Home / Narasi Islam / Sosial / Miras Sumber Kejahatan

Miras Sumber Kejahatan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Inet)
Ilustrasi (Inet)

dakwatuna.com – Tindak kejahatan dan kekerasan merupakan dua hal yang sangat mengganggu dan tentunya tidak diinginkan dan dialami oleh manusia di manapun dia berada. Apalagi pada beberapa waktu terakhir, masyarakat Indonesia semakin dibuat miris oleh berbagai tindak kejahatan dan kekerasan yang dilakukan oleh beberapa generasi muda di tanah air. Hal ini semakin menimbulkan tanda tanya di pikiran manusia, apa sebenarnya yang kurang dari usaha bangsa Indonesia untuk meredam terjadinya hal-hal tersebut?

Tentu kita belum lupa dengan kasus Yuyun, seorang gadis umur 14 tahun yang dijadikan pelampiasan nafsu setan oleh 14 pemuda ‘ingusan’ di Bengkulu. Mengapa kami sebut nafsu setan? Karena tindakan pemerkosaan lalu pembunuhan terhadap korban merupakan tindakan brutal yang tidak pernah dilakukan oleh binatang paling rendah sekalipun. Setelah itu disusul tindak balas dendam yang dilakukan oleh tiga pemuda kepada Enno, dengan mencabulinya ramai-ramai lalu menancapkan cangkul lewat bagian kewanitaannya. Masih banyak kasus penyiksaan tanpa belas kasih serupa yang terus terungkap pasca peristiwa Yuyun dan Enno tersebut.

Melihat keadaan yang memprihatinkan ini, tentunya kita perlu berpikir keras tentang apa saja faktor yang menyebabkan tindak kejahatan dan kekerasan di kalangan remaja ini semakin menjadi-jadi. Temuan data mutakhir beberapa organisasi yang fokus meneliti masalah ini mungkin dapat memberikan kita gambaran yang cukup jelas tentang salah satu faktor utama tersebut.

Minuman Keras dan Tindak Kejahatan Masyarakat

Fakta yang cukup mencengangkan terungkap dari hasil penelitian yang dilakukan Pusat Kajian Kriminologi FISIP UI bersama Gerakan Nasional Anti-Miras (GeNAM).  Dari data kualitatif menunjukkan bahwa akses mendapatkan miras yang terlalu mudah merupakan alasan utama mengapa remaja berada dalam pengaruh miras pada saat melakukan tindakan kriminal dalam hal ini pembunuhan.

“Dari wawancara mendalam yang kita lakukan terhadap 13 orang remaja yang mengonsumsi miras pada saat melakukan tindakan kriminal pembunuhan, ditemukan fakta yang cukup mengerikan. Mereka begitu mudahnya membeli miras dan sama sekali tidak terawasi oleh keluarga maupun lingkungan sosialnya,” ujar Ketua GeNAM Fahira Idris saat membagikan 100 buku Anti Miras berjudul Say: No, Thanks, kepada para pelajar pada saat car free day, di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, (23/03). (jpnn.com)

Menurut Fahira, salah satu persoalan yang dihadapi kota-kota besar di Indonesia seperti Palembang adalah masifnya peredaran dan konsumsi miras di kalangan remaja. Sehingga tidak heran dari 18 ribu nyawa yang melayang akibat miras setiap tahun, sepertiganya atau 6.000 orang adalah remaja, baik karena miras itu sendiri maupun menjadi korban kejahatan di bawah pengaruh miras.

“Dampak merusak luar biasa dari miras itu, karena menjadi biang tindakan kriminal mulai dari pembunuhan, perkosaan, hingga pencurian. Banyak remaja kita yang menjadi korban tindakan kriminal pembunuhan di mana pelakunya di bawah pengaruh miras. Belum lagi yang meninggal karena ditabrak pemabuk,” ungkap perempuan yang juga Wakil Ketua Komite III DPD RI ini. (detik.com)

Sementara itu, Kepala Pusat Kajian Kriminologi FISIP UI Iqrak Sulhin mengatakan, dalam kajian kriminologi, peran alkohol sebagai faktor kriminogen ini dapat dibedakan ke dalam dua kategori besar, yaitu; berperan langsung dan pemercepat. “Meskipun sejumlah penelitian hanya menyatakan bahwa alkohol adalah fasilitator kejahatan, namun banyak penelitian lainnya memberikan konfirmasi adanya pengaruh langsung dalam kasus kejahatan kekerasan,” ungkapnya. (jpnn.com)

Pola konsumsi minuman keras (miras) dikalangan remaja terus mengalami peningkatan. Praktek ini disinyalir turut menjadi pemicu perilaku remaja yang dewasa ini kerap terlibat aksi kekerasan dan kriminalitas.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan 2007 mencatat, remaja pengonsumsi miras di Indonesia masih di angka 4,9 persen. Jumlah ini meningkat signifikan pada 2014 menjadi 23 persen dari total jumlah remaja sekitar 14,4 juta jiwa, berdasarkan riset Gerakan Nasional Anti Miras (GeNAM).

“Remaja yang mengonsumsi miras cenderung berperilaku negatif. Memang faktor ini (miras) bukan satu-satunya, ada sebuah mata rantai yang sudah sangat kompleks, seperti pornografi dan tayangan yang tidak mendidik,” kata Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, kepada Harian Terbit di Jakarta, Senin (9/3/2015).

Melihat temuan dan keterangan beberapa tokoh di atas, dapat kita lihat bahwa minuman keras menjadi salah satu faktor pendorong utama terjadinya tindak kejahatan di masyarakat. Oleh karena itu, sekarang ini ramai diperbincangkan tentang bagaimana mengontrol distribusi miras kepada masyarakat. Namun, di sisi lain ternyata masih ada kalangan ‘berdasi’ yang tidak bisa melihat kondisi darurat miras tersebut bahkan membolehkan miras beredar di masyarakat dengan berbagai alasan.

Ahok: Bir bukan Miras

Seperti diwartakan Republika.co.id (Kamis, 26/05/2016), Gubernur non-Muslim DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ingin bir diizinkan kembali dijual di minimarket karena tidak ada larangan yang diatur dalam Perda Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Menurut dia, jika ingin melarang penjualan bir maka harus ada revisi perda. Sebab, perda tersebut hanya mengatur lokasi penjualan miras.

“Bukannya saya yang membolehkan, itu kan perda. Patokan kita perda. (Kalau mau dilarang) berarti harus minta kawan-kawan di DPRD merevisi perda dong. Itu saja kan,” ujarnya.

Penjualan bir di minimarket Ibu Kota resmi dilarang sejak April 2015, tepatnya saat diterbitkannya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 06/M-DAG/PER/1/2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol. Namun, Ahok menilai peraturan tersebut sudah tidak berlaku. Permendag itu sudah dideregulasi oleh pemerintah pada September 2015. “Itu kan sudah diganti,” ucapnya.

Menurutnya lagi, bir bukanlah minuman keras karena kadar alkohol yang terkandung di dalam bir hanya lima persen. “Bir itu, gue kasih tahu ke lo, itu di bawah lima persen, bukan miras. Jadi kita bisa berdebat soal bir,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (26/5).

Ahok memang sudah dikenal oleh masyarakat dengan kebijakan kontroversialnya mengenai bolehnya miras jenis bir ini beredar di toko-toko dan supermarket di Jakarta. Hal ini berbanding terbalik dengan gencarnya operasi miras dan pengukuhan perda miras yang dapat mencegah masyarakat meminum barang memabukkan tersebut.

Perda Kota Tangerang Nomor 7 Tahun 2005 tentang Pelarangan Peredaran Minuman Beralkohol membuat jumlah minuman keras (miras) yang disita per tahun 2015 semakin meningkat. Wali Kota Tangerang Arief R. Wismansyah yang mengaku dengan adanya Perda tersebut berdampak signifikan bagi aparat Satpol PP untuk memberantas peredaran miras. Hal itu karena aparat Satpol PP memiliki payung hukum yang kuat untuk melakukan aksinya merazia minuman haram tersebut.

“Miras itu lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Banyak kejahatan dan kekerasan terjadi karena pemicunya miras dan narkoba. Makanya ini perlu kita berantas, dan Perda ini yang menguatkan kami untuk menjalankan tugas tersebut,” tutur Arief.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah menolak keras rencana pemerintah pusat untuk membatalkan seluruh peraturan daerah tentang minuman keras. “Perda larangan menjual dan mengadakan serta mendistribusikan miras, merupakan langkah yang baik diambil oleh pemerintah untuk membina masyarakatnya, olehnya jangan dihapus perda tersebut,” ungkap Ketua MUI Kota Palu Zainal Abidin di Palu, Rabu (25/5/2016).

Jika pemerintah pusat mencabut perda miras yang telah dibuat oleh pemerintah daerah, dia mengatakan maka secara tidak langsung pemerintah menginginkan mental masyarakat di negara ini rusak.  “Kejahatan seperti zina, berkelahi, jambret, begal, mencuri dan lainnya, bersumber dari minuman keras. Jika pelakunya mabuk maka pelaku berani untuk melakukan hal- hal negatif, atau tindakan kriminal,” ujarnya.

Seperti diketahui pemerintah pusat lewat Kementerian Dalam Negeri akan mencabut 3.266 perda, yang di antaranya perda tentang larangan minuman keras yang telah diproduksi oleh pemerintah daerah hampir di semua daerah di Indonesia.

Selain itu, Ketua Umum PPP hasil Muktamar Jakarta, Djan Faridz meminta Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo membatalkan pencabutan Peraturan Daerah (Perda) tentang pelarangan minuman keras (Miras).

Sebab menurutnya jika Perda tersebut dicabut, maka langkah kepala daerah yang selama ini telah menerapkan peraturan pelarangan Miras menjadi sia-sia. “Betapa sia-sia apa yang dilakukan oleh para Kepala Daerah untuk menyelamatkan warga-masyarakat dari dampak buruk minuman keras,” ujarnya, Selasa (24/5/2016).

Selain itu, ia juga mengatakan sudah seharusnya pemerintah mengedepankan semangat untuk melindungi generasi bangsa dari Miras, yang bisa menimbulkan banyak efek negatif.

“Terbayang betapa banyak korban akibat minuman keras di tanah air tercinta. Mulai dari korban kecelakaan yang merenggut sekian banyak nyawa manusia tak bersalah, tindak perkosaan dan pembunuhan, sampai perang suku yang kerap terjadi di Papua. Hampir semuanya berawal dari minuman keras,” tegasnya. (republika.com)

Keharaman Minuman Beralkohol

Untuk menentukan keharaman minuman beralkohol maka kita perlu menganalisa ayat-ayat Al-Quran dan keterangan para ulama tentang masalah ini.

Telah jamak diketahui oleh umat, bahwa Islam mengharamkan konsumsi minuman keras. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [المائدة : 90]

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 90)

Menurut keterangan ulama, khamr yang diharamkan dalam ayat di atas adalah minuman dari perasan anggur yang dapat menghilangkan fungsi akal. Adapun hukum miras selain dari perasan anggur hukumnya disamakan dengan khamr. (lihat: al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Quran, juz 3 hlm. 50; al-Baidhawi,  Anwar al-Tanzil, juz 1 hlm. 251) Oleh karena itu, minuman beralkohol termasuk dalam keharaman miras yang terdapat dalam ayat di atas.

Selanjutnya, sesuai keterangan al-Qurthubi, mayoritas ulama mengatakan segala miras yang berasal bukan dari perasan anggur hukumnya haram baik banyak ataupun sedikit. (al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Quran, juz 3 hlm. 50) Al-Baqa’i lebih gamblang menyatakan bahwa minuman apa saja yang memabukkan adalah haram, baik berasal dari anggur atau selainnya, baik sedikit ataupun banyak. (al-Baqa’I, Nazhm al-Durar, juz 1 hlm. 330)

Melihat keterangan ini, jelas bahwa minuman yang mengandung alkohol baik sedikit ataupun banyak haram dikonsumsi oleh manusia. Jika kita bandingkan dengan argumen Ahok bahwa kandungan alkohol dalam bir hanyalah 5 persen, maka tetap saja bir tersebut haram karena mengandung alkohol. Oleh karena itu, keinginan Ahok agar bir bisa dijual bebas di pasaran sama saja dengan menjerumuskan umat Islam khususnya warga Jakarta dalam keharaman.

Setelah itu, umat Islam juga diingatkan tentang berbagai efek negatif yang ditimbulkan oleh minuman keras. Allah Ta’ala berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا [البقرة : 219]

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. (QS. Al-Baqarah: 219)

Al-Syanqithi menjelaskan, bahwa dosa yang dimaksud dalam ayat di atas adalah tindakan anarkis dan permusuhan antar sesama manusia, terhalang dari ingatannya kepada Allah, dan meninggalkan shalat dan kewajiban agama lainnya. Hal ini telah dijelaskan sendiri oleh Allah Ta’ala dalam ayat lain:

إِنَّمَا يُرِيدُ الشيطان أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ العداوة والبغضآء فِي الخمر والميسر وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ الله وَعَنِ الصلاة فَهَلْ أَنْتُمْ مُّنتَهُونَ  (المائدة : 91)

“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat. Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah: 91) (al-Syanqithi, Adlwa’ al-Bayan fi Tafsir al-Quran bi al-Quran, juz 1 hlm. 121)

Fakta-fakta di lapangan secara jamak menunjukkan bahwa miras merupakan salah satu faktor utama terjadinya tindak kejahatan kepada manusia. Data-data tentang korelasi peredaran miras dan kasus pembunuhan, perkosaan, dan penganiayaan yang telah disebutkan sebelumnya cukup menjadi bukti akibat buruk dari miras tersebut.

Oleh karena itu, jika masih ada pejabat yang masih menganggap minuman beralkohol meskipun rendah kadar alkoholnya itu tidak ada masalah bagi manusia, atau pejabat yang berencana menghapus perda-perda yang menghalangi peredaran miras di masyarakat, maka perlu dipertanyakan kembali kecerdasannya dan kepekaan hati nuraninya. Atau, mungkin saja budaya meminum miras sudah menjadi kebiasaannya, sehingga wajar saja jika pejabat tinggi negara tersebut tidak malu untuk berkata “anjing” atau “babi” di depan masyarakat banyak dan menghancurkan rumah-rumah warga miskin dengan dalih “ini kan tanah wewenang saya, suka-suka gue donk”. Beginilah nasib rakyat Indonesia, memiliki pemimpin yang etika dan hatinya sudah dikubur dalam-dalam di tanah.

Epilog

Agama Islam maupun masyarakat luas yang berpikiran jernih sudah jelas menentukan sikap, miras adalah haram karena menjadi sumber berbagai kejahatan. Oleh karena itu, sangat diapresiasi usaha banyak kalangan baik melalui jalur undang-undang, razia, maupun pendidikan untuk mencegah beredarnya miras yang membodohkan dan menghancurkan moral bangsa Indonesia. Apabila ada satu dua pejabat yang masih saja ngotot miras beralkohol rendah tidak ada masalah, maka tugas kita sebagai masyarakat melindungi keluarga, anak cucu, dan sahabat kita dari pemimpin yang zalim dan rezim kepala batu. Wallahu A’lam. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Penulis lahir di Pati tahun 1991. Belajar di MI, MTs, dan MA Darul Falah Sirahan Cluwak Pati hingga tahun 2009. Aktif dalam menulis di berbagai media Islam lokal pondok pesantren dan meneliti berbagai pemikiran Islam.

Lihat Juga

Jangan Sampai Ada Pasal2 Kontraproduktif di RUU Miras dan R KUHP