Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Al-Hikam Ali ibn Abi Thalib

Al-Hikam Ali ibn Abi Thalib

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Judul : Al-Hikam Ali ibn Abi Thalib

Penulis : Juman Rofarif
Tebal : 178 halaman
Penerbit : Serambi
Cetakan I : Mei 2015
ISBN : 978-602-290-042-9

Belajar Dari Sayyidina Ali

Cover buku "Al-Hikam Ali ibn Abi Thalib".
Cover buku “Al-Hikam Ali ibn Abi Thalib”.

dakwatuna.com – Senyatanya orang-orang Islam tidak butuh belajar sastra pada orang-orang barat semisal Kahlil Gibran, sebagai sastrawan terkenal dengan sajak dan puisi-puisinya yang terkumpul dalam beberapa buku. Seperti, salah satunya, Sayap-Sayap yang Patah. Karena Islam dengan mutiaranya bernama Al-Qur’an telah memiliki kandungan sastra yang sangat tinggi. Dan hal ini diakui oleh semua orang yang pernah membacanya. Al-Qur’an jugalah yang menjadi inspirator bagi karya-karya umat muslim seperti sahabat Ali Ibn Abi Thalib.

Khalifah terakhir yang dijuluki al-balagha’ wa al-mutakallimin yang artinya penghulu orang-orang yang indah dan fasih dalam bertuturkata. Kata-katanya tertulis secara sistematis dalam sebuah kitab berjudul Nahj Al-Balaghah, yang disusun oleh Al-Syarif Al-Radhi yang kemudian dilengkapi oleh kitab Syarh Nahj Al-Balaghah.

Dari hal ini, penulis pikir, sahabat Ali Ibn Abi Thalib sebanding dengan ahli-ahli sastra non muslim seperti Kahlil Gibran. Di dunia sekarang, kata-kata beliau barangkali sejenis dengan kata dari motivator Pak Mario Teguh. Sarat makna dan begitu bijak.

Juman Rofarif menerjemahkan dan menghimpun sekitar 154 hikmah yang dipilih dari sekitar 1380 hikmah dalam Nahj Al-Balaghah dan Syarah Nahj Al-Balaghah dan 6 hikmah tambahan dari buku Hikam Al-Imam ‘Ali Ibn Abi Thalib Radiyallahu ‘Anhu yang isinya beberapa memuat ajakan untuk mendewasakan sikap kita kepada Tuhan; beribadah kepada Allah karena keinginan-keinginan adalah ibadah-ibadah para pedagang. Beribadah kepada Allah karena ketakutan-ketakutan adalah ibadah para budak. Beribadah kepada Allah sebagai ungkapan syukur adalah ibadah orang merdeka (hlm. 41). Pernyataan ini terkesan menyindir sekaligus memberi pencerahan kepada kita tentang kelas-kelas ibadah. Tentu beda antara ibadah pedagang, budak, dan ibadah orang-orang merdeka.

Selain itu juga hikmah tersebut memuat ajakan untuk menjalankan agama Islam secara lebih substansial yang bermanfaat secara individual dan sosial; aku heran kepada orang pelit, ia mempercepat kefakiran yang sebenarnya ia hindari. Ia ditinggalkan oleh kekayaan yang sesungguhnya ia cari. Ia hidup di dunia dengan cara hidup orang fakir dan kelak dihisab dengan cara orang kaya (hlm. 35). Sindiran yang tepat untuk menyindir orang-orang pelit dan kikir. Sedikitnya tergambar di benak kita tentang bagaimana kejenakaan berpikir Sayyidina Ali dan betapa beliau cerdas memainkan kata.

Adalah mudah membuktikan dalil kepada orang bodoh. Yang susah adalah ia mau mengakuinya (hlm. 121). Tampak sangat sederhana namun cukup terkesan provokatif. Beberapa juga isi dari buku mini ini adalah tentang pengetahuan, akhlak, sindiran bagi orang-orang fakir, tentang ibadah dan hal-hal lainnya. Sebagaimana kutipan berikut; jangan paksa anak-anakmu di bawah etiketmu. Mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda dengan zamanmu.

Kumpulan-kumpulan hikam ini dikemas dalam buku ‘cantik’ yang sama sekali tak memberikan kesan bosan saat dibaca. Memberikan keleluasaan bagi pembaca untuk memberikan penafsiran secara individual sehingga tidak terkesan seperti buku-buku terjemahan lainnya. Tidak ada penjelasan mengenai masing-masing isinya sehingga penafsiran dipasrahkan sepenuhnya secara langsung kepada pembacanya.

Isinya, sekalipun telah ditulis dan dipakai sejak ratusan tahun silam, namun masih sangat relevan untuk dipakai hari ini khususnya untuk para penggemar kata-kata bijak dan penikmat kata indah. Selamat membaca! (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Santri Latee 1. Bergiat di komunitas sastra Café Latte.

Lihat Juga

Karya Kreator Muslim Perlu Miliki Dua Kriteria Ini

Figure
Organization