Home / Narasi Islam / Sosial / Ada Seni Melayani dalam Kepemimpinan

Ada Seni Melayani dalam Kepemimpinan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (fnaj.pt)
Ilustrasi. (fnaj.pt)

dakwatuna.com – Barangkali setiap manusia akan selamanya berpikir tentang kehidupan sepanjang waktu yang bisa dihabiskan. Karena ada saja segolongan manusia yang menjalani hidup hanya sekadar menerka-nerka saja. Tentang apa yang akan terjadi di masa depan, mereka tidak memikirkan. Tentang masa lalu, bagi mereka, sudah barang tentu tidak perlu ditanyakan. Hidup bagi mereka adalah bagaimana menjalani hari ini dan menikmatinya dengan segala kebahagiaan yang menurutku mereka bisa didapat. Apa yang ada dalam pikiran mereka hanyalah sebatas merayakan kehidupan setiap harinya.

Golongan manusia ini dapat dikatakan memiliki orientasi hidup yang cukup sederhana, yaitu mendapatkan kebahagiaan dalam hari-hari mereka selama waktu masih diberikan di dunia. Sesederhana mengisi waktu di pagi hari Minggu dengan menikmati secangkir kopi.

Pada dasarnya setiap manusia yang diciptakan oleh Tuhan di atas Bumi ini selalu mencari lima hal. Kelima hal ini tidak selalu terkait dengan fase umur kehidupan manusia. Bahkan, lima hal ini secara universal menjadi tolak ukur utama hakikat bermaknanya kehidupan seorang individu(manusia).

Joy atau kesenangan adalah hal pertama yang dicari manusia ketika masih anak-kanak. Kemudian, beranjak remaja, existence atau eksistensi adalah hal yang dicari. Lalu, pencarian akan wealth menjadi alam bawah kesadaran manusia sejak mulai mendewasa. Secara umum, ketiga hal inilah yang dicari oleh setiap manusia di seluruh Bumi, yaitu golongan manusia yang telah disebutkan sebelumnya. Ketiga hal ini masih berhubungan dengan kebutuhan personal dan bersifat orbital. Artinya pencarian yang berjenjang lebih tinggi tidak menafikan pencarian jenjang yang lebih rendah dari padanya.

Namun, ada segolongan manusia yang cara kerja hidupnya menembus batas pikiran mayoritas manusia. Mereka adalah orang-orang yang sudah tidak lagi hanya memikirkan pribadinya saja. Mereka mencari impact yang dapat mereka berikan kepada orang-orang di sekitarnya. Alam pikiran mereka selalu diselimuti oleh satu pertanyaan, apa yang bisa saya berikan kepada dunia hari ini? Mereka inilah yang biasa disebut sebagai philanthropist.

Tidak berhenti pada tingkatan ini saja. Sebagian kecil manusia ada yang cara pandang kerja hidupnya menembus batas cakrawala, jauh melampaui dimensi pikiran manusia. Mereka tidak serta merta mengaplikasikan kata kerja ‘memberi’ dalam hidup yang mereka jalani. Ada hal lain yang menjadi orientasi mereka dalam melakukan pemberian kepada dunia, yaitu meniti jalan kebenaran. Merekalah manusia yang telah menemukan truth dalam perjalanan kehidupan di atas Bumi.

Seperti inilah jawaban yang diberikan seorang ayah kepada anaknya yang bertanya akan hidup dan manusia. Secara telaten anaknya diberikan nasihat yang dapat mengajarkannya makna akan kehidupan.

“Ayah, jikalau kelima hal itu yang selalu dicari manusia di atas muka Bumi ini, lalu apakah semua pemimpin yang kita kenal juga termasuk di dalamnya?”

Ayah tersenyum mendengar pertanyaan anaknya yang baru beranjak remaja. Ia kemudian menata kembali posisi duduknya seraya menatap anaknya lekat-lekat.

“Nak, dengarkan jawaban ayah baik-baik. Semoga ini bisa menjadi nasihat terbaik bagimu dalam menjalani kehidupan kelak di masa depan.”

Anak itu mulai memasang telinga lebih tajam dari biasanya.

Pemimpin adalah diri kita sendiri. Percayalah bahwa Tuhan menciptakan manusia sebagai pemimpin sejak dilahirkan di dunia. Sama halnya dengan diri anak tersebut. Jika anak itu ragu akan hal ini, maka ingatlah perkataan terbaik yang keluar dari mulut manusia paling mulia sepanjang masa.

Ketahuilah! Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin. Seorang raja yang memimpin rakyat adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka. Seorang istri juga pemimpin bagi rumah tangga serta anak suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Ingatlah! Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.

 Begitulah. Jati diri kita pada dasarnya adalah seorang pemimpin. Setidaknya kita  bertanggung jawab atas diri kita pribadi. Tentu bukan orang lain, kan? Karena setiap pemimpin yang ada di muka Bumi ini adalah manusia itu sendiri, maka sudah dapat dipastikan mereka memimpin diri mereka untuk setidaknya mencari tiga dari lima hal yang pasti dicari oleh manusia normal. Tidak ada pernyataan lain yang dapat mematahkan argumentasi ini. Setiap manusia memiliki ruh kepemimpinan yang mengendap dalam setiap kepribadiannya.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana melarutkan potensi kepemimpinan yang mengendap tersebut dalam jati diri seorang manusia? Parameter yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan ini adalah dengan kembali mengaitkannya kepada hakikat kebermaknaan hidup. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa kebermaknaan hidup seorang manusia sangat bergantung kepada lima hal dasar yang selalu dicari manusia dalam menjalani kehidupan di dunia.

Setidaknya ada tiga tingkatan kepemimpinan seorang individu berdasarkan parameter lima hal yang selalu dicari oleh manusia. Tingkatan paling dasar kepemimpinan seorang manusia adalah Individual Leader. Tingkat kepemimpinan ini dimiliki oleh setiap manusia yang pernah terlahir ke dunia. Fokus utama seorang Individual Leader adalah mencari kebutuhan hidupnya yang tak lain adalah tiga hal pertama yang dicari oleh setiap manusia, yaitu Joy, Existence, dan Wealth. Tiga kebutuhan hidup ini bersifat berjenjang sesuai dengan perkembangan umur dan kedewasaan seorang manusia sejak masa anak-anak hingga dewasa. Namun, pencarian akan kebutuhan yang lebih tinggi tidak menghilangkan kebutuhan yang lebih rendah dari padanya

Seorang Individual Leader orientasi utamanya adalah memenuhi kebutuhan pribadinya. Cara pandang hidupnya berkutat dengan bagaimana caranya mempertahankan hidup. Seorang Individual Leader belum menemukan hakikat selanjutnya dari kebermaknaan hidup, yaitu untuk memberi.  Kata ‘memberi’ menjadi parameter utama dalam mendefinisikan seorang Individual Leader dengan tingkatan pemimpin yang lebih tinggi darinya. Karena pada dasarnya seorang Individual Leader hanya memperjuangkan kepemimpinannya untuk sekadar kesejahteraan pribadinya.

Tingkat kepemimpinan selanjutnya adalah Volunteer Leader. Tipe pemimpin seperti ini sudah memahami bahwa kebermaknaan hidup dapat ia rasakan secara optimal ketika melakukan pemberian kepada orang lain. Ia sudah mencari impact yang bisa ia ciptakan kepada lingkungan dan masyarakat di sekitarnya. Seorang Volunteer Leader selalu mencari wadah yang bisa ia tempati untuk melakukan kontribusi bagi sekitarnya. Oleh karena itu, secara umum dapat dikatakan bahwa hampir semua pemimpin organisasi atau lembaga yang memiliki tujuan bersama dikategorikan sebagai Volunteer Leader.

Prinsip yang dimiliki oleh Volunteer Leader adalah menyebarkan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Baik para anggota internal organisasi atau lembaganya atau masyarakat luas di luar organisasi atau lembaga yang ia pimpin. Ia sudah mencapai pemahaman yang universal mengenai hakikat keajaiban dalam memberi, yaitu keberlangsungan pemberian yang kita lakukan akan senantiasa menciptakan timbal balik yang pasti kelak akan kita dapat nantinya. Entah dalam bentuk yang nyata dan bisa dirasakan langsung oleh seorang Volunteer Leader atau dalam bentuk yang tak bisa diterka oleh hanya sebatas akal manusia.

Tingkat tertinggi kepemimpinan seorang manusia selanjutnya adalah Serving Leader. Atas dasar hal inilah terdapat seni melayani dalam kepemimpinan. Seni yang hanya bisa dipahami oleh sebagian kecil dari pemimpin-pemimpin yang ada di muka Bumi ini. Ia memegang teguh prinsip yang pernah disampaikan oleh orang paling berpengaruh di dunia sepanjang masa bahwa ‘pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi kaum yang ia pimpin.’ Atas dasar prinsip inilah ruang gerak kepemimpinan yang dilakukan oleh seorang Serving Leader menyentuh aspek-aspek eksistensial peradaban manusia, yaitu aspek aksiologis, ideologis, sosiologis, dan ekoteknologi. Seorang Serving Leader memiliki fokus utama dalam pembangunan peradaban manusia berdasarkan empat aspek eksistensial tersebut.

Atas dasar karakter Serving Leader yang telah disebutkan, maka telah jelas tergambarkan bahwa pemimpin-pemimpin yang dikategorikan sebagai Serving Leader adalah manusia-manusia yang sudah berhasil menemukan secara utuh lima hal yang dicari oleh setiap manusia, yaitu boy, existence, wealth, impact, dan truth. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa mereka, para Serving Leader, telah menjalani kehidupan dengan pegangan kebenaran hakiki yang telah mereka temukan dalam sepenggal kisah perjalanan hidup mereka. Mereka yakin bahwa kebenaran tidaklah bersifat relatif seperti kebanyakan manusia yakini. Justru sebaliknya. Kebenaran hakiki adalah kebenaran yang terlepas dari kenisbian dan keterbatasan pola pikir manusia sehingga kebenaran itu sendiri yang bersifat mutlak dan absolut. Bukan kebenaran yang dikatakan sebagai suatu kenisbian, tetapi pola pikir manusia yang bersifat nisbi dan terbatas sehingga dapat menganggap bahwa kebenaran tidak bersifat mutlak.

Hakikat kebenaran inilah yang sejak dahulu diyakini para Nabi sepanjang sejarah peradaban manusia sejak Adam dan Hawa diciptakan. Mereka para Nabi adalah para Serving Leaders. Risalah kebenaran yang dibawakan mereka telah digariskan agar dapat dipahami oleh setiap umat manusia. Apalagi dengan kedatangan Nabi terakhir menjadi penegas bahwa risalah kebenaran telah sepenuhnya dilengkapi menjadi satu kesatuan utuh agar mudah dicari dan diikuti oleh manusia. Maka, sudah sepantasnya manusia mengikuti dan meneruskan risalah kebenaran yang disampaikan oleh para Nabi, jika memang manusia menginginkan kebermaknaan hidupnya bisa dirasakan secara hakiki. Namun, ada satu pertanyaan penting yang seyogianya menjadikan manusia merefleksikan diri.

Apakah  pribadi kita saat ini, sebagai manusia, sudah pantas menjadi seorang Serving Leader layaknya para Nabi? (dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Lahir di Medan, 8 Maret 1996. Saat ini tinggal di Kota Bandung.

Pernah menempuh pendidikan di Yayasan Ummul Quro Bogor, Ma’had Husnul Khotimah Kuningan dan Insan Cendekia Serpong. Memiliki minat dalam sains dan energi serta selalu berusaha mengungkapkan kebenaran ilmiah dengan cahaya ilmu yang berada di Al-Qur’an. Berbagai perlombaan dan prestasi telah diraih olehnya dan Insha Allah dapat menorehkan prestasi yang lebih membanggakan. Dalam hidup berusaha untuk dapat menjadi yang terbaik dintara yang lain dalam ketaqwaan kepada Allah. Semoga Allah memudahkan sekaligus meridhoi apa-apa yang dilakukan olehnya dan ia pun ridho atas apa yang Allah SWT tentukan untuknya.

Saat ini sedang berusaha menggeluti dunia tulis menulis dengan baik dan selalu menjadi mujahid yang haus akan ilmu dan hikmah. Penulis merupakan salah satu mahasiswa dan aktivis dakwah kampus di Institut Teknologi Bandung

??? ???? ?? ????? ??? ? ???? ??

Lihat Juga

“Waa Islaamaah”, Buah Kepemimpinan Shalih Saifuddin Quthuz dan Erdogan