Home / Pemuda / Cerpen / Berdiri Bersamamu

Berdiri Bersamamu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (pinterest.com)
Ilustrasi. (pinterest.com)

dakwatuna.com – Tak ada yang lebih berharga di dunia bagi Ray kecuali ibunya. Orang yang sabar dalam mengasuh ia sehingga Ray bisa menjadi seperti sekarang ini. Tak ada raut wajah paling indah yang dibayangkannya kecuali wajah ibunya.

Negeri yang indah dengan seluruh keindahan alam yang terbentang luas. Langit malam yang bersih tak tersapu awan. Bintang bertumpah ruah, membentuk berbagai rasi sebagai petunjuk arah dan berbagai macam kegunaan.

Pemuda itu tak menghiraukan itu semua. Ia hanya menatap kosong keindahan itu. Tak ada rasa takjub di benaknya. Ia hiraukan burung yang bernyanyi, ah semua itu tak penting. Yang penting saat ini adalah keadaan negeri yang semakin kacau. Kenyamanan telah melebur bersama kesengsaraan orang-orang yang dianggap tak berguna. Menentang keinginan raja, maka akan dipenggal. Mengucapkan kata penolakan, dibunuh. Menolak aturan, diasingkan. Hidup bagai di penjara. Dengan keadilan yang tak tahu entah kemana. Ia membetulkan letak kacamatanya. Menatap alam nan luas namun tak adakah penolong, orang yang akan merubah semua ini. Apakah semua raja itu sama?

Ia melompat, beranjak dari batu besar tempat ia duduk. Berjalan mengikuti keinginan hati yang terfokus ke sebuah rumah tua bergaya victoria. Meninggalkan jejak keresahan di antara rerumputan yang dilaluinya. Memegang gagang pintu, melangkah masuk ke rumah itu. menyalami seorang wanita tua yang telah lemah walau hanya untuk ke kamar mandi. Seorang wanita yang mengasuh pemuda itu, mengandung tak kenal lelah. Sebuah mangkok yang berisi makanan ia suapi untuk wanita tua itu, dengan seluruh kasih sayang dan penghormatan. Ia kecup kening pemuda tadi, gurat wajah yang menunjukkan kerasnya kehidupan. Sekarang senyuman itu telah memiliki banyak garis kehidupan yang semulus dulu lagi. Penghormatan yang dilakukan pemuda itulah yang membuat wanita tua tadi tetap bisa bertahan dengan segala kekurangan dalam dirinya.

“Bagaimana kerjaanmu, Ray?” Wanita itu bertanya dengan rasa penasaran. Pertanyaan yang sama tiap Ray pulang dari rumah tapi pemuda itu tak pernah bosan menjawabnya karena ia menganggap itu sebagai doa dari ibunya agar ia bisa sukses dalam kehidupan ini.

“Alhamdulillah baik, bu.”

Ia merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Terlelap dalam ayunan malam dan nyanyian bintang-bintang. Rembulan masih tetap utuh menyinari setiap gelapnya malam. Memberikan penerangan bagi orang-orang yang hanya berharap pada cahayanya. Udara dingin yang menusuk tulang. Tapi pemuda itu tak merasakan dinginnya malam. Ia tetap tertidur dalam buaian. Bermimpi indah, agar bisa ia ceritakan pada ibu tersayang.

***

Pagi telah menjelang. Burung-burung seakan mengajak bernyanyi bersama mengikuti gerakan pepohonan yang sedang bahagia karena mentari menepati janjinya untuk keluar di awal pagi. Tak seperti manusia, yang kebanyakan hanya bisa mengingkar janji sehingga ada manusia lain yang tersakiti karena itu. Bagaimana mungkin orang yang berbohong itu tahu kalau ada yang sakit hati sedang ia tak mementingkan itu semua.

“Ibu, pagi yang indah. Bagaimana keadaanmu di pagi ini?”

“Aku baik-baik saja anakku.” Senyum merekah dari wajahnya. Berharap anaknya tak pernah berubah. Selalu menghormatinya sampai ia tutup umur. “Kau ada kegiatan saat ini, anakku?”

“Iya bu. Aku mau melanjutkan pekerjaanku.”

“Ibu, ada suatu hal yang ingin ku ceritakan padamu. Aku sudah lama menjalin hubungan dengan seorang wanita tapi kami tidak pacaran. Aku akan tetap mengingat nasehatmu. Aku mau melamarnya. Bagaimana menurut ibu?”

“Kalau kau tanya aku, terserah kamu. Serahkan pada Yang Kuasa. Apapun pilihanmu maka itulah yang terbaik menurutmu, nak. Aku percaya padamu.”

Ray merasakan kebahagiaan dengan jawaban ibunya tadi. Selalu jawaban yang sama di saat ditanya hal lain. Terserah padaku. Begitu besar kepercayaannya kepadaku. Aku tak akan menyia-nyiakan kepercayaan yang dititipkan kepadaku.

Hari ini, Ray datang untuk melamarnya. Menyatakan isi hatinya kepada ayah perempuan yang telah bertengger dalam diri Ray.

“Bapak, saya ingin menjadikan anak bapak sebagai pasangan hidup saya.” Tanpa grogi ia melafazkan itu.

“Apakah kamu yakin untuk itu? sudah dipikirkan matang-matang, Ray?”

“Sudah, pak.”

“Kalau begitu mari kita dengar jawaban dari Intan.” Semua mata menoleh kepada perempuan itu. “Intan, kamu setuju?”

“Aku sih setuju aja. Tapi aku ada syarat. Dalam pernikahan kita nanti mohon ibumu tak diundang.” Semua orang di ruangan itu terkejut. Tak menyangka itu keluar dari mulut manis wanita itu. Bagai petir menembak kepala Ray. Tak mungkin ia tak mengikuti ibunya dalam acara yang paling penting ini. Tak mungkin Ray melupakan wanita yang mengasuh dari kecil. Membesarkan dengan seluruh usaha yang dimilikinya sehingga ia bisa menjadi manager di perusahaan yang bergengsi di ibukota.

“Kalau itu syarat yang kamu berikan. Maka aku tak jadi melanjutkan lamaran ini.” Ray berkata tegas. “Ibuku adalah segala-galanya bagiku. Tak ada alasan menolak ibuku sebagaimana kamu memiliki ibu.”

Ray pergi dari rumah itu. Berjanji tak akan menginjakkan kaki walau sebentar saja. Duduk di taman kota. Menatap sunset yang sebentar lagi akan digelar. Memandangi berbagai macam bunga dan burung elang yang kembali ke kandangnya. Pertunjukan itu sedang dimulai. Nikmat yang tak terkira, melihat pemandangan yang indah ini walaupun ia sudah berkali-kali memandangi itu.

Di saat ia melihat sunset. Maka seluruh pemikiran yang sedang menumpuk serasa hilang. Ia bisa menyegarkan jiwanya. Ray beranjak, pergi menuju rumah. Seperti biasa, wanita tua itu telah menunggunya. Ia tak tahu apa respon dari ibunya. Seorang wanita yang selama ini didambakannya ternyata bukan orang yang cocok. Seluruh kecantikan dan kebaikannya selama ini lebur bersama perkataannya tadi. Toh masih banyak wanita lain yang bisa menjadi pasangannya.

Ray melangkah masuk. Melangkah menuju ibu. Memegang tangan ibunya, dan tak tahu mengapa air matanya bercucuran. Ibunya mengelus lembut pipinya. Menghapus air mata, menghentikan alirannya.

“Nak, kau bisa cerita pada ibu.”

“Ibu, ternyata ia bukanlah wanita yang baik. Ia meminta di saat pernikahan nanti ibu tidak datang.”

“Nak, andaikan kamu bahagia dengannya ibu rela.” Wanita tua itu menangis. Tangisan haru dan syukur atas nikmat anak yang berbakti ini. “Ibu rela Ray. Kalau kamu bahagia maka itu sudah cukup.”

“Tidak ibu. Engkau adalah orang yang ku hormati dari dulu. Diriku ini adalah milikmu. Pantaskah aku melakukannya?” Ibunya terus mengelus kepalanya. “Seberapa menawan wanita itu tapi ia tak bisa menghormati ibu maka kecantikannya itu akan luluh. Tak ada tempat di hatiku buat dia lagi. Ia tak menghormati ibu sama saja tidak menghormatiku sebagai calon suaminya.”

“Sudah nak. Kamu memang anakku yang berbakti. Aku berdoa untukmu semoga engkau mendapatkan yang lebih baik.”

Ibu dan anak itu saling berpelukan. Tenggelam dalam tangisan. Memecah bisunya malam. Rembulan ikut bersedih. Begitu juga dengan bintang. Mereka tak menampakkan diri. Jadilah ini malam yang gelap, hanya diterangi oleh cahaya lampu beberapa watt. Kita tak tahu dengan skenario Tuhan selanjutnya.

***

“Bagaimana lamaranmu, Ray.” Lelaki itu bertanya. Direktur perusahaan yang telah mengizinkan ia cuti sehari untuk melamar wanita itu.

“Gagal pak. Ia bukanlah wanita yang cocok buatku.” Ray melempar senyum kepada lelaki dengan gurat wajah yang telah merasakan getirnya kehidupan ini.

“Kau tahu yang terbaik buatmu, Ray. Semoga dapat pengganti yang lebih baik.”

“Terima kasih, pak.”

Ray, dengan tekun melanjutkan pekerjaannya yang terpotong dengan sedikit percakapan tadi. Itu adalah salah satu bentuk perhatian yang diberikan atasannya. Ia tetap menghargai itu. Tentunya kejadian itu tak akan mengganggu ia dalam keseharian maupun pekerjaannya. Fokus dan disiplin adalah modal utamanya.

“Bapak Ray, bagian SDM menyuruh memberikan surat ini untuk Anda.”

“Terima kasih ya.”

Ray menerima surat yang terbungkus rapi di dalam amplop coklat. Ia membuka dan membacanya. Ray, karyawan paling disiplin mendapatkan kesempatan untuk belajar bahasa asing di Pare. Ini adalah salah satu penghargaan yang diberikan perusahaan bagi karyawan yang telah mengabdikan dirinya. Dulu di saat ia tengah sibuk bekerja, direktur perusahaan ini mendatanginya. Bertanya tentang apa yang diinginkannya. Lalu ia menjawab agar bisa belajar bahasa inggris agar ia bisa berhubungan dengan orang asing tanpa perlu penerjemah. Maka sekarang adalah realisasi atas keinginannya tersebut. Tak ada kerugian yang diperoleh perusahaan ini jika mereka melakukan itu. Keuntungan yang mereka dapatkan karena akan banyak klien yng datang dari luar negeri untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan ini karena managernya sudah bisa berbahasa inggris.

Ray, beranjak dari kursinya. Berlari menuju kantor SDM. Melangkah masuk, lupa mengucapkan salam karena saking gembiranya.

“Bapak, terima kasih atas semua ini. Saya amat senang dan bersyukur.”

“Tak perlu berterima kasih kepada saya. Ini sudah menjadi kebijakan perusaan. Bapak direktur yang langsung memilihmu Ray. Kamu memang pemuda yang berbakat dan menghargai atasanmu.”

“Kamu bisa pergi ke Pare minggu depan.”

Senyum merekah dari pipi Ray. Bahagia atas nikmat yang dianugerahkan kepadanya. Mulutnya tak berhenti dari mengucap syukur. Ia tak sabar menceritakan semuanya kepada ibunya. Tapi, apakah ibunya akan senang bahwa beliau akan ditinggalkan selama 4 minggu, buat ia belajar di sana?

Ia pergi mendatangi direktur, Bapak Alex. Memohon agar ibunya diizinkan untuk ikut. Ia ketok pintu sambil mengucapkan salam. Terdengar sahutan yang mempersilahkan ia masuk.

“Ray, ada apa? Apakah kamu senang dengan penghargaan yang kami berikan?”

“Iya pak. Saya amat senang dan berterima kasih kepada bapak. Tapi pak….”

“Ada apa Ray? Jangan malu untuk mengatakannya kepada saya. Jika saya bisa, saya akan bantu itu.”

“Pak, saya menolak hal ini. Saya tak bisa pergi.”

“Mengapa Ray? Kau bisa konsultasi denganku dulu.”

“Begini pak, saya memiliki seorang ibu di rumah saya. Hanya saya seorang yang mengurus beliau. Saya tak bisa pergi dengan meninggalkan ibu saya. Maka dari itu, saya lebih memilih menolak ini.”

“Ray, kamu tak perlu menolak ini. Saya akan memberangkatkan ibumu bersamamu. Kami yang akan membiayainya. Jadi, kamu harus tetap melaksanakan ini.”

“Benarkah pak?”

“Apakah perkataan saya masih kurang jelas?”

“Terima kasih pak. Kebaikan Anda tak akan saya sia-siakan.”

***

Banyak pengalaman yang didapat Ray semenjak belajar di Pare. Ia dengan mudah berbicara dengan klien yang berasal dari luar negeri. Produksi perusahaan ini meningkat, makin banyak klien yang tak hanya dari dalam negeri tapi juga dari luar negeri. Bandara terbaru di distrik 8 juga proyek dari perusahaan tempat Ray bekerja.

Jabatannya juga semakin naik, sekarang ia adalah wakil direktur. Direktur telah memercayainya sebagai wakilnya. Wakil yang dulu telah tutup waktu di dunia ini. Walaupun begitu, tapi baktinya kepada ibunya tetap sebagaimana saat Ray manager dulu. Ia juga sudah mendapatkan pengganti wanita yang dulu pernah dilamarnya. Seorang wanita yang berbakti kepada Ray maupun ibunya. Wanita yang selalu menjaga auratnya. Zahra. Sekarang mereka akan membangun rumah tangga bersama ibunya. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Berasal dari Pariaman, Sumatera Barat. Hobi membaca dan menulis, tulisan sering masuk ke koran local. Sekarang sedang menempuh pendidikan di MA Ar Risalah, Padang. Aktif dalam berbagai organisasi sekolah.

Lihat Juga

Pantaskah untuk Menyakitinya?

Organization