Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sesabar Penantian, Sedekat Kepasrahan

Sesabar Penantian, Sedekat Kepasrahan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (flickr.com/bfz76)
Ilustrasi. (flickr.com/bfz76)

dakwatuna.com – Jeda. Iya jeda atau yang akrab dengan sebutan “spasi” dalam sintaksis bahasa. Ia seringkali kita temui dalam sebuah rangkaian kata. Di mana ada kata, di situlah jeda bercengkerama dengannya. Sudah menjadi keniscayaan kalau kata membutuhkan jeda dalam merangkai suatu makna yang akan disampaikannya. Kata selalu setia dalam jeda itu untuk menanti kata selanjutnya. Karena ia sadar bahwa tanpa jeda ia tak akan menemui kata selanjutnya sebagai pelengkap untuk memberikan makna.

Kiranya hampir sama antara “jeda” dan “penantian”. Bukankah penantian itu juga sebuah jeda dalam kehidupan yang harus sabar ditunggu? Menanti adalah “menunggu” sebuah rangkaian taqdir yang saling bersambung, sedangkan jeda juga masa di mana kata akan “menunggu” kata selanjutnya. Tanpanya kita tak bisa membuat cerita hidup yang saling bertaut. Tanpanya hidup kita akan timpang karena ada kisah yang terlewatkan.

Lalu, kenapa penantian dalam benak kita adalah suatu hal yang membosankan? Jawaban lugasnya adalah karena soal keyakinan kita akan penantian itu. Penantian tanpa adanya keyakinan itu ibarat kita hanya membuang waktu, melakukan kesia-siaan hidup tanpa ada kepastian. Tapi inikah yang sebenarnya? Jelas bukan.

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut (qadar) ukuran” [QS. Al Qamar : 49]

Seorang muslim tentunya mengimani hidup dengan segala kepastianNya, juga menghidupi iman dengan segala kebenaranNya. Allah telah menggariskan kisah kita di lauhul mahfudz, secara menyeluruh tanpa ada kerumpangan dalam skenarioNya. Tanpa lagi kita menanti, bahkan Allah sudah jauh-jauh sebelumnya, menyiapkan keparipurnaan perjalanan hidup ini. Jadi, jangan risau dan gegabah dalam penantian itu, tenanglah…apa yang kita nanti ia pun akan datang dengan sendiri untuk menyempurnakan kisah kita. Sesederhana kata-kata yang bersiap mengisi jeda kekosongan kalimat. Penantian pun demikian, ia akan merangkaikan kisah-kisah kita agar menjadi paripurna.

Banyak di antara kita yang sia-sia dalam mengisi waktu penantiannya. Ia hanya berdiam diri, bahkan tak sedikit hanya menggerutu tanpa bersabar hati. Bukankah dalam penantian itu kita justru bisa berhenti sejenak, sekedar menarik nafas setelah sekian lama berlari memperjuangkan ambisi. Bukankah dalam penantian itu kita justru bisa berinstropeksi akan apa yang telah kita lalui dan menguatkan misi untuk kemudian melangkahkan kaki? Bukankah dalam penantian itu kita bisa belajar sabar untuk menafakuri dan menguak nikmat-nikmat apa yang Allah akan hadirkan kepada kita? Bukankah dalam penantian itu kita bisa belajar memasrahkan doa-doa yang kita selipkan dalam sujud panjang malam-malam kita?

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan (permintaan) bagimu…” [QS. Ghafir : 60]

Percayalah, di balik masanya penantian, Allah sudah mempersiapkan gerbong-gerbong kisah yang akan merangkai dan menyempurnakan perjalanan hidup kita. Asalkan kita berkhusnudzon dan menanti, sesabar penantian. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Phisca Aditya Rosyady
Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Korea Selatan Periode 2017-2018. Ketua Indonesian Muslim Student Society in Korea Periode 2016-2017. Lulusan master di Computer Science and Engineering Seoul National University, pernah menjadi Researcher Assistant di Sungkyunkwan University, Korea. Suka traveling, menulis, coding, dan blogging. Memiliki semboyan, beraksilah niscaya Allah akan mereaksikan ikhtiarmu!

Lihat Juga

Makna di Balik Sabar

Organization