Topic
Home / Berita / Daerah / Beberapa Alasan Mengapa PDIP Disarankan Tidak Dukung Ahok

Beberapa Alasan Mengapa PDIP Disarankan Tidak Dukung Ahok

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama. (rmol.co)
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama. (rmol.co)

dakwatuna.com – Jakarta.  Hingga saat ini Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) belum menentukan siapa calon yang akan didukung maupun diusung untuk menjadi kandidat orang nomor satu di DKI.

Di internal PDIP sendiri memang masih terjadi tarik ulur tentang siapa yang akan diusung, apakah akan mengajukan calon sendiri atau mengusung calon lain.

Tidak sedikit memang kader PDIP yang menolak jika partainya memberikan dukungan kepada Ahok, salah satunya datang dari Anggota DPR dari Fraksi PDIP Andreas Hugo Pareira.

Andreas menilai bahwa Ahok melihat partai politik hanya sebagai kuda tunggangan guna mencapai tujuan, yakni berkuasa di DKI Jakarta.

Dia juga berpendapat cara berpikir Ahok sangat pragmatis. Semua cara bisa digunakan. “Entah itu Teman Ahok, entah itu parpol atau apa pun alat yang digunakan yang penting adalah dia berkuasa.” Setelah berkuasa, Andreas menambahkan, Ahok akan dengan mudah mencampakkan alat itu jika dirasa tidak lagi bermanfaat, ujarnya seperti dikutip dari tempo.co

Hal senada juga disampaikan oleh pengamat politik dari Universitas Airlangga (Unair), Airlangga Pribadi, menyarankan PDI Perjuangan (PDIP) untuk berpikir ulang jika ingin mendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada Pilkada DKI 2017.

Menurut dia, partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri ini harus lebih jeli dalam menjaring aspirasi masyarakat Jakarta, terutama konstituen PDIP. Dia mengatakan, garis perjuangan PDIP adalah membela rakyat kecil dan memang kebanyakan pemilih PDIP di Jakarta adalah warga miskin.

“Di Jakarta, warga miskin pemilih PDIP ini menjadi korban penggusuran Ahok demi membangun proyek-proyek dari pengembang, salah satunya proyek reklamasi,” kata Airlangga, Kamis (25/8/2016) sebagaimana dilansir republika.co.id

Selain itu, rekam jejak Ahok yang tidak pernah loyal kepada partai pengusungnya harus menjadi pertimbangan PDIP. Ahok, kata dia, selalu meninggalkan partai pengusungnya jika keinginannya sudah terpenuhi.

Misalnya saja saat 2011, Ahok meninggalkan Golkar demi menerima tawaran Gerindra menjadi cawagub Jokowi saat Pilkada DKI 2012 lalu. Setelah itu dia keluar dari Gerindra. “Jadi, tidak ada jaminan Ahok akan setia pada PDIP,” ujarnya.

Dia juga menyarankan agar PDIP tidak tergiur pada transaksi jangka pendek yang mungkin ditawarkan Ahok. Menurut dia, PDIP harus melihat efek jangka panjangnya ketika mendukung mantan bupati Belitung Timur tersebut.

Munculnya aspirasi warga Jakarta agar memunculkan Risma untuk melawan Ahok menandakan memang ada yang salah dari diri Ahok.

“Mungkin artinya banyak warga yang tidak menyukai Ahok. Jangan sampai PDIP mendapat label sebagai partai yang tidak berjuang bersama rakyat hanya karena mendukung Ahok karena akan berpotensi membawa dampak buruk untuk PDIP, terutama pada Pemilu 2019 mendatang,” jelasnya. (SaBah/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Ustadz Yusuf Supendi Meninggal Dunia

Figure
Organization