Home / Berita / Silaturahim / PKPU dan Dosen PLB FKIP UNINUS Gandeng Masyarakat Untuk Merintis Desa Inklusif

PKPU dan Dosen PLB FKIP UNINUS Gandeng Masyarakat Untuk Merintis Desa Inklusif

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
PKPU menggelar Workshop Anak Berkebutuhan Khusus di Gedung SLBN Cileunyi, Kab. Bandung, Sabtu (20/8/2016). (Fadsupp/Putri/PKPU)
PKPU menggelar Workshop Anak Berkebutuhan Khusus di Gedung SLBN Cileunyi, Kab. Bandung, Sabtu (20/8/2016). (Fadsupp/Putri/PKPU)

dakwatuna.com – Bandung.  “Anak saya sampai sekarang belum bisa membaca”. “Anak saya telinganya tidak mendengar, saya tidak tahu bagaimana cara mengajarnya di rumah. Padahal, dia rajin, bahkan lebih rajin dari kakaknya”. “Anak saya itu tidak fokus. Susah konsentrasi. Akibatnya, nilainya selalu jelek”. Demikian  antara lain yang disampaikan oleh ibu-ibu yang tinggal di Desa Cinunuk, ketika ditanyakan mengenai kondisi anak mereka.

“Saya menjadi tahu lebih banyak lagi ternyata anak ABK itu jenisnya bermacam-macam dan ternyata banyak juga anak didik kami yang mengalami ABK”, ungkap salah seorang guru.  “Saya sebagai guru akan lebih memperhatikan anak didik sesuai dengan kriteria masing-masing anak untuk kemajuan pembelajaran”, tekad Iis Sukaesih, guru SDN Cinunuk 7 .

Orang tua, Guru dari SD selingkungan Cinunuk dan masyarakat turut terlibat aktif  dalam Workshop PKPU yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 20 Agustus 2016  di Gedung SLBN Cileunyi, Kab. Bandung. Dosen-dosen Pendidikan Luar Biasa (PLB) FKIP Uninus Bandung menjadi pemateri dan fasilitator  dalam kegiatan yang dilakukan 1 (satu) hari penuh tersebut.

Akademisi Pendidikan Khusus dari PLB FKIP Uninus, Ranti Novianti, M.Pd menyebutkan bahwa jumlah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Indonesia terkategori  cukup besar. Menggunakan asumsi PBB, paling sedikit 10 persen anak usia sekolah (5-18 tahun) memiliki kebutuhan khusus, diperkirakan kurang lebih ada 4,2 juta ABK yang ada di Indonesia dan masih sedikit yang memperoleh pendidikan layak.

Wakil Gubernur Jawa Barat, Dedi Mizwar pernah menyebutkan bahwa angka partisipasi kasar (APK) anak dengan disabilitas di Jabar baru mencapai 12 persen.

“Itu baru mengacu kepada data yang dimiliki. Kita meyakini, bahwa ada fenomena gunung es, masih banyak anak-anak berkebutuhan khusus ABK) yang belum terdata sehingga mereka belum mengakses pelayanan pendidikan yang baik dan tepat.” Konsultan dari Pusat Pengembangan Potensi Anak Sanggar Rainbow ini juga menyampaikan,“Peningkatan kapasitas guru, orang tua dan masyarakat untuk memberikan pelayanan pendidikan kepada ABK, juga satu hal lagi yang harus semakin ditingkatkan.”

Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU yang peduli dengan issue penanganan pendidikan anak menggulirkan Program Rintisan Desa Inklusif.  Seluruh elemen masyarakat dengan berbagai potensi yang dimiliki digugah untuk bersinergi menjadi sebuah kekuatan besar  hingga mampu mewujudkan masyarakat yang berdaya dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan anak, termasuk ABK.

Kiki Rejeki, Kepala Cabang PKPU Bandung menyampaikan program Rintisan Desa Inklusif merupakan program yang digulirkan PKPU Bandung sebagai upaya untuk mewujudkan lingkungan yang ramah dan aman bagi anak. Tidak terkecuali bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

“Anak berkebutuhan khusus seringkali disalahartikan oleh masyarakat. Bahkan karena kurang pahamnya masyarakat terhadap ABK, mereka sering dianggap negatif di tengah-tengah masyarakat”, jelasnya.  “Edukasi dan sosialisasi perlu digencarkan kepada masyarakat. Tidak jarang dilapangan kita menemukan ABK yang sampai dikurung di kandang Ayam dll. Ini sangat mengkhawatirkan. Padahal dengan perlakuan yangg tepat, ABK bahkan bisa lebih unggul dibandingkan anak pada umumnya” ungkap Kiki Rejeki.

Kepala Sekolah SLB Cileunyi menyambut baik inisiatif program yang akan dilaksanakan ini. Ia menjelaskan bahwa  pemerintah, orang tua, sekolah dan masyarakat perlu didorong untuk mendukung pendidikan yang inklusif, pendidikan yang ramah anak, tidak hanya di sekolah tapi juga di lingkungan mereka. “Semoga Program Rintisan Desa Inklusif ini dapat berjalan dengan baik, harus didukung sehingga mencapai tujuannya”, ucapnya.

Siti Sofiah, Guru SD  Cinunuk 2, salah seorang peserta  workshop menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat untuk menambah ilmu pengetahuan sebagai bekal untuk mengajar dan di masyarakat. Anak dapat ditangani dengan tepat sesuai dengan kebutuhannya. Ia juga berharap agar kegiatan ini berkelanjutan.

Kiki dalam sambutannya juga menjelaskan bahwa  Program Tabung Peduli yang menghimpun sedekah dan sumbangan dari murid-murid berbagai sekolah&lembaga yang menjadi mitra PKPU turut berkontribusi besar dalam pelaksanaan program ini. Setelah workshop akan dilanjutkan pendampingan yang akan dilakukan kepada guru-guru, orang tua dan kader dan tokoh masyarakat.  PKPU berharap pemerintah desa dan masyarakat Cinunuk khususnya turut serta mendukung program “Desa Inklusif” tersebut.

Praktisi Pemberdayaan Masyarakat, Fadly Halim Hutasuhut, S.IP, MPS, Sp menyampaikan bahwa masyarakat sejatinya memiliki potensi masing-masing. Akademisi, Tokoh Masyarakat dan Kader, Pemerintah Desa hingga pusat, Pengusaha, NGO/LSM juga adalah bagian dari masyarakat.  Ia menyatakan, “Pemberdayaan masyarakat, adalah bagaimana semua elemen dari masyarakat tadi menyumbangkan potensi-potensi mereka, bersinergi bersama dalam proses, perencanaan dan  pelaksanaan hingga pengawasan dan pemberian dukungan.”  “Berjamaah itu lebih baik dalam pencapaian tujuan”, pungkasnya.

Program Rintisan Desa Inklusif PKPU  ini turut didukung oleh Pusat Pengembangan Potensi Anak Sanggar Rainbow, Dosen dari Pendidikan Luar  Biasa FKIP Universitas Islam Nusantara Bandung, RC dan SLBN Cileunyi  serta  tokoh masyarakat dan kader di Desa Cinunuk. (Fadsupp/Putri/PKPU/SaBah/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar

Lihat Juga

Sinabung Meletus, PKPU Human Initiative Terjunkan Tim Rescue

Organization