Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Salah Paham yang Berlanjut

Salah Paham yang Berlanjut

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (endless-paradise.co.cc)
Ilustrasi (endless-paradise.co.cc)

dakwatuna.com – Bermula dari kata salah paham, yang tak pernah ditanyakan kejelasannya, hal kecil apapun akan selalu menjadi hal yang besar. Masalah yang sebenarnya tak perlu di permasalahkan menjadi suatu permasalahan besar. Terkadang ada pula, kesalahpahaman itu dicari titik terangnya, namun ada saja kata pembenaran dalam diri seseorang sehingga yang memang salah dianggapnya menjadi tak salah, berasumsi, bahwa Allah Maha Pengampun.

Berperasangka buruk kepada saudara akan menimbulkan suatu kesalahpahaman jika tak dicari suatu kebenarannya. Namun lagi-lagi adapula ketika seseorang mencoba untuk berprasangka baik kepada saudaranya, namun realitanya hal buruk memang terjadi pada saudaranya. Namun perlu diketahui, berperasangka buruk yang tidak dicari permasalahannya akan menimbulkan kesalahpahaman yang fatal, bahkan bisa membuat seseorang berasumsi, apa yang selalu dilakukan oleh orang yang dituju adalah sebuah kesalahan. Tak hanya itu, prasangka buruk akan membuat pelaku menjadi keras hatinya, dan tak tenang. Akan lebih baik jika seseorang selalu berpersangka baik kepada saudaranya, untuk hasil akhirnya serahkan kepada Allah.

Menceritakan seseorang yang memilih dirinya untuk keluar dari organisasinya karena alasan bekerja, sehingga tidak akan fokus pada organisasinya. Namun ada saja yang menimpali, “Hanya bekerja, aku pun bekerja, tapi masih bisa membagi waktu antara kuliah, organisasi dan kerja?” Yah, karena ia bekerja hanya untuk tambahan sehari-harinya, karena beban yang lain telah ditanggung oleh orangtua. Perlu dipahami, setiap orang tentunya mempunyai masalahnya masing-masing, ada hal yang menurutnya berat namun bagi orang lain masalahnya biasa saja, namun bisa juga sebaliknya. Terkadang seseorang menilai orang lain tidak berdasarkan alasan mengapa ia demikian? Apa yang melatarbelakangi seseorang. Seseorang begitu naifnya untuk melihat saudaranya secara mendalam, hanya dengan melihat secara sekilas sudah bisa menyimpulkan. Kembali ke cerita, seseorang yang memilih untuk keluar organisasi dan memilih untuk bekerja, mempunyai alasan yang mungkin orang yang menimpali tadi merasakan ketidakmampuan jika di posisinya. Dia memilih untuk bekerja karena dia menjadi tulang punggung keluarganya, Ibu yang selalu bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan adik-adiknya kini telah tak sanggup lagi bekerja, sedang ke empat adiknya butuh uang untuk sekolahnya dan butuh uang untuk keseharianya sendiri dan keluarganya, jadi ia harus benar-benar mencari uang, bahkan ia mengambil 2 pekerjaan, dan tak ada waktu untuknya berorganisasi.

Berbeda cerita, semoga hal ini tak terulang. Ada seorang yang sangat sering tidak hadir dalam beberapa kajian, padahal ketika masih kuliah, dialah yang paling sering untuk mendatangi majelis-majelis ilmu. Asumsi orang berbeda-beda, ada yang berprasangka baik, maupun buruk. Dan akhirnya ada yang menjelaskan mengenai seseorang ini.

“Maklumkan saja, ia tak mengikuti majelis ini karena mungkin ia kelelahan, dan bisa juga ia banyak kerjaan, dia kan anak pertama, sudah pastinya, kini tak hanya dirinya yang ia pikirkan namun juga orang tua nya dan dan adik-adiknya!” jelas seseorang yang cukup dekat dengannya. Tahukah kalian, ada yang lebih mencengangkan dari kata-katanya.

“Berjalannya majelis dan acara-acara besar kita pun tak luput dari usahanya, tak luput dari bantuannya. Ia begitu seringnya menyumbangkan beberapa uangnya untuk acara-  acara kita, melobi pemateri yang kita pilih, karena memang dia mempunyai banyak kenalan atas kerjaannya!”

Yah, dia tak hadir, bukannya melupakan, dan malah menjauhi majelis, namun ia tak luput berperan dalam agenda-agenda yang sudah tersusun, bahkan fasilitas yang dinikmati oleh orang banyak adalah usahanya untuk membuat banyak orang menikmatinya dengan senang hati.

Tak ada salahnya jika kita selalu berprasangka baik kepada saudara kita, tak ada salahnya juga ketika ada hal yang mengganjal dalam hati, carilah solusi yang terbaik, bukan malah berprasangka buruk dan malah membuat asumsi-asumsi kesalahan.

Jika ada seseorang mengkritik kita karena sifat buruk kita, tandanya kita harus memperbaikinya, namun jika ada seseorang mengkritik kita dengan hal yang tidak ada pada diri kita (akibat kesalahpahaman) maka buatlah diri kita tidak seperti apa yang ia kritikkan kepada kita, tak usah mempersulit hidup dengan kedengkian. Jadilah seseorang yang melihat masalah orang lain dengan suatu sebab alasan mengapa ia melakukannya, bukan dengan cara langsung menilai seseorang dengan sikap yang hanya sementara terungkap. (dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Mahasiswi di Universitas Palangkaraya. Sangat senang dengan dunia ke-sosial-an . sebagai Ka Kom A FSLDK Kalimantan Tengah, pengurus Relawan Indonesia Palangka Raya, FLP Palangka Raya, dan siap mensyiarkan Islam melalui tulisan

Lihat Juga

Kapolri Seharusnya Kerahkan Dalmas, Bukan Brimob