Home / Keluarga / Kesehatan / Ada “Puasa” di Balik Lezatnya Berbuka Puasa

Ada “Puasa” di Balik Lezatnya Berbuka Puasa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (onislam.net)
Ilustrasi. (onislam.net)

dakwatuna.comSaat berbuka puasa, kita terasa nikmat menyantap hidangan berbuka. Mengapa? Karena Allah memberi indra pengecap yakni lidah. Para ahli saraf berpendapat terdapat jutaan sel pengecap di lidah manusia dan yang unik setiap sel bertugas menangkap setiap rasa secara “khusus” dari ratusan rasa yang ada. (Itulah yang menerangkan ibu-ibu bisa memberi komentar kurang garam atau kurang merica setelah mencicipi makanan). Di area lidah ada lokasi tersendiri untuk rasa yang berbeda, seperti rasa manis ada di lidah depan, rasa pahit lidah belakang dan lainnya. Dan yang menakjubkan area untuk rasa manis paling luas di seluruh lidah.

Itulah mengapa saat berbuka disunnahkan makanan seperti kurma, selain agar cepat dimetabolisme menjadi tenaga, juga agar memberikan “kenikmatan lebih” bagi yang berpuasa, dan satu salah kemurahan dari Allah SWT kepada hamba-Nya yang sedang puasa.

Selain lidah indera pengecapan dibantu oleh indera pembau yang ada di rongga hidung, ada jutaan sel khusus yang bertugas menangkap seluruh bau yang ada, bahkan masih banyak sel pembau yang tersisa yang disiapkan Allah yang belum dipakai manusia. Keduanya (indera pengecap dan pembau) bekerja sama menyalurkan implus ke otak agar saat menyantap makanan berbuka terasa lebih nikmat.

Namun setelah beberapa suap makanan atau mendekati kenyang, indera pengecap dan pembau menurunkan sinyal ke otak dan ini disebut “feed back mechanism” ditandai dengan tanda “berkurangnya rasa lezat” dalam lidah dan rasa mulai penuh dalam lambung. Saat itu seharusnya kita segera menghentikan aktivitas makan sesuai anjuran rasul (dan demi kesehatan).

Namun sering kali kita kehilangan kontrol diri dan terus makan sampai kekenyangan…bahkan malas shalat tarawih akibat kekenyangan.

Bukankah hakikat puasa adalah berlatih menahan diri (imsyak) dan berlatih berbagi sesama? Lalu ke mana makna puasa saat kita berbuka bila berbuka tanpa sunnah rasul? Maka sesungguhnya ada “puasa” dibalik nikmatnya berbuka puasa .

Selamat berbuka puasa (sesuai sunnah). (dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 6,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
dr. Badrul Munir, Sp.S
Dokter spesialis saraf RSUD Saiful Anwar Malang. Dosen ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Univ Brawijaya Malang. Penulis buku "Puasa dan Otak Manusia" penerbit UB media Malang 2014.

Lihat Juga

Puasa, Penistaan Agama dan Perang Opini