلۡأَخِرِينَ (٨٤) وَٱجۡعَلۡنِى مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ (٨٥)

[Ibrahim berdoa]: “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, (83) dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang [yang datang] kemudian, (84) dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang memusakai surga yang penuh kenikmatan, (85)

Marilah kita melanjutkan kecintaan Ibrahim a.s. dalam menyemai adab, menuntut ilmu, bekerja, beramal, dan berdoa. (dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Anggota Komisi Ukhuwah MUI Pusat | Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor (ppsuika.ac.id) | Peneliti INSISTS (insists.id) | Pendiri Yayasan Adab Insan Mulia (adabinsanmulia.org), Pembina Majelis Iman Islam (manis.id) | Pengurus Pusat BKsPPI (bksppi.org) | Pengurus Pusat Hijrah Center | Pengelola Portal Ukhuwah (ukhuwahislamiyah.org) | Dosen Sekolah Pemikiran Islam ITJ | supraha.com

Lihat Juga

Deklarasi Balfour, Cara Inggris Rebut Tanah Palestina untuk Yahudi