Topic
Home / Berita / Opini / Puasa, Penistaan Agama dan Perang Opini

Puasa, Penistaan Agama dan Perang Opini

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi perang salib (ATOMIC FLEA's photos)
ilustrasi perang salib (ATOMIC FLEA’s photos)

dakwatuna.com – Ada sebuah doa yang dipanjatkan Rasulullah saw ketika Perang Badar. Terselip kekhawatiran di dalamnya, tapi juga ada harap yang tak putus. “Ya Allah, jika pasukan ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan disembah lagi. Ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk disembah untuk selamanya setelah hari ini.”

Rasulullah saw begitu khusyu’ melafazhkan doa tersebut hingga tanpa disadari selendang beliau jatuh dari pundak. Seketika itu pula, Abu Bakar memungutnya lalu mengembalikan ke pundak beliau, seraya berkata, ”Cukuplah bagi engkau wahai Rasulullah untuk terus-menerus memohon kepada Rabb engkau.”

Begitu gundahnya Rasulullah saw menghadapi Perang Badar. Jumlah pasukan yang tak seimbang dan perlengkapan perang yang juga tak memadai. Beliau terus melantunkan doa tersebut karena tak ingin dakwahnya terhenti. Karena jika saat itu pasukan muslimin takluk, maka Islam tak akan pernah sampai ke pelosok dunia dan abadi hingga kini.

Doa itu Rasulullah saw panjatkan saat bulan Ramadhan. Dan perang tersebut bergelora ketika mereka sedang berpuasa menahan lapar, dahaga dan segala hal yang dilarang.

Tak cuma Perang Badar yang terjadi pada Ramadhan. Tersebut pula Perang Uhud yang membuat Rasulullah saw nyaris terbunuh dan Perang Khandaq. Bahkan, dalam sejarah Islam, tercatat banyak peristiwa besar yang terjadi ketika Ramadhan hadir.

Ada Futuh Mekah atau pembebasan Mekah. Lalu ada penghancuran berhala ‘Uzza oleh Khalid bin Walid yang diutus Rasulullah saw pada 5 hari sebelum berakhirnya Ramadhan.

Ada pula penyerahan Kota Thaif usai Rasulullah saw dan pasukannya mengepung kota tersebut dalam waktu yang lama. Disusul kemudian pembebasan Andalusia (Spanyol) pada 28 Ramadan tahun ke-92 H oleh Tariq bin Ziyad dikirim pemerintahan Bani Umayyah.

Jangan lupakan Peperangan Zallaqah di Portugal yang terjadi setelah subuh di hari Jumat, bulan Ramadan tahun 459 H. Ketika itu, terjadi kebangkitan dinasti Murabit di Afrika Utara. Gubernur Cordova, Al-Muktamin meminta bantuan Sultan Dinasti Murabit, Yusuf bin Tasyifin untuk memerangi Alfonso VI.

Tentara yang dipimpin oleh Alfonso VI yang berjumlah 80.000 tentara berhasil dikalahkan. Dalam waktu yang singkat, Sultan Yusuf berhasil menguasai seluruh Spanyol dan menyelamatkan umat Islam. Setelah itu, Dinasti Murabit di Spanyol berdiri sejak 1090 sampai 1147 M.

Kemudian ada kisah Pasukan Islam yang mengalahkan tentara Mongol pimpinan Genggis Khan dan dikenal dengan Perang Ain Jalut.

Di negeri kita sendiri, Ramadhan menjadi bulan yang sarat sejarah karena pada bulan mulia tersebut kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. Soekarno-Hatta saat membacakan teks proklamasi dalam keadaan berpuasa, sebuah naskah yang secara tegas melawan para penjajah.

Deretan sejarah di atas memiliki pesan penting tentang bagaimana cara kita memaknai puasa. Puasa tak lantas membuat kita diam saat kezhaliman ada di depan mata. Kita justru harus bergerak menentang kemungkaran.

Sayangnya, hari ini begitu banyak di antara umat Islam yang lupa terhadap peristiwa-peristiwa besar yang terjadi saat Ramadhan. Padahal hari ini pula, beragam kezhaliman dengan bermacam siasat sedang dilaksanakan oleh musuh-musuh Islam.

Perda Syariah yang dihapuskan, menghormati orang yang tak puasa, mendukung warung buka pada siang hari hingga baju gamis berlambang salib di TVRI adalah contoh dari kezhaliman dimaksud. Belum lagi pernyataan dan kelakuan Ahok, kaum JIL dan rezim ini yang semakin berani menistakan Islam.

Kezhaliman yang makin menjadi-jadi di Ramadhan ini justru oleh sebagian kita diminta untuk “didiamkan”. Kita harus menjaga hati, lisan dan perbuatan karena esensi puasa adalah mengendalikan hawa nafsu. Begitu mereka beralasan. Sungguh aneh dan menyedihkan.

Hari ini, khususnya di Indonesia, kita tidak sedang menghadapi perang fisik seperti zaman Rasulullah saw atau di Suriah dan Palestina. Di sini, di negeri ini, kita menghadapi perang opini yang tak kalah dahsyatnya. Bukankah orang sekelas Napoleon Bonaparte mengatakan sebuah pena atau tulisan jauh lebih menakutkan dari 1000 tentara?

Kita harus melawan dengan tulisan. Atau dengan status dan gambar di media sosial. Justru karena kita berpuasa maka kita wajib melakukan itu.

Jika Ramadhan menjadi alasan kita untuk mendiamkan kezhaliman, bisa jadi Islam tak akan pernah sampai ke negeri ini dan hadir di dalam jiwa kita. Karena Rasulullah tak akan pernah mau berperang dan enggan berdoa untuk kemenangan Islam. (sb/dakwatuna.com)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
S1 FISIP Universitas Jurusan Ilmu Politik. Pernah menjadi wartawan dan selama hampir 3 tahun menjadi Redaktur majalah ESQ 165. Menulis di berbagai media online dan kumpulan tulisannya menjadi buku dengan judul Masihkah PKS Bermasa Depan? (Maghfirah Pustaka, 2013). Karya buku lainnya: Jejak Langkah Menuju Indonesia Emas 2020 (Arga Publishing, Mei 2008) dan menjadi Ghost Writer buku best seller: The Great Story of Muhammad (Maghfirah Pustaka, 2011). Saat ini sebagai Pemred www.kabarumat.com

Lihat Juga

7 Manfaat Traveling saat Libur Kuliah Bareng Teman-Teman

Figure
Organization