Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Islam Menghendaki Kemudahan

Islam Menghendaki Kemudahan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (id.finspi.com)
Ilustrasi. (id.finspi.com)

dakwatuna.com – Islam adalah agama yang sangat menyayangi pemeluknya. Islam menyukai kemudahan dan membenci kesukaran dalam agama. Tidak ada ajaran Islam yang bertujuan menyulitkan manusia. Semua aturan dalam agama Islam adalah untuk memudahkan manusia. Allah menurunkan agama Islam dan dibawa oleh Rasulullah SAW sesuai dengan fitrah manusia sehingga apa yang diaturnya merupakan hal yang paling mendasar dan paling baik bagi kehidupan.

Allah menganugerahkan Islam kepada seluruh umat manusia dengan berbagai kemudahan syariatnya. Bahkan Allah menegaskan bahwa Dia mencintai kemudahan dalam agama. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 185,

“…… Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.

Allah, dengan bahasa yang lugas, to the point, dan mudah dimengerti menjelaskan bahwa agama Islam adalah agama yang paling mudah dan paling selamat. Karena segala kemudahan yang diaturnya tidak terlepas dari batasan-batasan syariat sehingga kemudahan itu tidak menjadikan kita bebas sewenang-wenang.

Dalam sebuah Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, dari Ibn Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“sesungguhnya Allah mencintai diamalkannya rukhsah yang diberikan sebagaimana Allah mencintai diamalkannya perkara-perkara yang diwajibkan”.

Rukhsah artinya keringanan. Keringanan yang dimaksud adalah keringanan dalam menjalankan syariat Islam ketika ada udzur (halangan) syar’i. Misalnya seseorang yang sedang dalam perjalanan jauh diberi rukhsah untuk berbuka (tidak berpuasa). Hal ini dimaksudkan agar ia tidak mengalami kesulitan maupun mudharat. Dalam Islam dikenal maqashid syariah (tujuan ditetapkannya syariat) atau ushulul khamsah (lima hal pokok) yang salah satunya adalah hifdzul nafs atau menjaga nyawa.

Rukhsah ketika safar atau bepergian jauh dimaksudkan untuk menjaga diri seorang muslim karena jika dipaksakan maka akan membahayakan diri orang itu. Namun apabila dia yakin bahwa dirinya mampu berpuasa ketika safar maka berpuasa lebih utama bagi dirinya. Namun apabila dia merasa berat berpuasa ketika safar maka berbuka lebih utama baginya. Sebagaimana riwayat dari Abu Said  Al-Khudri,

“Para sahabat berpendapat siapa saja yang merasa kuat kemudian puasa maka itu baik baginya, dan siapa saja yang merasa lemah kemudian berbuka maka itu baik baginya”.

Betapa pengertiannya Islam, membebaskan seseorang untuk memilih melaksanakan kewajiban atau mengambil keringanan. Dan kedua hal itu merupakan kebaikan baginya. Tidak hanya dalam hal puasa saja keringanan diberikan. Dalam perkara-perkara yang diwajibkan lainnya juga terdapat keringanan. Misalnya dalam hal shalat fardhu, seseorang boleh menjamak (menggabungkan dua shalat), mengqashar (meringkas shalat), maupun menjamak qashar shalat ketika dalam perjalanan jauh.

Islam sangat toleran terhadap berbagai hal demi kebaikan pemeluknya. Dalam perkara yang diwajibkan pun terdapat kelonggaran, tentu dalam perkara sunnah lebih banyak kelonggarannya. Kelonggaran atau keringanan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya dalam menjalankan ajaran Islam adalah suatu karunia yang sangat besar.

Bahkan dalam kaidah fiqh pun terdapat suatu kaidah yang menjelaskan betapa Islam sangat memudahkan seseorang. Salah satu kaidah fiqh menyebutkan masyaqqoh mendatangkan kemudahan.

Masyaqqoh artinya adalah merasa berat. Sehingga apabila seseorang merasa berat melakukan suatu amalan wajib karena ada udzur maka syariat Islam meniscayakan adanya kemudahan. Jika seseorang tidak bisa shalat dengan berdiri karena sakit maka ia boleh shalat dengan duduk, jika tidak bisa duduk maka ia boleh shalat dengan berbaring, jika tidak bisa berbaring maka ia boleh shalat dengan isyarat di dalam hati.

Ketika tidak ada air untuk berwudhu maka ia boleh berwudhu dengan debu (tayamum). Bahkan ketika sakit yang jika berwudhu menggunakan air ia dikhawatirkan sakit semakin berat atau semakin lama sembuhnya, maka ia boleh melakukan tayamum. Tidak hanya itu, dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk berwudhu dengan air misal sedang di dalam kendaraan maka ia boleh bertayamum.

Kemudahan-kemudahan yang diberikan Islam adalah kemudahan yang paling sempurna. Betapa bahagianya menjadi seorang muslim. Segala sesuatunya adalah kebaikan. Syariat Islam tidak memaksa seseorang untuk melaksanakan kewajiban secara kaku dan kolot. Islam selalu memberikan keringanan bagi seseorang yang memiliki udzur dalam pelaksanaan suatu amalan yang diwajibkan.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”.

Di dalam QS. Asy-Syarh ayat 5-6 di atas disebutkan bahwa ketika datang kesulitan maka Allah akan memberikan kemudahan. Ayat ini bahkan diulang dua kali sebagai penegasan bahwa Allah menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya. Allah menciptakan manusia dengan sifat lemah dan rentan. Sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nisa : 28,

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah”.

Jelaslah bahwa dengan karunia-Nya, manusia yang secara fitrah adalah lemah, mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam melaksanakan syariat. Allah-lah yang menciptakan manusia, dan Allah pulalah yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Untuk itu Allah menurunkan agama Islam ke bumi bagi seluruh manusia. Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin, dan ini terbukti dengan adanya Islam, manusia telah hijrah dari kegelapan menuju cahaya. Kehidupan beragama menjadi mudah dan indah, teratur dan makmur, nyaman dan aman, serta bahagia dunia dan akhirat. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Sedang menempuh pendidikan sarjana di UIN Jakarta jurusan Perbandingan Mazhab Fiqh, mengisi waktunya sebagai penulis muda di Forum Lingkar Pena cabang Ciputat serta sebagai mudabbir di Ma’had Al-Jami’ah.

Lihat Juga

Anggota DPR AS: Trump Picu Kebencian pada Islam di Amerika

Figure
Organization