Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Keberlimpahan Rezeki

Keberlimpahan Rezeki

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Pernah satu hari penulis bertanya kepada salah seorang kiai yang memberikan layanan pendidikan kepada 700 orang santri secara gratis tanpa biaya. Pesantren itu letaknya di Bone, Sulawesi Selatan. Pada saat itu, penulis hendak diberikan amanah untuk mengajar di pesantren. Pikiran penulis yang terbersit saat itu adalah kemungkinan bahwa pesantren sudah memiliki donatur yang secara rutin menanggung seluruh kebutuhan operasionalnya. Begitu kebanyakan pesantren yang tidak memungut biaya pendidikan kepada santrinya. Akan tetapi setelah penulis bertanya lebih lanjut tentang donatur, sang kiai pesantren menyatakan dengan lugas bahwa sejak awal pesantren ini tidak pernah meminta-minta atau membuat proposal untuk diajukan ke berbagai instansi dan lembaga donatur. Pesantren hanya menerima bantuan dari siapa saja yang ingin membantu tanpa diminta.

Dengan rasa ingin tahu (kepo) yang tinggi, penulis kembali bertanya bagaimana pesantren memenuhi seluruh kebutuhan para guru dan santri selama tinggal di pesantren. Prinsip yang selama ini dipegang oleh Kiai sehingga begitu yakin bahwa semua kebutuhan santri selalu bisa terpenuhi. Jawaban yang sangat luar biasa yang penulis dapatkan saat itu adalah ketika Kiai menyatakan bahwa jika ada seorang santri yang mendaftar dan diterima di pesantren ini, maka Insya Allah rezekinya secara otomoatis juga akan diantarkan ke pesantren ini. Jadi tidak perlu khawatir bahwa santri tersebut tidak makan dan kelaparan. Mendengar jawaban tersebut, penulis merasa takjub geleng-geleng kepala memikirkan begitu kuatnya keyakinan Kiai kepada Allah atas seluruh kebutuhan hidup santri dan guru yang menjadi tanggungjawabnya. Kok bisa ya, Kiai yang masih di bawah 40 tahun memberikan jawaban yang lugas tentang keyakinannya akan Maha Kayanya Allah, Maha Kasih dan Sayangnya Allah, dan begitu berlimpahnya rezeki yang Allah tebarkan untuk seluruh umat manusia.

Memang begitulah sebenarnya realitas hidup manusia, yang sudah ada jaminan penuh dari Allah akan rezeki yang dibutuhkan. Bahkan jaminan kebutuhan yang dipenuhi bukan hanya untuk manusia, akan tetapi juga untuk seluruh ciptaan Allah di alam semesta ini. Hal tersebut Allah nyatakan dalam surat Hud ayat 6 yang berbunyi;

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh) (QS. Hud : 6)

Ayat tersebut menunjukkan keterjaminan rezeki setiap makhluk yang Allah ciptakan. Jangankan manusia, hewan melata sekalipun yang memiliki keterbatasan gerak dan jarak, telah dijamin rezekinya oleh Allah. Tidak ada yang hadir ke dunia tanpa rezeki yang sudah Allah siapkan. Tentu saja sebagai makhluk yang paling istimewa di sisi Allah, manusia lebih terjamin kepastian rezekinya.

Jaminan rezeki itu termasuk untuk anda. Bagian dari ciptaan Allah yang paling mulia. Tidak perlu ada kekhawatiran yang berlebihan untuk mengejar rezeki Allah di dunia, apalagi sampai harus mengorbankan hal-hal yang prinsip dalam hidup kita. Kalau salah satu bentuk rezeki direpresentasikan dengan uang, maka jangan sampai nilai-nilai prinsipil dalam ajaran agama kita gadaikan demi setumpuk uang. Jangan sampai demi uang, akhlak mulia kita terpinggirkan, silaturrahim antar keluarga terputus, diganti oleh sikap saling benci, saling berkelahi, saling menjatuhkan, dan lain sebagainya.

Bagaimana hakikat keberlimpahan rezeki dapat kita rasakan? Banyaknya pemberian Allah baru kita temukan tatkala kita mengingatnya, menyebutnya satu per satu, yang ternyata tidak terhitung jumlahnya. Ternyata rezeki dari Allah melimpah-ruah dan tidak bertepi. Siang malam kita berhamburan anugerah Allah, bahkan setiap jam, setiap menit dan setiap detik perjalanan hidup kita penuh dengan keberlimpahan anugerah.

Jadi persoalannya bukan apakah rezeki dan anugerah itu ada pada kita atau tidak, akan tetapi lebih kepada persoalan apakah kita menyadari atau tidak bahwa pada hari ini dan saat ini kita sedang merasakan, menikmati dan terus mendapatkan rezeki Allah yang berlimpah tidak pernah terhenti.

Ada pepatah menyatakan; kesehatan adalah mahkota yang dimiliki oleh orang-orang yang sehat. Akan tetapi mahkota itu hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang sakit.

Ungkapan tersebut menyiratkan bahwa seringkali manusia tidak menyadari bahwa ia mendapat limpahan rezeki yang begitu banyak, namun sayangnya keberlimpahan rezeki baru bisa dilihat oleh orang yang tidak mendapatkannya. Hal ini sekaligus pesan bagaimana menyadari rezeki kita dengan cara melihat dari sudut pandang orang yang tidak diberikan rezeki itu kepadanya. Di samping itu, pernyataan tersebut juga menyiratkan bahwa kadangkala kesulitan, kehilangan, dan ketiadaan adalah cara Allah menumbuhkan kesadaran keberlimpahan rezeki kepada manusia. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Dosen STIU Al-Hikmah

Lihat Juga

Mensyukuri Rezeki Allah SWT