Topic
Home / Pemuda / Cerpen / Jodoh yang Aku Pinjam

Jodoh yang Aku Pinjam

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (arinarizkia.wordpress.com)
Ilustrasi. (arinarizkia.wordpress.com)

dakwatuna.com – Angin berembus kencang menyapa pepohonan. Rintik hujan masih mengguyur kota Jakarta sejak dini hari. Rumput-rumput di kebun sudah tak mampu menampung deras air hujan yang turun. Suhu udara dingin mulai terasa menusuk tulang tubuh. Aroma pagi yang tak seperti biasa membuat semangat dalam diri. Aku segera bergegas mengambil payung yang berada tepat di belakang pintu rumah. Menerobos derasnya hujan menuju halte yang tak jauh dari rumah. Rintik hujan yang terbawa angin mulai menyentuh wajah dan membasahi pakaianku. Aku terus berjalan melewati kubangan air yang sudah tak mampu ditampung oleh tanah. Pukul 06.16 aku sudah sampai di tepi halte yang sudah dipenuhi oleh orang-orang yang ingin melaksanakan aktivitas. Berebut tempat duduk dan mengejar angkutan umum yang penuh setiap paginya.

“Permisi mbak,” ucap seorang pria yang berada di sampingku.

“Iya.” Jawabku singkat. Aku menatapnya seperti mengenali raut wajahnya.

Pria itu berdiri tepat di sebelahku. Angkutan umum yang bernomor 02 berwarna putih terlihat muncul menghampiri halte tempatku berdiri. Aku segera menepi dan bersiap memasuki kendaraan tersebut. Seperti dugaanku, angkutan yang sejak tadi sudah aku tunggu berhenti tepat di depanku. Aku memasuki angkutan umum tersebut. Hatiku terasa sedikit lega sudah memasuki kendaraan yang aku tunggu-tunggu. Aku merasa terkejut ketika melihat pria itu memasuki angkutan yang sama dan duduk tepat di sampingku. Hatiku terasa berdebar-debar.

Astaghfirullah.” Ucapku berkali-kali dalam hati.

“Kiri bang.” Ucapku menghentikan angkutan umum tersebut tepat di depan kampus tercintaku.

Setelah membayar angkutan umum aku bergegas menyeberang jalan yang ramai kendaraan.

“Tunggu” terdengar teriakan seseorang sambil menarik tanganku.

Astaghfirullah mas.” Ucapku dengan nada yang tinggi. “Jangan pegang-pegang tangan saya.”

“Maaf mbak, tadi ada motor kencang mau menyerempet mbak.” Ucapnya sambil berlalu meninggalkanku.

Terasa malu sekali diriku menatapnya. Pria tersebut merupakan pria yang dari tadi bersamaku. Tak sempat mengucapkan terima kasih, pria itu berlalu meninggalkanku di tepi jalan. Aku segera menyeberang jalan dengan lebih berhati-hati.

“Hafidza, tunggu.” Panggil seorang wanita dari kejauhan.

Aku menoleh ke belakang dan menghentikan langkahku. “Terlihat seperti Safira.” Ucapku dalam hati sambil memperhatikan setiap langkahnya mendekatiku. Tepat seperti apa yang aku duga. Safira sahabatku berlari menghampiriku.

“Kamu tidak membawa payung Fir?” tanyaku sambil memayunginya.

“Tidak Dza. Payung aku rusak jadi aku hujan-hujanan. Aku takut terlambat ujian jadi aku terobos saja derasnya hujan. Hahaha…” Ucapnya sambil tertawa kecil.

“Fira, Fira. Kamu ini ada-ada saja. Bawa baju ganti tidak?” tanyaku.

“Tenang saja kalau itu tentu aku membawanya. Sudah aku persiapkan sejak pagi.” Jawabnya.

Kami segera berjalan menuju toilet masjid An-Nur. Sambil menunggu Safira mengganti pakaiannya, aku sempatkan untuk melaksanakan shalat Dhuha sebelum melaksanakan ujian.

***

Siang itu hujan masih mengguyur kota Jakarta, namun cahaya matahari mulai sedikit menyinari bumi. Usai UAS terakhir, aku berencana berkunjung ke perpustakaan untuk meminjam buku.

“Hafidza, ada surat untuk kamu nih.” Ucap Safira sambil memberikan amplop berwarna merah jambu.

“Dari siapa Fir? Hari gini masih ada surat-suratan? Hahaha ” Tanyaku sambil tertawa.

Aku membaca surat tersebut dengan seksama.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Hafidza, apa kabar? Semoga Allah senantiasa memberimu kesehatan selalu. Sebelumnya maaf jika harus menggunakan surat untuk menyampaikan pesanku. Jika boleh siang ini aku ingin bertemu denganmu di masjid An-Nur. Jika kamu berkenan hubungi no.ku melalui Safira. Terima Kasih.

Salam,
Riski Darwaman

“Riski Darmawan? Yang katanya bacaan Al-Qurannya bagus itu? Yang banyak fansnya?” tanyaku pada Safira.

“Iya Dza.” Jawab Fira.

“Mau ngapain ngajak ketemu Fir?” tanyaku lagi.

“Ya mana Fira tahu Dza. Kamu mau nggak? Aku temani deh.” Ucapnya.

“Ya sudah. Tapi kamu temani ya. Aku tidak mau hanya berbicara berdua saja.” Ucapku.

Kami segera bergegas menuju Majid An-Nur untuk melaksanakan shalat Zuhur terlebih dahulu sebelum menemuinya. Aku dan Safira berlari menuju masjid karena hujan masih cukup deras.

Seusai shalat aku segera menuju belakang masjid. Ternyata Riski sudah duduk menunggu di sana bersama temannya.

“Assalamu’alaikum” ucapku dan Fira.

“Wa’alaikumsalam” jawab mereka bersamaan.

“Kamu mau berbicara apa Ki?” tanyaku singkat.

“Maaf ya, saya mengganggu waktu Hafidza. Saya hanya ingin mengatakan sesuatu.” Ucapnya.

“Apa?” tanyaku penasaran.

“Sejak pertama liat Hafidza, Riski menyukai Hafidza. Maukah kamu berteman dengan Riski?” ucapnya.

Hhhmm, tentu saja Ki. Hafidza berteman dengan siapa saja kok.” Jawabku.

“Baiklah terima kasih Dza.” Ucapnya.

“Ada lagi yang ingin disampaikan? Aku ingin ke perpustakaan untuk mencari buku.” Ucapku.

“Tidak Dza. Kami boleh ikut kalian ke sana? Mungkin kita bisa sharing tentang buku.” Ujarnya.

“Baiklah.” Jawabku singkat.

***

“Pagi ini hujan turun lagi bu? Bagaimana aku akan pergi ke kampus?” ucapku.

“Bawa payung Dza. Ada di belakang pintu payungnya.” Jawab ibu sambil membereskan meja makan.

Pagi ini hujan turun dengan derasnya. Aku duduk di kursi yang berada di teras rumah sambil menunggu hujan reda. Hari ini tepat seminggu aku mengenal Riski. Hujan mengingatkan aku ketika pertama kali aku mengenalnya. Benih-benih cinta mulai tumbuh dalam hatiku.

“Hafidza…” Panggil ibu dari dalam rumah.

“Iya bu.” Sahutku sambil beranjak memasuki rumah.

“Nanti kamu jangan pulang malam ya. Bantu ibu. Nanti malam akan ada tamu.” ucap ibu.

“Baiklah bu.” Jawabku singkat.

Tiba-tiba handphoneku berbunyi tanda SMS masuk. “Aku berada di depan rumahmu. Kamu ingin ke kampus bukan pagi ini?”

Aku segera membalas SMS dari Riski tersebut. “Aku segera keluar.”

“Hafidza berangkat ya bu. Assalamu’alaikum” Ucapku sambil bersaliman dengan ibu dan ayah.

Di depan gerbang rumahku terlihat sebuah mobil berwarna hitam. Kaca mobil itu terbuka dan terlihat Riski berada di dalamnya. Aku segera memasuki mobil tersebut dan duduk tepat di sebelah Riski.

Kok kamu  tahu aku akan ke kampus Ki?” tanyaku.

“Mungkin karena Allah menakdirkan kita satu hati.” Ucapnya.

“Kamu ini bisa saja.” Sahutku singkat.

“Dza.” Panggilnya.

“Iya kenapa Ki?” tanyaku.

“Aku suka padamu. Kamu itu cantik, shalihah, pandai.” Ucapnya.

“Iya aku juga suka padamu Ki.” Jawabku sambil tersenyum padanya.

Beberapa lama kemudian  kami sampai di kampus. Riski memarkirkan mobil tepat di depan fakultasku. Ia mengambil payung dan keluar memayungiku. Terlihat banyak wanita yang memandangi kami.

***

Sesuai dengan pesan ibu, setelah menyelesaikan administrasi kampus untuk semester selanjutnya aku segera bergegas pulang untuk membantu ibu.

“Memang siapa yang mau datang bu?” tanyaku.

“Sahabat ayahmu Dza. Beliau baru saja pulang dari Belanda. Katanya kangen dengan ayah jadi mereka sekeluarga ingin datang bersilaturahmi.”

Aku merupakan anak semata wayang orang tuaku. Sehingga hanya aku yang dapat membantu pekerjaan ibu di rumah. Siang ini hatiku merasa bahagia sekali mendengar perasaan yang Riski ungkapkan kepadaku. Sehingga aku begitu bersemangat membantu pekerjaan ibu.

***

“Assalamu’alaikum.”

Terdengar suara orang datang ke rumah. “Sepertinya sahabat ayah sudah datang bu.” Ucapku.

“Iya. Biar Ibu bukakan pintu dulu ya. Hafidza tolong siapkan minumannya.” Ucap Ibu.

“Silakan masuk. Ini Adit ya? Sudah besar ya.” Terdengar suara ibu dan ayah menyambut mereka.

“Hafidza..” panggil ibu.

Aku segera pergi ke ruang tamu dengan memakai gamis pink dengan jilbab pink berhiaskan bros bunga berwarna merah membawakan minuman untuk mereka.

“Silakan diminum tante, om.” Ucapku sambil memberikan air minum yang telah aku sediakan.

Ketika aku melihat mereka, tepat di sebelah mereka terdapat pria yang menolongku satu minggu yang lalu.

“Kamu…” ucapku terkejut.

“Ini Adit. Aditya Pratama. Putra tante dan om Rahman.” Ucap ayah kepadaku. “Kalo yang ini putri Om Dit. Namanya Hafidza Khairunnisa” ucap ayah kepadanya.

Wajahku memerah melihatnya. Aku hanya tersenyum kepadanya saat dikenalkan oleh ayahku.

Setelah melakukan perbincangan dan makan malam mereka pamit untuk pulang. Kami mengantarkan mereka sampai depan gerbang rumah hingga mobil mereka berlalu. Setelah itu aku membantu ibu membersihkan ruang tamu dan meja makan.

***

Tiga bulan berlalu aku semakin dekat dengan Riski. Kami sering pergi bersama dan sering berkomunikasi. Aku semakin yakin bahwa Riski adalah jodohku. Sehingga pagi itu seusai shalat tahajud aku mencoba berbicara kepada ayah dan ibu mengenai Riski.

“Ayah, ibu. Hafidza ingin bercerita sesuatu.” Ucapku.

“Kenapa sayang? Ingin cerita apa?” tanya ibu.

“Hafidza sedang dekat dengan seorang lelaki. Sepertinya Hafidza menyukainya bu.”

“Siapa namanya? Apa dia menyukaimu?” tanya ibu.

“Riski Darmawan. Iya bu, dia mengatakan seperti itu.” ucapku malu-malu.

“Kalau dia suka kenapa tidak menemui Ayah Dza?” sahut ayah.

“Hafidza tidak tahu yah.”

“Mungkin dia bukan jodoh kamu.” Ucap ayah dengan nada dingin.

“Sayang, jika memang dia serius dengan kamu, pasti dia akan menemui orang tuamu. Tanpa harus mengatakannya kepadamu atau menjanjikan kata-kata manis kepadamu.” Ucap ibu dengan lembut.

“Iya bu. Mungkin ini salah Hafidza yang terlalu menaruh harapan dan terlalu dekat dengannya.” Ucapku.

***

Liburan kuliah sangatlah lama. Membuatku bosan berada di rumah. Pagi ini kicauan burung menemaniku menyiram tanaman yang sangat hijau di halaman rumah. Mentari pagi mulai menyinari bumi, memberikan kehangatan.

“Hafidza, ada telepon dari Safira.” Panggil ibu dari dalam rumah.

“Iya bu.” Jawabku bergegas mengangkat telepon.

“Assalamu’alaikum Fir. Tumben telepon ke rumah.”

“Iya. Aku telepon HP kamu nggak diangkat-angkat. Kamu sudah tahu berita terbaru Dza?” tanyanya dengan nada serius.

“Berita apa Fir?” tanyaku penasaran.

“Itu si Riski Dza. Dia mau nikah seminggu lagi, sama Nadia Putri mahasiswi Pendidikan Agama Islam.” Ujarnya.

“Riski nikah Fir? Alhamdulillah kalau begitu.” Ucapku singkat.

“Iya. Katanya dijodohin sama orang tuanya. Aku nggak nyangka dia seperti itu sama kamu. Kamu yang sabar ya Dza.” Ucapnya.

“Iya Fir. Tenang aja. Mungkin memang Riski lebih serius dengan Nadia. Mungkin memang Allah sudah menakdirkan Riski sebagai jodohnya Nadia. Kemarin aku hanya meminjam jodohnya Nadia untuk kebahagiaanku sesaat. Aku tidak apa-apa kok Fir. Kamu tenang saja.” Jelasku. “Ya sudah ya nanti aku hubungi lagi. Aku harus bantu ibu.” Lanjutku.

“Ok Dza. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

***

Aku bersujud memohon ampun kepada Allah. Aku merasa terlalu sok tahu dan menerka bahwa Riski adalah jodohku. Padahal Allah pasti sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untukku. Tapi aku mengumbar cinta dengan lelaki lain. “Astaghfirullah.” ucapku berkali-kali memohon ampunan Allah.

“Hafidza.” Panggil ibu mengetuk pintu kamarku.

“Iya bu. Masuk saja tidak dikunci.” ucapku.

“Kamu kenapa sayang? Kamu menangis ya? Cerita pada ibu nak.” Ujar ibuku.

“Tidak mengapa bu. Benar yang ayah dan ibu katakan. Jika Riski serius dengan Hafidza mengapa dia tidak mendatangi ayah dan ibu. Seminggu lagi ia akan menikah dengan teman Hafidza bu. Mungkin dia memang lebih serius dengannya.” Jelasku.

“Ya sudah kamu tidak usah bersedih. Kamu harus ikhlas dengan ini semua.” ucap ibu sambil memelukku. “Sebenarnya, sudah ada seorang lelaki yang ingin serius denganmu. Ayah dan ibu sudah setuju dengannya. Lelaki itu dan keluarganya sudah mengetahui tentangmu dari ayah dan ibu. Hanya saja ayah dan ibu belum sempat menyampaikannya kepadamu. Nanti malam lelaki itu dan keluarganya akan datang.” Lanjut ibu.

“Siapa bu?” tanyaku terkejut.

“Aditya Pratama. Putra dari tante dan om Rahman.” Jawab ibu. “Nanti kamu bantu ibu menyiapkan makan malam ya.” Lanjut ibu.

***

Malam ini aku merasa perasaan yang tidak biasa aku rasakan. Dengan mengenakan gaun merah marun dan jilbab merah muda aku menemui keluarga tante dan om Rahman. Mereka menyampaikan niat baik keluarga mereka. Aditya merupakan dokter muda yang baru saja wisuda. Setelah silaturahmi malam itu, ia berniatan untuk berta’aruf denganku. Ia mencari tahu semua tentangku dari ayah dan ibuku. Ibu telah menceritakan semua tentang Adit kepadaku.

“Kedatangan saya kesini untuk mengkhitbah Hafidza, putri bapak.” ucapnya kepada ayahku dengan nada penuh keyakinan.

“Kalau saya bagaimana Hafidza saja nak Adit.” Ujar ayah.

Semua mata mengarah kepadaku. Menunggu jawaban dariku. Wajahku memerah seperti ketika aku pertama kali bertemu dengannya. Aku hanya menganggukkan kepada menandakan setuju. Aku percaya kepada pilihan ayah dan ibu. Terlebih ayah dan ibu telah mengenal tante dan om Rahman. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya mendapatkan pendamping lelaki yang tidak baik, dan aku percaya kepada kedua orang tuaku.

“Pernikahan mereka bagaimana jika dilaksanakan setelah bulan Ramadhan?” ucap Om Rahman.

“Tidak om. Hafidza ingin jika kita menikah, pernikahan dilaksanakan sebelum bulan Ramadhan.” Pintaku.

“Aku setuju dengan Hafidza.” Sahut Adit.

“Baiklah jika begitu memang yang terbaik. Toh semua hari memang baik.” Ucap om Rahman.

***

Hari yang aku tunggu-tunggu sudah tiba. Mencari jodoh bukan berarti kita harus sok tahu. Bukan berarti pula kita harus memaksa apa yang telah Allah takdirkan. Yakinlah bahwa Allah telah menyiapkan jodoh yang terbaik untuk kita semua. Bukan berarti ketika kita yakin bahwa ia adalah jodoh kita, maka ia adalah jodoh yang Allah takdirkan juga untuk kita. Belum tentu ketika kita yakin bahwa ia adalah jodoh kita namun tidak kunjung berkomitmen, maka itu adalah jodoh yang Allah takdirkan untuk kita. Bisa jadi orang yang saat ini dekat dengan kita, orang itu adalah jodoh milik orang lain yang sedang kita pinjam.

“Dalam surah Ar-Rum ayat 21 yang artinya “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” Allah telah menciptakanmu untuk Adit. Semoga kalian selalu bahagia ya nak.” Ucap ibu.

“Aamiin.” Jawabku sambil meneteskan air mata. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswi STEI SEBI dan penerima manfaat BEASTUDI Ekonomi Syariah Dompet Dhuafa. Memiliki hoby memasak dan suka merangkai kata.

Lihat Juga

Manisnya Ramadhan

Figure
Organization