Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Cinta Itu Nyata

Cinta Itu Nyata

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Hari paling indah adalah hari ketika kamu sadar bahwa kamu telah dilahirkan dari pernikahan suci. Hari ketika kamu tahu bahwa kamu pernah berada di Rahim seorang shalihah yang tetap beri’tikaf di malam Ramadhan tanpa mengeluh betapa beratnya mengandungmu. Ketika kamu menyadari bahwa tangis pertamamu di dunia adalah kebahagiaan bagi semua orang.

Hai anak-anak singa, pernahkah kalian menyadari betapa beruntungnya jadi anak-anak singa?

Pernahkah mensyukurinya?

Jika cinta itu kecil, akan mudah terlihat. Jika cinta itu sangat besar, sebenarnya sangat sulit dilihat – In Hae dalam Good Doctor.

Adakah dari kita yang sangat sulit melihat betapa besar cintanya ummi dan abi pada kita, anak-anaknya?

Adakah kita lupa, bahwa karena cintaNya pada kita, Ia tetapkan kita lahir pada keluarga yang tak hanya sekedar mencari makan dan minum tapi juga menyebarkan kehangatan ke seantero negeri melalui dakwah?

Adakah mata kita yang tak melihat atau mata hati kita yang tertutup?

Maka sebenarnya, bukan karena besar atau kecilnya cinta yang menjadikan kita sulit melihatnya. Sesungguhnya, masalahnya ada pada mata bathin kita yang terkadang tertutupi oleh awan-awan prasangka dan dosa, yang karenanya, jadi sulit bagi kita untuk menerima dan memahami cinta-cinta tulus yang diberikan ummi dan abi kita.

Ummi dan abi sibuk terus. Mereka bahkan nggak punya hari Ahad untuk anak-anaknya!

Padahal kerjanya ummi dan abi tak hanya kerja dunia. Peluh mereka tak hanya untuk menyekolahkanmu sampai kau bisa kerja dan punya rumah. Lebih dari itu, mereka berjuang agar bisa persembahkan rumah untukmu dan adik-adikmu di Firdaus-Nya kelak. Tak perlu istana, cukuplah rumah, namun lengkap dengan anak-anaknya, berkumpul di Jannah-Nya, bertetanggakan Rasulullah dan para sahabat; mungkin adalah pinta yang tak putus ditangiskan mereka di tiap tahajjudnya.

Karena ummi dan abi bukan hanya milik kita, mereka juga milik ummat. Amanahnya bukan hanya kita, darah dagingnya. Tapi orang-orang di luar sana yang juga memiliki ikatan yang sama kuat bagai ikatan darah, saudara sesama muslim.

Ummi dan abi memang bukan siapa-siapa. Hanya manusia biasa yang banyak khilafnya. Tapi cinta mereka untuk dakwah ini begitu sempurna. Mereka bukan orang-orang pertama yang mengawali dakwah ini. Walau mereka tidak terkenal, ku yakin, mereka sama-sama tak ingin jadi pemutus perjuangan ini. Karena itu, dengan segenap asa, mereka berusaha sekuat tenaga untuk melangkah di jalan ini. Mengejar ketertinggalan mereka dengan assabiqunal awwalun dakwah di bumi pertiwi ini.

Biarlah nama mereka tak tertulis di mana pun. Biarlah perjuangannya tetap jadi perjuangan sunyi, yang tak menarik untuk dijadikan berita dan kejaran para wartawan. Dan biarlah hanya Allah saja yang membalas perih dan letih ummi abi.

Kita tak perlu berteriak betapa bangganya kita pada ummi abi. Sebab sakit rasanya bila berteriak bangga padahal kau menangis dalam hati karena tak pernah memiliki ummi dan abi di hari Ahad. Miris rasanya harus berteriak-teriak ‘kami bangga, kami bangga,’ padahal kita sama-sama pernah mengeluhkan ‘pekerjaan akhirat’ ummi dan abi.

Hidup bukan untuk membangga-banggakan sesuatu. Karena sejatinya kita di dunia ini tidak memiliki apa-apa, maka tak pantas untuk membanggakan sesuatu yang bukan milik kita. Ummi abi dan segala yang ada di dunia ini adalah milik Allah, yang suatu hari nanti akan menghadap  Allah satu persatu. Kita pun juga bukan milik ummi dan abi seutuhnya. Kita hanya titipan, amanah yang Allah berikan untuk ummi dan abi. Yang suatu hari nanti juga akan menghadap Allah. Maka, atas segala hal yang sementara ini, marilah kita saling bersyukur atas sekecil apapun nikmat Allah. Bersyukur karena Allah telah pilihkan ummi dan abi yang luar biasa, yang tak hanya mendidik anak-anaknya tapi juga mendidik umat. Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah, Rabb semesta Alam.. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Penghafal Qur’an yang sedang dididik menjadi dokter di FK UNS, Solo. Aktif dalam UKM Ilmu Qur’an UNS.

Lihat Juga

Program Polisi Pi Ajar Sekolah, Pengabdian Polisi Jadi Guru SD dan TK

Organization