Home / Berita / Opini / Ketika Merah Putih Berkibar di Langit Gaza

Ketika Merah Putih Berkibar di Langit Gaza

Ilustrasi (act.id)
Ilustrasi (act.id)

dakwatuna.com – Baru genap satu pekan kita merayakan kemerdekaan Indonesia, euforia-nya masih terasa hingga sekarang. Kibaran merah putih masih ramai menghiasi rumah-rumah warga. Sebuah kemerdekaan yang diraih melalui perjuangan yang tak kenal lelah. Meneteskan keringat dan juga darah. Kemerdekaan yang kini dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia hingga ke pelosok negeri.

Usia negeri ini sudah cukup tua. Ya, negeri ini memasuki usia 71 tahun. Untuk ukuran seorang manusia, usia ini adalah masa-masa penuh uzur, fisik melemah, tampilan rambut sudah memutih, bahkan sudah banyak yang rontok. Gigi sudah banyak yang tanggal. Jalan pun tak lagi segagah dulu. Itu kira-kira untuk ukuran usia manusia.

Tapi untuk ukuran sebuah negara besar seperti Indonesia. Usia 71 adalah usia kematangan. Menjadi negara yang lebih berdikari, berkarya dan lebih dari, itu dapat membantu bangsa-bangsa lain sebagai simbol kebesaran hati dan kematangan jiwa.

Cerminan akan kekayaan hati negeri ini terdapat dalam pembukaan UUD 45. Dalam paragraf pertama yang berbunyi, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Tentunya kata-kata itu dipilih oleh pendiri negeri bukan sembarang sebut, namun sebagai bentuk komitmen bangsa Indonesia nantinya, yang terdepan dalam menentang kolonialisme dan memperjuangkan kemerdekaan seluruh bangsa di dunia. Sehingga pijakan inilah yang terus menerus diperjuangkan silih-berganti oleh pemimpin negeri ini.

Dan di era-modern ini, masih terdapat satu negeri yang hidup di bawah penjajahan. Ia adalah Palestina. Komitmen pemerintah Indonesia dalam menjalankan UUD 45 akan terus diuji, akankah terus setia memperjuangkan kemerdekaan Palestina yang dijajah oleh Israel sejak 68 tahun silam?

Hubungan Indonesia dan Palestina bukanlah seumur jagung. Hubungan keduanya sangat erat. Bahkan sebelum negeri ini mendeklarasikan kemerdekaannya pada hari Jumat, 9 Ramadhan 1364 H atau 17 Agustus 1945 lalu.

Seperti yang pernah diutarakan oleh M. Zein Hassan, Lc (Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia) dalam sebuah buka berjudul “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” (hal. 40) yang menyebutkan adanya dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia di saat negara-negara di dunia belum berani menentukan sikap.

Adalah beliau, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, mufti besar Palestina yang pertama kali menyampaikan ucapan selamat kepada Indonesia melalui Radio Berlin berbahasa Arab, yang didengar oleh seluruh dunia Islam kala itu. Peristiwa bersejarah ini terjadi pada tanggal 6 September 1944, satu tahun sebelum Indonesia merdeka.

Saat itu Palestina masih berada di bawah jajahan Inggris. Artinya kendati berada di bawah penjajahan mereka memberikan dukungannya kepada bangsa Indonesia. Apa yang terjadi selanjutnya? Ya, Indonesia mendapat banjir dukungan dari Mesir, Suriah, Iraq dan negara muslim lainnya.

Ada pun Palestina sendiri, pada masa itu justru beralih ke tangan penjajah lain. Dari Inggris diserahkan kepada Zionis Israel. Kita berhasil merdeka, namun Palestina tetap hidup di bawah penjajahan bahkan hingga sekarang.

Kondisi Palestina terus memburuk. Di kala kita sibuk membangun negeri, mereka masih harus berjuang bersimbah darah untuk meraih kemerdekaan.

Namun demikian, baik Indonesia dan Palestina keduanya tetaplah saling mendukung, walaupun masih berada dalam dua kondisi yang berbeda. Indonesia sejak kemerdekaannya tetap komitmen untuk memerdekakan Palestina dari penjajah Israel. Dan Palestina menyampaikan apresiasinya kepada Indonesia yang anti imperialisme dan mendukung kedaulatan negara Palestina.

Di Indonesia saat ini banyak didapati LSM-LSM ataupun ormas dan partai yang mendukung perjuangan Palestina. Beberapa LSM untuk Palestina konsisten untuk menggalang bantuan, mulai dari pengumpulan bantuan yang bersifat materi, maupun non materi seperti dukungan di bidang diplomasi hingga penyebaran informasi terkini.

Tidak sulit bagi kita jika ingin menyalurkan bantuan untuk rakyat Palestina yang hidup tertindas di bawah penjajahan. Begitu pula untuk mendapatkan informasi, banyak media yang memberikan kabar terkini tentang kondisi mereka saat ini. Mengabarkan tentang kesulitan mereka hidup di tanah kelahirannya sendiri di bawah blokade penjajah Israel. Mereka harus menghadapi beragam krisis kemanusiaan, seperti pengusiran dari tempat tinggalnya, hingga terpaksa menjadi pengungsi di negeri orang selama berpuluh-puluh tahun.

Kendati hidup di bawah himpitan blokade, rasa terimakasih rakyat Palestina kepada Indonesia tak pernah lekang. Baru-baru ini ada laporan dari seorang relawan Palestina di Jalur Gaza, yang memberitakan pelaksanaan upacara hari kemerdekaan Indonesia di sana. Pesertanya adalah warga Palestina sendiri, sungguh sebuah pemandangan yang asing bagi kita.

Kalau di setiap hari peringatan kemerdekaan kita sering mendapati di media elektronik kerap memberitakan upacara WNI di kantor kedubes Indonesia di luar negeri, kali ini upacara justru dipimpin dan diisi oleh warga non WNI yaitu warga Palestina.

Mereka membawa bendera Indonesia, lalu mengibarkannya dengan iringan lagu Indonesia Raya di atas tanah Palestina. Kita sebagai orang Indonesia tentu akan haru menyaksikan upacara itu. Haru karena mereka adalah orang-orang yang terzalimi dan belum merasakan kemerdekaan, namun sangat menghormati kita. Haru karena di tengah kesempitan hidup yang dihadapi, mereka masih sempat merayakan peringatan kemerdekaan negara saudaranya yaitu Indonesia.

Kalau kita telaah sejarah, Indonesia lah yang memiliki hutang kepada mereka. Mewakili warga Palestina, Syaikh Amin Al-Huseini menjadi pelopor pengakuan dunia terhadap kedaulatan Indonesia pada 71 tahun silam. Lantas masih adakah di antara kita yang mengingkari ketulusan saudara-saudara kita di Palestina dalam mencintai saudaranya di Indonesia? Tentu mereka melakukan perayaan itu bukan dasar motif materi, karena materi yang kita berikan toh tidak bisa memerdekakan mereka hingga sekarang. Mungkin mereka hanya ingin menyampaikan rasa cintanya dan mengucapkan terimakasih kepada Indonesia melalui upacara peringatan 17 Agustus itu. Karena mereka sadar, mungkin baru itu yang bisa mereka lakukan saat ini sebagai ucapan terimakasih.

Sang saka merah putih akhirnya berkibar di langit Gaza. Bersanding dengan bendera Palestina. Mungkin mereka tidak berharap kita melakukan hal yang sama dengan mereka, tapi sebagai bangsa yang besar sudah selayaknya kita membaca pesan akan sebuah harapan. Harapan agar kita menjadi negara yang terus memperjuangkan kemerdekaan mereka sampai titik darah penghabisan. Karena dukungan yang diberikan bukan pertimbangan nurani manusia semata yang menuntut kebebasan, namun juga karena ikatan keyakinan, karena mereka adalah saudara seiman. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading...
Avatar
Alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Peneliti di Pusat Studi Islam Wasathiyah dan Aktivis Palestina di LSM Asia-Pacific Community For Palestine

Lihat Juga

Qatar Kepada AS: Palestina Menanti Solusi Politik Yang Adil

Organization