Topic
Home / Pemuda / Cerpen / Izinkanlah Aku Menjadi Murabbi

Izinkanlah Aku Menjadi Murabbi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (affgani.wordpress.com)
Ilustrasi. (affgani.wordpress.com)

dakwatuna.com – Matahari perlahan merunduk. Menghitamkan Kampus Hijau yang tak lagi hijau. Menguning, atas sorotan cahaya-cahaya lampu menggantikan sinar matahari. Suara adzan telah berhenti berdengung dan orang-orang yang menunduk dan bersujud telah menunaikan kewajibannya. Dan kami bertiga melingkar di selasar Masjid berbincang-bincang hangat menunggu Murabbi kami yang belum kunjung hadir memberikan Tausiyah kepada kami.

“Ka Hakim kemana nih udah mau isya belom dateng ?”. Tanya Gumilar dengan wajah kusamnya.

“Sabar aja gum, Ka Hakim masih di jalan paling, abis pulang kerja kayaknya macet. Tunggu dulu aja.” Agung menenangkan.

“Iyaa sabar aja, mending murojaah An-Naba sebelum ditagih ka Hakim.” Fandy menimpali.

“Ah besok ada tugas nih, belom ngerjain..”. Gumilar mulai jengkel.

“Nitt..nitt..” Sebuah tanda beberapa detik lagi adzan akan dikumandangkan di Masjid Nurul Irfan Universitas Negeri Jakarta.

“Yah, yahh adzan kan tuh”. Gumilar semakin  jengkel.

“Stt diem, mau adzan”. Agung mencoba menenangkan kembali. Dan adzan terdengar syahdu menentramkan jiwa-jiwa yang hatinya bergejolak. Awan yang terus mengalir dan pohon-pohon bergoyang serta angin semakin membuat suasana semakin tentram. Namun tidak dengan Gumilar yang terus meluapkan emosinya menunggu Murabbinya yang tak kunjung hadir.

“Dah yuk sholat dulu”. Fandy bergegas berdiri membuat dua temannnya ikut bergegas pergi ambil wudhu tuk melaksanakan sholat.

Setelah selesai menunaikan kewajibannya yaitu sholat Isya dan sholat sunnah dua rakaat mereka kembali melingkar. Beberapa saat kemudian terlihatlah Ka Hakim berjalan menuju masjid Nurul Irfan. Dan berjalan mendekat menemui mutarabbinya.

“Afwan ane telat, ane sholat dulu. Dibuka aja dulu yaa.”

Setelah dibuka liqoan mereka malam ini, tidak lama ka Hakim hadir selesai melakukan sholat isya dan di mulailah majlis ilmu mereka kali ini.

Majlis ilmu mereka di mulai dengan pembukaan, tilawah dan setoran hafalan Surah An Naba. Barulah Ka Hakim memulai bicara menandakan akan memberikan tausiah. Dan Gumilar, Agung dan Fandy diam fokus mendengarkan.

“Alhamdulillah Allah pertemukan kita kembali dari Rabu yang lalu hingga Rabu berikutnya tuk sharing ilmu setiap minggunya. Allah mudahkan kaki kita dari kemalasan, dari sibuknya urusan dunia dan berbagai cobaan yang menghalangi ke majlis ilmu hingga Allah izinkan kita berada lingkaran majlis ilmu ini.” Ka Hakim membuka awalan sharingnya.

“Iyaa emang cobaan banget nunggu kakak baru dateng dan besok emang ada urusan dunia ka.. ujian dari dosen, duh”. Gumilar mendumel dalam hati kepada dirinya sendiri. Sedang Agung dan Fandy tetap fokus mendengarkan.

Ka Hakim memberikan materi “Haqiqatul Insan”  kepada mutarabbinya. Menjelaskan bagaimana siklus kehidupan manusia apakah hanya lahir, sekolah, kerja, menikah dan meninggal seperti itu saja atau tidak. Dan ia ingin mutarabbinya mempunyai mempersiapkan bekal dunia untuk di akhirat kelak dengan melakukan kebaikan di dunia.

Fandy dan Agung menyimak dengan baik perkataan Murabbinya, namun Gumilar bergelisah setiap saatnya. Terkadang suka mendumel di dalam hatinya. Hingga jam 9 malam mereka selesai menuntut ilmu. Saling bersalaman dan pamit untuk pulang. Tetapi hanya ka Hakim yang tidak beranjak pulang. Menunggu temannya katanya.

Saat pulang menaiki motor Gumilar teringat cacatan kajiannya tertinggal di Masjid Nurul Irfan. Berhubung belum terlalu jauh ia memutar balik motornya dan kembali menuju ke kampus. Hampir sampai di kampus Gumilar melihat seperti ada orang yang dikenalnya mendorong motor. Dan ternyata benar itu adalah ka Hakim. Sontak membuat Gumilar berhenti dan membantunya.

“Ka Hakim kenapa motornya ka ?”.

“Eh kamu gum, iyaa nih motornya mogok ga bisa jalan”.

“Sini saya bantu dorong ka dari motor saya, ka Hakim naik aja di motor.”

Mereka pun jalan mencari bengkel malam yang ada. Setelah cukup lama mencari, dapatlah bengkel malam yang masih buka. Dan Gumilar ikut menemani murabbinya.

“Kenapa ka motornya bisa sampe mogok ?.”

“Oh itu, kecelakaan dikit aja sih. Tadi itu kakak jatoh dari motor, terpeleset sepertinya. Eh tau-tau mogok pas mau di nyalain motornya. Makanya tadi kakak rada telat datengnya.”

Gumilar pun sontak kaget mendengar ucapan Murabbinya. Ia sudah suudzon berbagai hal kepadanya. Padahal Murabbinya sedang mengalami kecelakaan. “innalillahi. Kenapa gabilang ka, Liqonya kan bisa dibatalin dan diganti harinya.”

“Enggak lah. Pengalaman dulu saat masih menjadi mahasiswa dan sedang liqo juga, ane itu dulu bandel orangnya selalu ngedumel saat ada masalah ketika liqo hingga ilmu yang masuk juga sedikit. Dan dulu ketika ane pulang dari kampus sehabis liqo, ane ngeliat kaya orang yang ane kenal di jalan raya sendirian jalan kaki sendirian malam-malam. Dan ternyata itu murabbi ane. Dan ane baru tau kalau beliau kalau ngeliqoin orang jalan kaki dari Asramanya dulu. Setelah ane tau kejadiannya seperti itu, ane selalu mengantar beliau ke asrama. Banyak hikmah yang saya ambil dari beliau, entah sifat, sikap, ataupun semangatnya mendidik memberikan pemahaman islam. Walau ada tugas, presentasi dan ujian, ia hadapi saja tanpa meninggalkan liqoannya. Dan itu sangat menginspirasi dan menyentuh ane. Dari situ ane berfikir, ane mau menjadi murabbi. Bagaimana tidak, mereka tidak dibayar, tidak dapat popularitas tapi mau membuat generasi yang berakhlak dan mempunyai akidah yang baik. Saya sangat memikirkannya dahulu hingga berkeinginan awal ingin menjadi mentor”. Ka Hakim menceritakan pengalamannya.

“Ba.. Bagaimana dengan mutarabbi yang menyebalkan ka misalnya cerewet, malas hadir dan keburukan-keburukan lainnya”. Gumi memberanikan diri bertanya.

“Itulah nikmatnya menjadi murabbi. Mempunyai sikap mutarabbi-mutarabbi yang beraneka macam termasuk sifat yang kurang baik. Tapi bukankah itu tugas kita sebagai dai ? Dan akan terasa nanti gum ketika melihat hijrahnya saudara kita yang belum baik menjadi lebih baik. Senang rasanya.”

Tanpa terasa motor Ka Hakim telah bisa dinyalakan kembali sedia kala. Ka Hakim mendekati tukang dan membayar beberapa lembar uang. “Ayoo gum pulang, sudah malam”.

Seketika Gumilar terhenyak kaget atas lamunannya beberapa detik. “Ii.. Iyaa ka, ayo”.

“Oh iyaa ini tadi ane nemu buku catetan ente di Masjid, ane liat ada nama ente”.

“Wah syukron ka, saya nyari itu”.

“Yaudah yuk pulang. Syukron yaa gum udah bantu ane”.

“Sama-sama ka”. Gumi tersenyum hangat.

Mereka pun berpisah pulang. Serta menyisakan hampa terhadap Gumi. Banyak pelajaran berharga terhadapnya. Betapa menjadi Murabbi mempunyai sikap yang mulia. Dan siapa sangka kecelakaan yang terjadi pada ka Hakim tidak membuat ia malas tuk mengisi liqo padanya. Tidak dengannya, yang hanya duduk manis mendengarkan malah selalu banyak berprasangka negatif. Astaghfirullah. “Yaa Allah maafkan prasangka yang hamba lakukan, berikanlah ilmumu pada hamba dan izinkanlah hamba menjadi murabbi yaa Allah. Aamiin.” (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Laki-laki yang terlahir di keluarga yang sederhana. Mencari jati diri di Universitas Negeri Jakarta, berusaha hijrah dari pribadi yang buruk menjadi pribadi yang berakhlak yang berlandaskan Al Quran dan Sunnah. Saat ini sedang duduk di semester empat jurusan Pendidikan Tata Niaga Fakultas Ekonomi UNJ. Aktif berorganisasi islami pada Lembaga Dakwah Fakultas, Kelompok Studi Ekonomi Islam, Remaja Masjid Al Hidayah, yang insya Allah bercita-cita menjadi ustad dan pembisnis yang islami.

Lihat Juga

Halaqah dan Solusi Hijrah

Figure
Organization