Topic
Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Ummi, Abi, Kami Butuh Kalian

Ummi, Abi, Kami Butuh Kalian

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (123rf.com / Jasmin Merdan)
Ilustrasi. (123rf.com / Jasmin Merdan)

dakwatuna.com – Anak adalah amanah terbesar bagi orang tua. Apapun yang menyangkut tentang anak, apakah itu ibadahnya, akhlaknya, pendidikannya tidak bisa lepas dari peran orang tua dan keluarga seperti hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang artinya:

“Setiap anak itu lahir dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanyalah yang membuat dia menjadi yahudi, nashara, atau majusi”.

Sebonafit apapun sekolah tetap dibutuhkan peran orang tua dan keluarga. Kenapa seperti itu?

  1. Karena kita orang tuanya lah yang diberikan amanah oleh Allah SWT, sementara guru di sekolah hanyalah membantu melengkapi peran orang tua sebagai pendidik. Walaupun anak kita bersekolah di sekolah dengan pendidikan agama (seperti sekolah IT dan pesantren) bukan berarti orang tua hanya memikirkan biaya pendidikannya saja. Guru-guru, Ustadz/ Ustadzah di sekolah hanya memberikan ilmu dan akhlak berupa stimulus-stimulus dan contoh-contoh. Hal ini karena begitu padatnya dan banyaknya materi pelajaran dan terbatasnya jam di sekolah. Jadi dengan siapa anak mengembangkan stimulus dan contoh yang telah diberikan oleh guru di sekolah dalam kehidupan sehari-hari? Jawabnya tentu saja orang tua dan keluarga. Jangan sampai stimilus dan contoh yang diberikan guru di sekolah menjadi “bantet” atau bahkan hilang setelah tiba di rumah. Di sekolah anak diajarkan sesuatu yang baik tapi ternyata orangtua mencontohkan kebalikannya. Misalnya di sekolah anak diajarkan tentang penghijauan, ternyata di rumah kebalikannya. Di sekolah anak diajarkan sholat dhuha, tetapi di rumah orang tua malas-malasan melaksanakannya. Jadi pendidikan di sekolah menjadi tak maksimal hasilnya walaupun itu adalah sekolah favorit atau sekolah mahal.
  2. Orang tua dan keluargalah lingkungan pertama dan terdekat dengan anak. Sebelum anak mengenal sekolah dan segala perangkatnya, orangtua dan keluarga yang dikenalnya terlebih dahulu. “Al Ummu madrasatul ulla. Ibu adalah sekolah yang pertama”. Pengajaran, pendidikan dan  kejadian-kejadian yang terjadi dengan orang tua dan keluarga menjadi bekal bagi anak memasuki dunia yang baru, yaitu sekolah. Orang tua dan keluarga mencontohkan selalu berdo’a sebelum melakukan pekerjaan, maka anakpun akan berlaku demikian. Jujur, maka anak akan menjadi orang yang jujur di sekolah. Disiplin, maka anakpun akan mudah disiplin di sekolah. Bila orangtua memberikan cinta dan kasih sayang kepada anak, anak akan mudah mengasihi kawan-kawannya di sekolah.
  3. Orang tua dan keluargalah yang paling memahami anak. Seperti kita ketahui jumlah guru di sekolah sangatlah terbatas. Jadi sangat lah sulit bagi guru untuk memahami murid-muridnya secara perorangan. Guru sangat membutuhkan informasi dari orang tua dan keluarga untuk mencoba memahami siswanya bagaimana watak, cara belajar anak, kondisi kesehatan anak, dan beragam informasi yang dibutuhkan guru di sekolah.

Jadi bagaimanapun sekolah anak, bagaimanapun Pak Guru, Bu Guru, Ustadz dan Ustadzahnya mengajar di sekolah, anak-anak kita tetap berkata “Ummi…Abi… kami butuh kalian”. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Lihat Juga

UNICEF: Di Yaman, Satu Anak Meninggal Setiap 10 Detik

Figure
Organization