Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Merawat dan Memupuk Potensi Siswa Sekolah Tapal Batas

Merawat dan Memupuk Potensi Siswa Sekolah Tapal Batas

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Festival Anak Sebatik tanggal 4 - 6 Mei 2016. (Achmad Salido)
Festival Anak Sebatik tanggal 4 – 6 Mei 2016. (Achmad Salido)

dakwatuna.com – Siswa-siswa sekolah Tapal Batas MI Darul Furqan selalu memberi kesan unik untuk diceritakan. Selalu ada cerita yang bisa dibagi ketika berinteraksi dengan mereka. Bukan karena mereka  lebih unggul dari siswa-siswa di sekolah lain. Bukan pula karena setumpuk prestasi yang telah mereka raih. Namun lebih pada pesona yang muncul secara alami dari individu mereka. Mereka punya cara sendiri untuk mencuri perhatian banyak orang. Tentang keberanian, kepercayaan diri, dan usaha keras yang tiada henti. Anak-anak ini lahir bukan dari keluarga yang berada. Mayoritas mereka adalah anak para TKI yang sedang mengadu nasib di Negeri Jiran Malaysia. Keunikan anak-anak ini ada pada karakter yang tampak dalam keseharian mereka. Mungkin kondisi lingkunganlah yang membentuk karakter itu. Tampil sebagai anak pemberani, hyperaktif dan selalu bergerak tanpa kenal rasa lelah, serta rasa percaya diri mereka yang tinggi.  Ada karakter tersendiri dari siswa-siswa ini yang kuanggap berbeda dengan yang lainnya. Rasa percaya diri dan keberanian mereka tidak seperti anak-anak pada umumnya. Tidak ada perasaan malu ataupun minder saat diminta untuk tampil dan berbicara di depan umum. Begitu pula saat bertemu dengan orang baru ataupun para tamu yang berkunjung di sekolah.

Setiap kali mengajar di kelas mereka, persiapan saya harus selalu maksimal. Bukan hanya itu, energi saya pun selalu terkuras banyak di kelas ini. Karena harus bisa mengakomodasi setiap anak saat proses pembelajaran berlangsung. Perhatian yang saya berikan juga harus merata ke setiap anak. Juga mereka harus mendapat kesempatan yang sama untuk tampil di depan kelas. Karena kalau tidak, akan ada kegaduhan di antara mereka. Untuk tampil di depan kelas pun mereka saling berebut. Terlepas dari mampu atau tidak menyelesaikan tantangan yang saya berikan. Tidak ada penolakan ketika mereka saya ajak untuk tampil ke depan kelas menjawab pertanyaan ataupun memimpin Ice Breaking. Termasuk siswa yang tergolong lambat dalam mengikuti alur pembelajaran. Kalaupun tidak bisa menjawab, respon khas mereka biasanya hanya berdiri sambil membuat lelucon untuk menghibur teman-teman mereka yang lain.

Mayoritas siswa-siswa di Sekolah Tapal Batas MI Darul Furqan adalah anak-anak kinestetis. Hanya 2 menit waktu yang kita punya untuk melihat mereka belajar dalam posisi tenang. Setelah itu, mereka akan terus bergerak kesana kemari menuruti kehendak hati. Keluar masuk kelas ataupun rebahan di lantai. Ditambah lagi dengan kondisi kelas yang kurang proporsional untuk mengakomodasi mereka agar tetap konsentrasi pada kegiatan pembelajaran. Ruang kelas yang menyatu dengan kelas PAUD dan posisi belajar lesehan, mendukung ketidak kondusifan proses pembelajaran. Sebagian mereka ada yang suka mencatat, ada yang hanya asyik mendengarkan, adapula yang sibuk dengan kegiatan sendiri sambil mengganggu perhatian siswa-siswa lain. Mereka yang suka mencatat selalu menunggu giliran untuk mencatat. Sesekali mereka berceloteh, “Ustadz, lama bah… kapan kita mencatatnya ini?”. “bah” adalah ungkapan khas ala anak-anak Tapal Batas yang menunjukan penekanan terhadap sesuatu yang mereka ucapkan.

Suatu hari saya bersama relawan lainnya yang bertugas di pulau Sebatik berkolaborasi dengan pemuda Sebatik dalam menyelenggarakan Festival Anak Sebatik. Kegiatan ini berisi berbagai perlombaan yang khusus diadakan untuk siswa SD/MI dan PAUD se Pulau Sebatik. Festival Anak Sebatik diadakan dalam rangka memperingati hari Pendidikan Nasional. Sebagai upaya mendorong jiwa kompetitif anak-anak Sebatik dalam berprestasi.

Tanpa menyia-nyiakan peluang, saya bersama tim dari Sekolah Literasi Indonesia menyarankan ke Sekolah Tapal Batas agar siswa-siswa diikutkan dalam lomba Festival Anak Sebatik. Bukan untuk mengejar juara, akan tetapi lebih pada membiasakan mereka berkompetisi secara luas dengan siswa-siswa dari sekolah lain. Terlalu ambisius ketika memaksakan mereka harus  juara dalam lomba tersebut. Sebab Sekolah Tapal Batas masih tergolong dini usianya, ketika dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain. Usianya masih dua tahun, dan sedang memasuki tahun ketiga. Di usianya yang beranjak tiga tahun, kami ingin mengajak siswa-siswa ini untuk keluar dan mencoba berkompetisi dengan siswa-siswa lain. Sekaligus melihat konsistensi kepercayaan diri mereka saat diajak keluar dari lingkungan Sekolah Tapal Batas.

Siswa-siswa Sekolah Tapal Batas memang punya mimpi yang tidak terbatas. Keterbatasan sarana dan prasarana bukan halangan bagi mereka untuk mengasah bakat dan kemampuan. Juga dengan mimpi-mimpi mereka sebagai dokter, polisi, tentara, ustadz, dan guru. Dalam pengamatan saya, mereka punya bakat dan talenta yang belum terekspos secara maksimal. Ada tarian Mapadendang asal Bugis yang menjadi sajian khas mereka dalam menyambut setiap tamu yang berkunjung di sekolah ini. Selain itu kemampuan lainnya adalah hafalan surah-surah Al Qur’an juz 30, hadits dan doa-doa harian yang rutin diulangi setiap hari.

Kegiatan Festival Anak Sebatik adalah ajang pembuktian talenta dan kemampuan siswa-siswa Sekolah Tapal Batas MI Darul Furqan. Ada delapan cabang lomba yang diikuti siswa-siswa dari sekolah ini. untuk tingkat SD/MI ada tujuh lomba yang diikuti, terdiri dari lomba baca puisi, pidato, paduan suara, tarian, catur, lari jarak pendek, dan lomba menggambar. Sedangkan untuk tingkat PAUD, hanya ada lomba mewarnai. Walaupun persiapan para siswa hanya dua minggu untuk mengikuti lomba, namun mereka tetap semangat memanfaatkan sela-sela waktu istirahat untuk latihan. Rasa pesimisme sempat muncul saat menemani mereka latihan. Terutama tentang apakah mereka bisa tampil secara berani dan percaya diri di depan umum? Ataukah mereka memilih untuk tidak hadir saat kegiatan lomba berlangsung. Namun perasaan itu terkikis saat mengingat kembali motivasi awal mengikut sertakan mereka dalam lomba. Ya, tidak lain hanya untuk menumbuhkan jiwa kompetisi mereka. Alhamdulillah dengan segala keterbatasan, mereka bisa tampil percaya diri dan memesona di atas panggung. Kesyukuran lainnya adalah siswa-siswa ini masih bisa meraih juara 3 pada cabang lomba catur dan mewarnai.

Usia Sekolah Tapal Batas walaupun masih tergolong muda, tetapi mental siswa-siswanya tidak kalah dibanding dengan siswa-siswa lain di sekolah yang sudah relatif dewasa usianya. Keberanian dan kepercayaan diri yang  mereka miliki lah yang selalu membuat saya terhibur saat mengabdi di tempat ini. Meskipun terkadang tingkah laku mereka sesekali membuat saya sedikit terganggu. Namun perasaan itu hanya singgah sebentar kemudian berlalu. Sebab mereka punya lebih banyak keunikan untuk diapresiasi. Sapaan ustadz dan tangan-tangan mungil mereka yang selalu menyambut kedatangan kami, menjadi kesan tersendiri bagi saya. (dakwatuna.com/hdn)

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Guru Konsultan Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa

Lihat Juga

Program Polisi Pi Ajar Sekolah, Pengabdian Polisi Jadi Guru SD dan TK

Organization