Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Renungan di Akhir Ramadhan

Renungan di Akhir Ramadhan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (fanpop.com)
Ilustrasi. (fanpop.com)

dakwatuna.com – Sebentar saja ramadhan membersamai, kemudian apa yang telah kita dapati? Adakah kesempatan yang singkat di tahun ini telah membetulkan arah langkah menuju kebaikan dan kebenaran? Apakah masa pembiasaan ini telah manjadikan kita mengakrabi bahkan candu dalam ibadah dan ketaatan?

Sungguh, Ramadhan telah mengajarkan kita bahwa hidup ternyata tak (sesempit) semata untuk makan, tapi utamanya untuk ketaatan [“Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”: QS. Adz-Dzariyat 56]. Bahkan hanya untuk itulah kita diciptakan. Ramadhan pun telah mendidik kita bahwa kunci keselamatan hidup ada pada “menahan”, bahkan untuk hal-hal yang dibolehkan. Menahan bukan berarti menolak atau sama sekali menghentikan, tapi hakikatnya adalah memisahkan nafsu dari keinginan agar diri jauh dari sikap berlebihan. Karena dari sana-lah akan lahirnya ketenangan batin dan kekhusyukkan iman.

Ramadhan mengajak kita untuk membiasakan kebaikan-kebaikan dalam keseharian. Ramadhan mengajak kita untuk menata waktu agar tak semua tercurah untuk dunia, tapi porsi utama keringat dan tenaga adalah demi akhirat dan surga-Nya [“Carilah negeri Akhirat pada nikmat yang diberikan Allah kepadamu, tapi jangan lupakan bagianmu dari dunia” : QS. Al-Qasas 77]. Bila Ramadhan telah mengakrabkan kita dengan kebaikan, maka seusai ramadhan pun kita akan tetap terbiasa (tanpa sadar) dalam menghidupkan kebaikan. Seperti anak kecil yang terus dipapah ketika belajar berjalan, namun akhirnya ia bisa berjalan sendiri dan bahkan berlari tanpa menyadari bahwa yang membimbingnya telah lama berlalu pergi.

Ramadhan datang untuk menghadirkan ketaqwaan [“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” : QS. Al-Baqarah 183}. Ada yang layak untuk kita renungi; jika sudah 10 kali kita bertemu Ramadhan, harusnya kita sudah 10X lebih taqwa (baik) dari sebelumnya. Jika sudah 20 kali kita bersua dengannya, maka harusnya kita sudah 20X lebih taqwa dari biasanya. Dan begitulah (harapannya) seterusnya, agar hadirnya Ramadhan tak sia-sia. Ketahuilah bahwa efek ramadhan (taqwa) bukan pada bulannya, tapi pada bulan-bulan setelahnya; itulah mereka yang menguatkan gairah beramal ketika tibanya bulan mulia, dan yang tetap me-ramadhankan lembar-lembar hari di kehidupannya setelah kepergiannya.

Barangkali di antara hikmah-Nya bahwa ramadhan tak lama adalah agar jiwa senantiasa setia dan merindukan ia kembali tiba. Sungguh, hakikat cinta bukan semata perasaan bahagia ketika hendak bersua, tapi juga perasaan duka ketika hendak berpisah dengannya. Dan sejatinya cinta ialah yang tak ingin melewatkan sedetikpun waktu berlalu tanpa membersamai yang dicintai di hari-hari terakhirnya.

Jika di akhir malam adalah waktu turunnya Allah ke langit dunia, jika di waktu sujud adalah saat-saat terdekat manusia dengan Sang Maha, maka ramadhan telah memangkas begitu banyak jarak hingga tak ada lagi yang membatasi manusia dengan Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, kecuali hanyalah kengganan nafsu untuk melangkah mendekati-Nya. Jika dengan keberkahan dan rahmat-Nya yang amat berlimpah di bulan mulia ini kita tak jua peroleh ampun-Nya, maka kesempatan manalagi yang kita harap dapat menyucikan kekotoran jiwa? Maka banyak-banyaklah menangis di waktu yang berkahi ini, moga derainya dapat mencuci diri, membersihkan hati, dan mengalirkan sepenuhnya harap dan cinta pada Sang Maha Memiliki lagi Maha Menguasai…

Moga apa yang kita tahan semasa Ramadhan di dunia adalah kepuasan yang kita simpan untuk pertemuan nanti dengan-Nya… (dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 7,50 out of 10)
Loading...

Tentang

Mujahid Pena

Lihat Juga

IZI Berikan Bantuan 200 Paket Sembako ke Papua