Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mudik dan Lezatnya Masakan Ibu

Mudik dan Lezatnya Masakan Ibu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (www.cakechooser.com)
Ilustrasi (www.cakechooser.com)

dakwatuna.com – Saat mudik seperti ini salah satu yang kita nanti adalah ingin merasakan lezatnya masakan ibunya di rumah.

Pada sebagian besar di antara kita mengatakan masakan ibu kita masakan terlezat dan membuat kangen untuk terus pulang ke rumah.

Bahkan banyak yang berpendapat masakan ibunya pulang lezat dibanding masakan siapapun termasuk masakan koki terkenal di hotel berbintang atau rumah makan yang pernah kita singgahi.

Pertanyaannya mengapa anak berpendapat seperti itu?

Menurut ilmu neurologi, di dalam otak manusia ada tempat untuk memori kelezatan makanan (lobus parietalis dan nuclues acumban), rasa lezat yang dirasakan sejak kecil dari makanan yang disajikan ibu kita akan termemori di otak ini. sehingga terbentuk memori kelezatan makan permanen di otak kita.

Walaupun kita sudah dewasa memori itu masih ada dan ketika kita pulang ke rumah seperti saat mudik ini kemudian menyantap makanan masakan ibu maka memori akan terstimulus lagi dengan cepat, ini terjadi saat kita mulai mengunyah makan tersebut, itulah yang menerangkan kelezatan masakan ibu kita.

Kedua; suasana hati yang tenang, saat pulang bertemu ibu,bapak, saudara dan handai taulan tentunya pikiran kita senang dan tenang, ketenangan itulah yang memberi kenikmatan saat makan masakan ibu tercinta. Apalagi makan sambil mengenang masa kecil di rumah akan berlipat ganda rasa nikmat masakan ibu di rumah.

Walaupun makanan lezat tapi bila hati tidak tenang rasanya hambar bahkan tidak bisa merasakan, sebagai contoh makan di bandara saat pesawat sudah siap berangkat rasanya tidak nikmat walapun sebenarnya makanan yang lezat.

Ketiga: ibu memasak dengan “resep kasih sayang”. Bagi seorang ibu memasakan untuk anak tercinta bukan hanya menggunakan ramuan tangan” tetapi resep masakan dengan “ramuan hati /kasih sayang”. Dan ini sulit dijabarkan secara ilmiah tetapi memang ada telepati kasih sayang ibu ke anaknya saat memasak dan menyajikan makanan untuk kita. Istilahnya ibu memasak dengan hati menggunakan resep kasih sayang.

Sudahkah berbakti

Begitu besar kasih sayang ibu ke kita (bahkan lewat masakan yang lezat) pertanyaannya adalah sudahkah kita tunaikan kewajiban kita kepada beliau?

Mumpung saat mudik ini kita msh bisa ketemu dan mengunjungi beliau berdua, pastikan kita sudah menunaikan kewajiban kita karena belum tentu ada kesempatan di tahun depan mengingat semakin tuanya usia beliau, maka berikan yang terbaik untuk mereka.

Semoga Allah senantiasa menyayangi dan memuliakan ibu bapak kita amin….

Selamat mudik dan merasakan lezatnya masakan ibu kita. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Dokter spesialis saraf RSUD Saiful Anwar Malang. Dosen ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Univ Brawijaya Malang. Penulis buku "Puasa dan Otak Manusia" penerbit UB media Malang 2014.

Lihat Juga

Pantaskah untuk Menyakitinya?

Organization