Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kolaborasi Perjuangan

Kolaborasi Perjuangan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (nurlienda.wordpress.com)
Ilustrasi (nurlienda.wordpress.com)

dakwatuna.com – Indahnya pelangi, sebab ada kolaborasi warna menghiasinya. Indahnya lautan, karena ada kolaborasi biota laut yang beranekaragam di dalamnya. Indahnya sungai, sebab ada perpaduan menarik antara air dan batu yang membentuk melodi yang harmoni. Indahnya alam ini sebab Allah menjadikan ekosistem berkolaborasi membentuk kesatuan.

Saudaraku, tahukah Anda bahwa ada kolaborasi luar biasa melebihi itu semua? Ialah kolaborasi perjuangan meraih kemenangan. Sebuah kolaborasi cinta yang berdasarkan ukhuwah islamiyah atau persaudaraan keimanan. Saling mencintai  karena Allah, saling mendukung, dan saling tolong-menolong.

Sesampainya Rasulullah SAW di Madinah. Maka langkah awal yang dilakukan ialah mempersaudarakan antara kaum Anshar dengan Muhajirin. Hingga terbentuklah asas kekuatan atas dasar iman. Begitupula kemenangan Sholahudin Al ‘Ayubi. Ia mempersatukan kembali Negara-negara muslim yang berpecah belah, dan akhirnya ia bisa mengambil alih kembali Masjidil Aqsha ke pangkuan muslimin.

Ukhuwah ialah nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita, “Ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (di masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian dan menjadikan kalian orang-orang yang bersaudara karena nikmat-Nya” (QS. Ali Imran: 103)

Rasulullah SAW dengan indah bersabda, “seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak menzhalimi atau mencelakakannya. Barang siapa membantu kebutuhan saudaranya seasama muslim dengan menghilangkan satu kesusahan darinya, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan di hari kiamat.” (HR. Bukhori)

Tumbuh suburnya khowarij mengawali retaknya tali persaudaraan ummat Muslim. Bangunan yang dulu kokoh, rapuh seiring berkembangnya wabah perpecahan. Dan kesempatan ini dimanfaatkan dengan baik oleh mereka yang memusuhi Islam untuk melancarkan konspirasinya. Tak sedikit yang berguguran oleh wabah ini.

Hingga tulisan ini diterbitkan. Keadaan ummat Muslim bagaikan banyaknya buih di lautan. Ringan tanpa arah. Sangatlah rapuh hingga mudah diadu domba dengan masalah khilafiyah. Manisnya iman tak semanis yang diucapkan.

Muslim Palestina hingga kini terjajah. Saudara kita di Rohingnya terus tersiksa. Keluarga kita di Suriah selalu bersimbah darah atas rezim penguasa. Muslim dunia dalam duka. Akankah selamanya perpecahan ini terjadi?

Allah tidak akan memerintahkan hamba-Nya diluar batas kemampuan.  Allah memerintahkan kepada kita untuk bersatu dalam ikatan ukhuwah “dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS. Ali Imran: 103). Dengan tekad dan usaha maka persatuan adalah keniscayaan. Dan kejayaan akan menjadi kenyataan.

DR. Halim Mahmud menuliskan dalam karyanya yang berjudul Fiqh Al-Ukhuwah fi Al-Islami, “Orang-orang yang berukhuwah dalam Islam harus saling mengokohkan kekuatan satu sama lain dalam skala dunia Islam dengan melakukan perencanaan, koordinasi, dan segala persiapan yang mesti dilakukan. Kemenangan itu tidak lain hanyalah dari sisi Allah. Dia akan menolong dan memenangkan siapa saja yang di kehendaki-Nya. Dia Maha Perkasa lagi Penyayang”

Teruntuk saudaraku yang merindukan kedamaian, kesejahteraan, dan juga kebenaran. Alangkah baiknya kita kembali memurnikan aqidah kita. Memenuhi relung hati yang telah suram oleh dunia dengan cahaya Al Qur’an. Membasahi lidah kita dengan sejukya mengingat kebesaran Allah. Serta merajut kembali hubungan persaudaraan yang telah rombeng. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Anwar Alwinanto
Alumni Ma'had Al An nuaimy. Ma'had Binaul Ummah Kuningan. Ma'had tahfidz Salim Awwad Al jandal

Lihat Juga

Kau Pejuang atau Pecundang?