Home / Narasi Islam / Dakwah / Dakwah, Belajar, Bekerja : Berusaha Menjadi Umat Terbaik

Dakwah, Belajar, Bekerja : Berusaha Menjadi Umat Terbaik

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (liputan6.com)
Ilustrasi. (liputan6.com)

dakwatuna.com – “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah” (QS. Al Imran : 110).

Itulah yang dikatakan Allah di dalam kitab yang mahasempurna, Al Qur’an. Kita terlahir sebagai umat terbaik, namun terkadang kita tertidur panjang sehingga kata ‘umat terbaik’ itu terkadang tidak terimplementasikan sepanjang usia kita di dunia. Hanya orang-orang yang terpilih yang bisa memaksimalkan usianya di dunia untuk menjadi ‘umat terbaik’ yang bertugas menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar, serta beriman kepada Allah SWT.

Menjadi umat terbaik tentu adalah tugas kita semua sebagai muslim. Oleh karena itu, kita harus memantaskan diri ini untuk menjalankan tugas sebagai umat terbaik. ‘Berdakwah, Belajar, Bekerja’ adalah instrumen untuk menjadi umat terbaik itu. Karena ketiga instrumen itulah merupakan bagian dari tarbiyah islamiyah (pendidikan Islam). Dan tarbiyah islamiyah inilah yang akan membentuk diri kita menjadi istimewa di hadapan Allah dan manusia. At tarbiyatu hiyya fannu sinna’atil insan, tarbiyah adalah seni menciptakan manusia menjadi istimewa. Pondasi dari dakwah, belajar, dan bekerja inilah yang kita sebut tarbiyah islamiyah.

Jika berdakwah, belajar, dan bekerja bisa kita laksanakan dengan berbarengan, maka insya Allah itulah letak kematangan sebuah umat dengan referensi dan sistematika pertumbuhannya. Dan jika referensi dan sistematika itu kita tambahkan anasir/unsur-unsur kepemimpinan yang kuat, maka inilah ciri-ciri umat terbaik. Umat yang siap menjadi tulang punggung dunia.

Mari kita hidupkan kembali semangat yang terkadang redup akan kelalaian yang terus menghinggap di diri kita. Mari kita tegakan kembali azzam yang terkadang layu karena keputus asaan. Dan mari kita sampaikan kepada diri kita kembali akan komitmen menjadi orang besar yang terasa manfaatnya untuk orang banyak yang mungkin saja dilupakan sejenak oleh kita. Semangat, azzam, dan komitmen itulah yang harus tetap terjaga dalam diri kita di proses dakwah, belajar, dan bekerja ini.

Biarkan letih itu letih mengikuti kita untuk terus berdakwah, belajar, dan bekerja untuk menjadi umat terbaik. Hanya kesabaran dan tawakkal kepada Allah SWT yang menjadi penguat kita. Penguat iman kita. Penguat azzam kita. Penguat segalanya dalam merangkai sejuta mimpi, asa, dan cita untuk nantinya semua itu diwujudkan.

Ya Allah, ya Rabb ku. Kuatkanlah diri ini dengan kekuatan-Mu. Semangatkanlah diri ini dengan semangat-Mu. Wujudkanlah segala mimpi, asa, dan cita ini dengan ijin dan kekuasaan-Mu, sehingga ketika hari hisab dan pertimbangan akhirat kelak perjuangan ku ini menjadi saksi kecintaan ku kepada Mu. Aamiin. (dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 5,50 out of 10)
Loading...

Tentang

Staf Direktorat Aparatur Negara, Kementerian PPN Bappenas | Peneliti Center for Information and Development Studies (CIDES) Indonesia | Mahasiswa S2 Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Universitas Indonesia

Lihat Juga

Safari Dakwah Zakir Naik di Indonesia Murni Keinginan Pribadi