Home / Berita / Opini / Membaca Peta Perang Turki di Suriah

Membaca Peta Perang Turki di Suriah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi. (Pa Moyo)
Ilustrasi. (Pa Moyo)

dakwatuna.com – Tiga peristiwa besar bagi Turki berturut-turut terjadi dalam waktu relatif dekat.

15 Juli 2016: Kudeta gagal kelompok teroris Gulen.
1 Agustus 2016: Runtuhnya pertahanan pasukan Assad di Aleppo Selatan.
Dan terakhir, 24 Agustus 2016: Pembebasan Jarablus dari cengkeraman kelompok teroris dunia: ISIS.

Apakah semua ini terjadi semudah Turki membalik tangan?

Tidak, tentunya. Beberapa saat menjelang kudeta gagal, Amerika Serikat dan Rusia meneken kontrak kerja sama untuk memfokuskan kekuatan militer mereka untuk membombardir pihak pejuang kemerdekaan Suriah.

Pihak pejuang di sini tidak saja meliputi para nasionalis, para demokratis, dan rakyat jelata, namun juga para islamis yang keberadaannya sangat mengganggu negara-negara besar tadi. Di sisi lain para pejuang ini adalah ujung tombak bagi Turki untuk turut serta dalam menghentikan tirani rezim Suriah. Dan hanya selang sehari pasca penekenan MOU tadi, Gulen dan tentara loyalisnya mengkudeta.

Sungguh, tekanan luar biasa bagi Turki.

Lain rencana, lain kenyataan. Kudeta gagal, bahkan markas NATO pun disegel dalam beberapa jam. Oposisi pun bersatu mengutuk Amerika Serikat yang tidak mau menyerahkan Gulen ke Turki. Sejak detik tersebut, segala macam kartu truf bagaikan berpindah semua ke tangan Turki.

Amerika Serikat, Rusia, Iran, bahkan Uni Eropa tanpa tedeng aling-aling diminta keberpihakannya pada demokrasi Turki. Momentum dan dinamika timur tengah sekarang ditentukan permainan catur Turki.

Semua kawan dan lawan dibuat bertukar posisi oleh Turki, bahkan saking rumitnya benang yang dikusutkan Turki, membuat Assad yang selama ini dibela dengan harga mati oleh negara-negara sponsornya, menjadi diputuskan secara kolektif untuk dimundurkan oleh Rusia dan Iran, meski waktu dan caranya tidak ditentukan.

Amerika Serikat yang begitu mesra membela Partai Kurdi Komunis dalam melawan ISIS, terpaksa meminta PKK legowo untuk menanggalkan semua tanah yang diraih dan kembali mundur ke timur sungai Efrat, meski jelas akan ditolak PKK.

Kondisi pertahanan Assad di Aleppo Selatan yang jebol oleh para pejuang, betul-betul membuat negara sponsornya kalang kabut, Iran mengirimkan ribuan pasukan ke sana untuk merebut kembali namun tanpa membawa hasil yang signifikan. Rusia pun harus beradu argumen dengan Iran untuk masalah penggunaan wilayahnya sebagai transit bagi pesawat-pesawat pencabut nyawanya.

Hari penyerbuan Turki ke Suriah dipilih 24 Agustus 2016 yang secara simbolik bertepatan dengan perang besar 24 Agustus 1516, 500 tahun lalu yang menentukan siapa penguasa Kekhilafahan, apakah tetap dinasti Shalahuddin Al-Ayyubi yang keturunan Kurdi atau dinasti Turki Utsmani yang baru muncul (https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Marj_Dabiq).

Yang menjadi pertanyaan besar sekarang ini …

Dengan runtuhnya kota Jarablus di wilayah ISIS yang begitu cepat ke tangan Turki. Akan ke mana langkah Turki berikutnya?

Beberapa konsekuensi logis yang mungkin,

  1. Menutup kembali wilayah yang direbut ISIS: antara Turki dan Aleppo seperti Azaz, Marea, Dabiq, Al-Rai dan Al-Bab adalah kota-kota penting yang harus dihubungkan kembali membentuk daerah buffer.
  2. Daerah buffer yang terbentuk harus memiliki kebijakan No-Fly Zone (NFZ) terhadap pesawat Assad dan Rusia.
  3. Tidakkah Turki akan tertarik untuk mengeksplor wilayah ISIS hingga ke ibukotanya Raqqa?

Jawaban untuk ketiga pertanyaan itu tentu sangat bergantung pada ISIS itu sendiri. Akankah ISIS akan melakukan perlawanan sengit?

  1. Secara hati mungkin tidak, karena kesamaan latar belakang (Sunni). Namun secara doktrin, ISIS sepertinya akan melakukan all-out war di wilayah Dabiq atau Marea, karena mereka meyakini bahwa perang kubro yang akan menentukan keberadaan imam mahdi terletak di sana. Persis seperti halnya penentuan kekhilafahan Islam 500 tahun lalu yang ditentukan oleh perang Marj-DABIQ, maka perang Marea-Dabiq tahun ini juga akan menjadi semacam ‘rematch’, baik pemainnya maupun skenarionya.
  2. Rusia jelas tidak akan mau dibatasi ruang geraknya oleh ancaman NFZ semacam itu, oleh karena itu besar kemungkinan Rusia akan memainkan kelompok teroris PKK yang terletak di Efrin sebelah barat laut kota Aleppo untuk mengganggu rencana pembuatan daerah buffer tersebut dan bahkan malah mempercepat pembuatan daerah koridor Kurdi dari Manbij ke Efrin.
  3. Besar kemungkinan Turki langkahnya akan mengalami hambatan besar di Dabiq atau Marea, karena di titik tersebut hampir semua pihak yang berkompetisi di Suriah akan bertemu. ISIS vs Turki vs Kurdi vs Assad, semuanya akan berusaha saling mengeliminir di titik tersebut.

Pengorbanan darah dan dana Turki akan sangat banyak terkuras di sana. Karena di titik inilah tradisi penentuan kekhalifahan berlangsung, Turki pasti akan all-out juga. Namun, apabila titik tersebut telah dilewati, 50% kekuatan ISIS sudah berkurang, berikutnya pembebasan Aleppo adalah langkah paling natural, dan ibukota Raqqa bukanlah prioritas lagi. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

S1-Teknik Penerbangan ITB, S2-Desain ITB. Mahasiswa Doktoral, Aerospace Engineering, METU Ankara, Turki

Lihat Juga

Di Hadapan Anggota Dewan, Basar Assad ‘Serang’ Erdogan

Organization