Home / Berita / Silaturahim / Garuda Keadilan Kuningan Gelar “Sarasehan Remaja Berbicara”

Garuda Keadilan Kuningan Gelar “Sarasehan Remaja Berbicara”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Sarasehan Remaja Berbicara” yang gelar oleh Garuda Keadilan bertempat di Balong Dalem, Kuningan. Ahad (28/8/2016). (Azhar Fakhru Rijal/Garuda Keadilan)
Sarasehan Remaja Berbicara” yang gelar oleh Garuda Keadilan bertempat di Balong Dalem, Kuningan. Ahad (28/8/2016). (Azhar Fakhru Rijal/Garuda Keadilan)

dakwatuna.com –  Garuda Keadilan Kuningan menggelar “Sarasehan Remaja Berbicara” yang bertempat di Balong Dalem, Kuningan, Ahad (28/8/2016)

Dengan mengangkat tema “Remaja Indonesia Cerdas Dan Kokoh Menghadapi Masa Depan Gemilang” panitia berharap remaja khususnya Kuningan, umumnya seluruh Indonesia bisa lebih cerdas dalam bersikap di era globalisasi ini. Melalui sarasehan ini juga GK Kuningan turut mendukung pemerintahan setempat yang mengusung slogan “MAS” mandiri, agamis dan sejahtera.

Acara dibuka pukul 08.30 dengan pembagian doorprize dan uji kekompakan. Acara cukup meriah dengan tempat yang rindang dan cuaca yang cerah juga MC yang bergairah. Setelah pembacayaan ayat suci Alquran, barulah masuk kepada acara inti yang dikomandoi oleh Muhammad Haydar Rabbani sebagai moderator.

Diantara pembicara yang menyampaikan materi adalah Tsabitah Taqiyah (Mahasiswi Universitas Malaysia, Alhafidzah), Mia Rusmia (Pemerhati Remaja), Cahyono Rajab (Seni Budaya, pelatih dan munsyid MUARA), Luthfi Noor (Bisnismen muda, owner Ramen Saga), Ihsan Amala (Politik, Presma BEM) dan Ayman Anis Matta (Pelajar, Pemred majalah REMAJA).

Semuanya menyampaikan materi di bidang masing-masing dengan bobot yang cukup untuk kalangan remaja SMA sederajat. Dimulai dari Tsabittah Taqiyyah menyampaikan tentang pentingnya pemuda berdasarkan Alquran. Betapa pentingnya berpegang kepada Alquran dalam menghadapi era yang berkemajuan ini.

Mahasiswi Universitas Malaysia ini juga berpesan kepada para peserta agar tidak tertinggal oleh kemajuan zaman dan tidak juga lengah termakan zaman. Dalam artian harus cerdas menempatkan diri di era kemajuan ini.

“Selain itu pemuda juga harus sadar bahwa dirinya adalah agent of change, harapan bangsa seperti kisah Ibrahim muda yang berani menyampaikan kebenaran meski kepada ayahnya sendiri” tegasnya.

Dengan selingan doorprize oleh moderator di setiap pembicara, materi kembali dilanjutkan dengan tema jurnalistik oleh Muhammad Ayman (Anis Matta). Ayman menyampaikan bagaimana sejarah pers di Indonesia yang diusung oleh Tirto Adi Suryo dengan medianya “medan prijaji” yang kata-katanya cukup tajam melawan Belanda melalui tulisannya, dialah wartawan pertama Indonesia atau diperingati dengan Bapak Pers Nasional.

Ayman juga berpesan kepada 200 peserta yang hadir untuk selalu menyibukan dengan membaca, karena tulisan adalah buah dari banyak membaca. Pemuda harus mengikuti jejak pemimpin-pemimpin dahulu yang pekat dengan membaca.

“Soekarno mampu membaca 400 halaman per harinya, bung Hatta kurang lebih semasa hidupnya sudah membaca 10 sampai 12 ribu buku. Dengan semakin berkembangnya teknologi seharusnya kita mampu mengikuti mereka bahkan melebihinya”, tambah Ayman.

Setelah Ayman Anis Matta, tanpa rasa jenuh materi lanjut kepada pemahaman politik di mata remaja Oleh Ihsan Amala (Presma BEM). Dengan anggapan mayoritas peserta yang negatif terhadap politik, Ihsan ingin coba menjelaskan dan meluruskan bahwa politik bukan money politics, sogok, korupsi, partai atau Jokowi.

“Politik adalah seni ketatanegaraan atau Aristoteles dengan teori lawasnya politik adalah seni meraih kekuasaan secara konstitusional atau non-konstitusional. Sehingga kita tidak bisa menganggap politik kotor, karena kita akan terus berhadapan dengan politik”. Tegas Ihsan.

Tapi yang harus pemuda lakukan adalah bagaimana berpolitik bersih, bagaimana melatih diri berpolitik sejak dini. Menurut Ihsan “Pemuda juga harus sadar bahwa peran politik yang digalang oleh pemuda khususnya di Indonesia sangatlah besar. Contohnya bagaimana Soekarno diamankan di Rengasdengklok lalu memaksa untuk memerdekakan Indonesia, mereka itu pemuda. Tahun 1966 lalu Reformasi 1998 mereka itu pemuda dengan kemampuan politiknya”.

Barulah setelah peserta berpikir keras perihal politik, mereka disuguhi materi yang cukup menghibur tapi berbobot dari Kang Cahyono tentang seni dan budaya. Beliau membuka materinya denyan sebuah nasyid yang merdu dan merefresh para peserta untuk kembali ceria. Dalam materinya kang Cahyono mengatakan bahwa “seni khususnya musik memiliki peran yang cukup bagi kita. Dengan semakin banyaknya syair atau lagu yang mengajak kepada maksiat seharusnya kita menciptakan lawannya dengan menciptakan syair yang optimis dan mengajak kepada kebaikan”

“perlu diketahui juga bahwa musik pertama kali adalah dari islam, yaitu dari kaum Anshar ketika menyambut kaum muhajirin dengan menyanyikan tholalal badru” tambahnya.

Materi yang tidak kalah kerennya adalah dari bisnismen muda asal Kuningan, ia juga owner dari Ramen Saga yang cukup familiar di sekitar Kuningan. Ia adalah Luthfi Noor. Menurutnya “selain Alquran, politik, musik dan jurnalistik. Bisnis juga adalah penting untuk dipelajari dan dipraketikan oleh kalangan muda”.

“Bisnis selalu bisa dijadikan plan B, sehingga bisa dilakukan oleh siapapun. Pelajar, mahasiswa, guru, politikus hingga presidenpun bisa saja menjadikan bisnis sebagai sampingannya” jelasnya.

Selain memberikan motivasi, Luthfi Noor juga memberikan trik berbisnis dan cara mengahadapi hadangan-hadangan ketika berbisnis. Seperti kurang modal atau nihil ide dan waktu. Peserta cukup puas dengan penjelasannya. Karena beliau menyampaikannya berdasarkan pengalaman yang empiris.

Di penghujung acara dan materi terakhir adalah dari Ibu Mia Rusmia selaku guru dan pemerhati remaja. Singkatnya beliau menyimpulkan dari semua materi dari pembicara muda yang telah menyampaikan materinya. Menurutnya, dengan grafik Indonesia yang menunjukan bahwa tinginya penduduk Indonesia yang berusia produktif dari remaja hingga tua hingga beberapa tahun kedepan, Indonesia berkesempatan melahirkan karya-karya yang bermanfaat melalui ide pemuda yang kreatif, inovatif dan harus didukung.

“pertama pemuda harus merubah mindset-nya.” ucap Ibu Mia Rusmia

Zaman ini mindset memang jadi poin penting yang harus diperhatikan. Ghazwul fikri yang sedang digencarkan selalu diarahkan kepada para pemuda. Karena musuh islam sadar bahwa pemuda adalah pondasi kebangkitan islam memegang dunia. Maka yang harus divakumkan dan dirobohkan adalah pondasinya. Guru dari salah satu sekolah di Kuningan ini juga menerangkan bahwa “pemuda islam akan menang dengan 4 pilar, diantaranya adalah keyakinan yang kuat, keikhlasan, semangat dan kesiapan untuk bergerak” tegasnya.

Dengan berakhirnya materi dari Ibu Mia Rusmia, berakhir pula “Sarasehan Remaja Berbicara” ini. Sebuah agenda yang berisikan materi yang menginspirasi dan tidak membosankan. Berisikan obrolan yang berbobot dan manfaat. Acara yang Integral meliputi segala bidang yang dibutuhkan dan harus dilakukan oleh seorang pemuda di era globalisasi ini. Semoga bisa menjadi contoh untuk acara yang diagendakan oleh pemuda-pemuda lainnya demi membangun peradaban islam. (SaBah/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Azhar Fakhru Rijal, Mahasiswa Mahad Aly Annuaimy dan Anggota FLP Jakarta, pernah juga menjadi pimred madding Al-Furqon Post (ponpes Alfurqon).

Lihat Juga

Sanlat for Executive RISKA Cetak Generasi Muslim Sejati

Organization