Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ramadhan Bahagia

Ramadhan Bahagia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (photos8.com)
Ilustrasi. (photos8.com)

dakwatuna.comIni Bulan Ramadhan, maka bergembiralah kawan. Begitu anjuran dari Baginda Nabi, engkau berbahagia menyambut Ramadhan, maka tak bisa api neraka menyentuh tubuhmu. Mengapa mesti bergembira? ini adalah momennya, saat hijab langit dibuka, engkau semakin dekat dengan Penciptamu. Tak bahagiakah engkau? Terkadang sebagian besar dari kita mengukur kebahagiaan hanya dari hal-hal yang bersifat material, tak mencoba melihatnya dari kacamata Iman. Sebab memang untuk dapat melihatnya dari kacamata Iman, engkau perlu memahaminya terlebih dahulu. Maka Imam Syahid Hasan Al-Banna menempatkan Rukun Al-Fahmu pada urutan pertama dalam 10 (sepuluh) arkanul bai’ah, yang berarti pemahaman mendapat tempat yang paling utama dan pertama sebelum rukun yang lain.

Ini adalah saatnya, saat lambung kau jauhkan dari yang halal, demi mengharap ridha-Nya. Tak bahagiakah engkau? Berbahagialah wahai saudara-saudariku, karena berbahagia tak bisa di ukur dengan banyaknya mobil Bentley atau Mercedes Benz yang kau miliki. Karena bahagia tak di ukur dari seberapa banyak motor Harley Davidson milikmu, atau seberapa banyak Villa, bahkan semelimpah ruahnya harta yang kau miliki. Berapa banyak orang-orang yang kita saksikan tampak bahagia, atau mungkin berpura-pura bahagia dengan berlimpahnya harta benda yang ia miliki, namun sebenarnya ia sedang mengalami kekosongan jiwa, harta telah memperdayanya, rasa was-was bila hartanya dicuri membuat hatinya tak tenang sepanjang malam. Maka engkau harus mulai berusaha memahami ukuran kebahagiaan yang sesungguhnya, di momentum Bulan Ramadhan ini.

Ini adalah waktunya, dosa-dosa berguguran, selangit doa di dengarkan, segenap jiwa raga tunduk beribadah pada-Nya. Tak bahagiakah engkau? Allah SWT berkenan turun ke langit bumi lalu mengijabah doa-doamu. Engkau yang bangkit di saat sebagian besar orang tertidur pulas, engkau bangkit untuk mendirikan Shalat, lalu berharap dosa-dosamu di ampuni. Sungguh keberkahan dari Allah akan tercurah padamu, di Bulan yang penuh berkah lalu mendirikan Shalat malam, untuk mengharap ridha-Nya. Tak ada sesuatu pun yang lebih baik di dunia ini bila di bandingkan dengan ridha Allah SWT. maka Bahagialah, kata Baginda Nabi, Bahagiamu kan berbalas haramnya Api Neraka menyentuh kulitmu.

Sungguh engkau sangat pantas untuk berbahagia, sebab ukuran bahagia bukan sekedar soal materi. Bahagia mengabdi pada-Nya juga adalah Bahagia yang melangit, bahagia yang tak terhingga, bahagia yang tak terukur, bahagia yang paripurna, melebihi semua kebahagiaan yang ada di dunia ini. Begitulah orang-orang beriman menilai kebahagiaannya, baginya Ridho Rabbnya adalah bahagia di atas bahagia. Hingga perihnya setiap luka yang kau dapatkan di dunia, setiap goresan yang kau cerna dengan segenap rasa, kan hilang dengan setetes Kebahagiaan di Akhirat nanti, engkau lebih mengharap balasan dari Allah SWT semata.

Maka Taqwa, derajat tertinggi yang ingin di capai oleh orang-orang yang beriman, adalah kebahagiaan sejati yang ingin engkau capai. Tetapi, yang mesti engkau pahami, semua hal perlu kau perjuangkan, karena hanya sang pejuanglah yang berhak mendapat balasan dari Allah SWT. Maka belajarlah dan terus belajar, sebab taqwa butuh perjuangan, untuk mengetahuinya, untuk memahami ilmunya, semuanya butuh proses, dengan memaklumi setiap penahapan. Karena hidayah adalah milik Allah SWT, maka hargai setiap proses dan penahapan menuju kebahagiaan yang hakiki, menuju derajat keimanan yang tertinggi, yaitu Taqwa. Butuh perjuangan dan pengorbanan secara total, maka dirimu diminta untuk total, secara totalitas mengabdi pada-Nya.

Allah akan memberikan bagi mereka yang bertaqwa, Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, maka nikmat Tuhan Kamu manakah yang Kamu dustakan? Ini adalah janji Allah SWT bagi mereka yang teguh dengan janji mereka, terus-menerus memperbaiki diri, dan terus berjuang, berjuang dengan jiwa dan raga, berjuang dengan harta dan kemampuan, berjuang dengan sungguh-sungguh, melakukan perniagaan yang tak akan pernah rugi, karena sedang melakukan perniagaan dengan Allah SWT. Maka inilah saat yang tepat untuk berubah, di Bulan yang penuh Berkah ini Allah SWT masih memberikan umur panjang pada dirimu, agar engkau memaknai setiap umur hanya untuk beribadah dan mengabdi pada-Nya.

Allah Maha Baik, setiap satuan waktu Allah SWT memberikanmu peluang untuk beramal, bukan hanya beramal, tetapi melakukan program akselerasi ketaatan. Agar setiap amalan berlipat ganda ganjaran pahalanya, pahala dari Allah SWT. Dalam satuan hari Allah SWT memberikanmu waktu dari tengah malam sampai menjelang Subuh sebagai waktu yang penuh berkah bila engkau mendirikan shalat malam dan memohon ampun pada-Nya, bahkan Allah SWT mengijabah doa-doamu. Dalam satuan pekan Allah SWT menyediakan sayyidul ayyam pada setiap insan manusia, yaitu hari Jumat dengan segala keutamaannya. Dalam satuan Bulan Allah SWT juga menyediakan Bulan Ramadhan, Bulan yang penuh keberkahan, Bulan yang dinanti-nanti oleh para ‘Ulama dan orang-orang shalih 6 (enam) Bulan sebelumnya. Bulan yang tepat untuk melakukan quantum jump, untuk melakukan perubahan yang besar dalam diri-diri picik nan hina ini, yang selalu mengharap sanjungan dan pujian dari manusia, selalu mengharap jabatan, kedudukan, dan harta yang berlimpah, memang butuh waktu untuk mengubah pola pikir yang masih cenderung pada keduniaan, karena setiap harinya kita dihadapkan pada dominasi nilai-nilai jahiliyah di atas nilai-nilai Ilahiyah.

Ramadhan adalah momen yang tepatmu untuk berbahagia, di mulai dengan mengubah persepsimu akan kebahagiaan itu sendiri. memang tidak mudah, mengingat engkau dan aku juga adalah manusia biasa. Manusia yang masih terus berproses, yang cenderung sombong dan angkuh atas apa yang dimiliki, padahal pada hakikatnya segala apa yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah SWT. Manusia yang masih terpaku pada konsep manusia modern ala Barat, seakan-akan Peradaban Barat adalah sesuatu yang sangat keren dan harus terus di ikuti. Konsep manusia modern yang kata seorang tokoh Komunis bahwa “Agama adalah candu”, sehingga menghilangkan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Dan akan kita saksikan kejatuhan semua ideologi di muka bumi ini, sebuah kehancuran yang masih coba ditutup-tutupi. Kehancuran peradaban yang tak akan sanggup menyamai Agama Islam, Agama yang bukan sekedar menjadi ideologi, bukan sekedar menjadi sistem hidup, bukan sekedar menjadi sistem sosial dan perekonomian, bukan sekedar menjadi perekat persaudaraan, tetapi lebih tinggi dari semua itu, sebab Agama ini adalah Agama yang di Ridhoi oleh Allah Yang Maha Tinggi. Bahkan Imam Syahid Hasan Al-Banna mengatakan:

“Islam adalah sistem yang menyeluruh, mencakup seluruh aspek kehidupan. Karena itu, Islam adalah negara dan tanah air atau pemerintahan dan umat, moral dan kekuatan atau kasih sayang dan keadilan, wawasan dan undang-undang atau ilmu pengetahuan dan peradilan, materi dan kekayaan alam atau penghasilan dan kekayaan, serta jihad dan dakwah atau pasukan dan pemikiran. Sebagaimana juga Islam adalah akidah yang murni dan ibadah yang benar, tidak kurang tidak lebih.”

Ramadhan menjadi momen yang tepat bagi dirimu untuk menghijrahkan segala cintamu kepada makhluk dan bahagia semu kepada cinta Allah dan Rasul-Nya. Maka berbahagialah engkau wahai orang-orang yang memanfaatkan Ramadhannya secara optimal. Tidak melewatkan setiap momennya dengan kesia-siaan. Bahkan melalui Ramadhan mampu mengubah persepsi bahagia yang dulu hanya berorientasi pada hal-hal yang bersifat materi menjadi bahagia yang hakiki, yaitu bahagia mengabdi pada-Nya. Berbahagialah, berbahagialah, berbahagialah, mengabdi pada-Nya juga adalah sebentuk kebahagiaan, berdakwah kepada manusia, menyeru pada kebaikan dan kebenaran juga adalah kebahagiaan. Mencegah hal-hal yang zhalim dan mungkar juga adalah sebentuk kebahagiaan, berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan juga adalah kebahagiaan. Dan ridha Allah adalah kebahagiaan yang paling tinggi, memuncak mencapai Arsy-Nya, meninggi hingga menggapai ridha-Nya. (dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mohamad Khaidir
Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah, Penulis Lepas, Akuntan, JPRMI Wilayah Sulawesi Selatan, FKAPMEPI Sulawesi Selatan.

Lihat Juga

IZI Berikan Bantuan 200 Paket Sembako ke Papua