Home / Pemuda / Cerpen / Keinginan Bunda

Keinginan Bunda

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (seehati.com)
Ilustrasi. (seehati.com)

dakwatuna.com – Akhirnya sampai juga di rumah setelah melakukan sekitar 12 jam perjalanan darat, kali ini aku bisa berlibur dari kegiatan perkuliahan setidaknya untuk beberapa minggu ke depan. Tidak ada planning untuk liburan seperti sebelum-sebelumnya karena yang ku butuhkan benar-benar waktu di rumah bersama keluarga. Di rumah cukup ramai karena bunda tidak lagi sendirian, beberapa bulan lalu abang dan kakak memutuskan untuk bekerja di kampung halaman kami, belum lagi dengan kehadiran keponakanku Amira yang suaranya selalu terdengar di tiap detiknya menjadikan suasana di rumah ini menjadi lebih riuh.

Rumah ini memang selalu membuatku rindu pada semuanya, pada orang-orang di dalamnya, kenangan kisah lampau, kecerian, ketenangan, kasih sayang, cinta dan di rumah ini terjadi banyak peristiwa yang mengajarkanku tentang arti kehidupan, perjuangan, bahkan kisah pilu penuh duka juga pernah terjadi, rumah inilah yang menjadi saksi nyata dalam setiap langkah dan peristiwa dalam hidupku, keluarga ini, dan kami semua.

Mataku hampir saja terpejam saat terdengar suara pintu kamar terbuka dengan pelan, aku menoleh pada pintu dan segera duduk dari tempatku berbaring.

“bunda mau pergi ya?”

“Cila udah tidur?” bunda duduk disampingku

“blom bun, baru merem aja, hehehe. Di tangan bunda itu apa?”

Aku meraih amplop yang disodorkan bunda padaku, tepat dugaanku amplop ini adalah riwayat dari seorang wanita yang dikirimkan abang Fahrul, ini sudah yang ke enam setelah sebelumnnya ditolak dengan alasan yang berbagai macam. Riwayat tersebut juga disertakan dengan selemabr foto seluruh badan, gadis yang berada di foto memiliki postur badan yang kecil, dan sekilas menurutku sedikit angkuh sebenarnya.

“bunda udah cocok dengan yang ini?” rasa lelah dalam perjalanan telah terkalahkan saat ku pandangi wajah bunda yang gundah.

“kalo Cila gimana?” bunda kembali menanyakan padaku, memang di antara semua bisa dibilang bunda lebih sering berbagi cerita padaku meskipun aku anak yang paling bungsu. Mungkin karena aku lebih sering bertanya dibanding abang dan kakak.

“Cila bingung bun, gak tau mau komentar apa. Kalo dilihat dari segi pendidikan, bagus. Tapi, pendidikan yang tinggi tidak menjamin akhlak dan pribadi seseorang. Segi fisik, kecantikan itu tergantung pada mata yang memandang disitulah letak standarnya. Cuma Cila ngerasa masih sedikit mengganjal bun, masih kurang pas gitulah. Semua kembali pada keputusan bunda, karna Abang Fahrul juga minta restu dan keikhlasan bunda.”

Setelah terdiam cukup lama, akhirnya jawaban yang sedari tadi ku tunggu keluar dari lisan bunda.

“sebenarnya bunda juga ngerasa masih kurang pas, tapi…” kalimat bunda terhenti

“ngapain nih? Udah nyampe aja anak kesayangan bunda” kak Sarah yang baru saja pulang dari tempat kerjanya meletakkan tas di tempat tidur.

“bunda tanya mengenai ini kak” sambil ku berikan amplop tersebut padanya.

“ohh, yang ini. bukannya bunda udah ambil keputusan mengenai hal ini ya? Sarah ke dapur dulu deh, bunda udah makan?” kak Sarah memang orang yang sangat sensitif, hanya dengan diam saja dia sudah mengerti jika kehadirannya tidak akan mengungkap perasaan bunda yang sebenarnya.

Apakah semua orangtua akan bertindak serela dan seikhlas itu?  Bunda engkau sudah cukup sabar selama ini membesarkan kami sendiri setelah takdir memisahkan kita dengan ayah. Lalu kenapa bunda masih saja menyerah dengan perkataan mereka yang tidak mengerti keluarga ini, yang tidak faham dan tau akan dirimu? Aku membenci orang yang hanya bisa berbicara buruk tentangmu bunda, mereka tidak pantas berkata seperti itu, mereka seolah tidak memiliki ibu saat mereka berkata begitu tentangmu.

Mendengar alasan bunda menerima wanita di foto yang tidak pernah kami kenal itu membuat amarahku bergejolak, kak Sarah yang menyadari kemarahanku yang tak karuan menanyakan hasil pembicaaanku dengan bunda siang tadi.

“gak bagus marah gak jelas gitu, emang bunda bilang apa mengenai foto itu?”

Aku memperbaiki posisi dudukku dan melihat wajahnya.

“kenapa sih bang Fahrul gak memberikan izin ke bunda buat nyarikan dia istri? Katanya harus dengan restu bunda, harus seizin bunda, harus dengan keikhlasan bunda, tapi kalo gini apa bunda ikhlas, izin, ngasi restu? Mungkin iya secara terpaksa.” Amarahku meluap kepermukaan.

“loh, kenapa Cila ngomong gitu? Bunda cerita apa?” nada suaranya sedikit meninggi

Aku menceritakan semua yang dikatakan bunda padaku, mengenai sebuah restu, izin dan keikhlasan yang dipaksakan, terpaksa diberikan karena hati seorang ibu yang sangat lembut telah dilukai dengan kata yang sungguh menyakitkan hati seorang ibu, kata yang tidak sepantasnya terucap dari lisan mereka yang mempunyai wawasan yang luas. Namun, bagiku bunda sangatlah berhati besar dengan tidak menceritakan keterpaksaan itu pada abang Fahrul.

“jadi bunda sebenarnya masih belum merasa cocok dengan yang ini?”

Aku menganggukkan kepala.

“kenapa bunda gak nolak aja, bukannya..” kalimatnya terputus dengan ucapanku.

“iya, abang Fahrul nunggu restu dari bunda, tapi hati bunda udah terlanjur sakit kak dengan perkataan mereka yang menilai buruk bunda”

Sepertinya liburan kali ini cukup mengistirahatkan fisikku tapi tidak untuk otak yang terus terpikir padanya, bunda dan hal apa yang akan terjadi nantinya jika wanita tersebut berkenan? Bunda akan terluka lagi, dukanya mungkin bertambah atau mungkin saja berkurang. Hari-hari ini, ingin sekali segera ku melewatinya, ingin sekali menanti kepastiaannya, ketenangan tak dapat dirasakan saat hati sedang dalam kegundahan.

Beberapa hari lalu, abang Fahrul memberitahu pada bunda jika dia telah bertemu dengan wanita itu serta keluarganya namun pembicaraan mereka hanya sebatas hal-hal ringan saja, sekedar bercerita mengenai keluarga masing-masing. Hari ini, abang Fahrul dan beberapa keluarga akan ke rumahnya untuk melamar setelah pembicaraan sebelumnya menemui titik temu.

Doa terus terpanjat agar Allah memberikan yang terbaik untuk kami semua di hari ini, karena perasaanku masih sangat sulit untuk bisa menerima kehadirannya tak tau pasti apa yang sebenarnya terjadi ataupun hal yang dirahasiakan, namun semuanya masih mengganjal di hati. Ternyata kak Sarah juga menanti dengan perasaan yang harap-harap cemas sepertiku, hal ini tanpa sengaja terucap olehnya.

“ihhh, bunda kok gak nelfon juga ya? padahal kakak juga udah sms om Ali, tapi gak direspon juga, sengaja kali ya buat orang deg-deg an” ujarnya dengan terus memandangi layar hp yang sejak tadi pagi telah di tangannya.

“kakak sih, disuruh ikut gak mau. Padahalkan lumayan sekalian jalan-jalan kesana” ledekku.

“kenapa gak Cila aja yg ikut, biar sekalian. Jadi bunda gak ngantar-ngantar Cila lagi nanti” kak sarah kini mengejekku.

“isshhh, liburnya masih 2 minggu lagi, cepat kali Cila kesana. Lagian apa iya penerbangan bunda lewat Medan, siapa tau lewat Padang.”

Tak tau pasti, yang jelas saat bunda menelfon hanya terucap jika bunda akan bertolak dari Bandung malam ini juga, tanpa cerita dan tanpa pesan dengan suara yang sulit untuk di prediksi yang tentunya membuat rasa penasaran kian menjadi. Bahkan ketika kami bertanya pada bunda mengenai kondisi di sana dan endingnya gimana, bunda hanya menjawab “kayaknya belum jodohnya abang Fahrul”, hanya itu, tidak ada cerita detail yang kami dapatkan dari bunda ataupun om Ali yang pada waktu itu ikut serta dengan bunda.

“bunda masih di kamar ya?” abang Arsya yang diikuti putrinya Amira duduk di meja makan.

“bunde, nenek kok masih shalat? kan udah siang.” Amira memang sering melihat bunda shalat dhuha, namun baru kali ini dia bertanya.

“itu namanya shalat dhuha, kalo shalat dhuha itu kalo matahari udah terbit, Amira ngerti?” tanyaku.

“tapi Amira kan gak pernah shalat dhuha, yang pernah itu shalat hari raya itupun nangis”

Kepolosan dengan kalimat jujurnya membuat kami yang berada di meja makan tersenyum. Amira adalah gadis kecil yang cerdas dengan segudang tanya, bahkan kami terkadang sampai bingung harus menjawab pertanyaan yang terlontar darinya. Saat ini, Amira baru saja memasuki pendidikan sekolah dasarnya di salah satu SD Negeri.

“ayo, salam semuanya, biar mobilnya kita tunggu di depan ya” kak Raya mengistruksikan pada Amira.

Setelah Amira menyalami kami semua, dia keluar mengikuti mamanya yang telah membawakan tas dan tak lama berselang Amira mengucapkan salam dengan suara yang melengking. Aku hanya tertawa mendengar ucapan salamnya yang belum sempurna secara pengucapan.

“kan gak ada yang jawab, Amira gak mau lagi ngucap salam yaaaaa” teriakannya membuatku semakin geli, bahkan abang Arsya tertawa mendengar ucapan putrinya itu, setelah kami menjawab terdengar lagi teriakannya.

“gitu lahhhh, kalo ada yang ngucap salam dijawab yaaaaa”

Itulah Amira yang selalu menghadirkan tawa di setiap saat, meskipun terkadang kejahilanya dan sedikit sifat egoisnya membuat jengkel namun dia tetaplah terlihat lucu dan menggemaskan. Sudah jam 9, tapi bunda belum juga keluar dari kamar. Ternyata bunda sedang bertelepon dengan seseorang yang menurut tebakanku adalah abang Fahrul.

“ngapain dek?” suara Abang Rahman mengejutkanku.

“gak ada bang, Cila cuma mau liat bunda aja. Abang mau dari mana?”

“dari rumah sakit, istri kawan abang ada yang lahiran” dia berlalu dan memasuki kamarnya.

Abang Rahman adalah abang yang paling istimewa dari ketiga abang kami, dia mempunyai sifat yang unik dari semuanya dan paling sulit untuk ditebak. Tapi, jujur ku katakan dia adalah orang yang sangat penyayang dan perhatian pada keluarga meskipun terlihat sangat cuek.

“bunda lagi teleponan bang” aku menjawab isyarat yang diberikan abang Arsya.

“kayak ada yang nyebut-nyebut bunda, ada apa ini?” bunda duduk disampingku.

“ntah bun, si abang itu. Bunda baru telepon sama abang Fahrul ya?”

“oh iya, tadi itu abang Fahrul telephone katanya minta maaf sama bunda dan semuanya udah ngecewain”

Mungkin yang dimaksudkan bunda mengenai topik yang kemaren. Aku mendengarkan lebih lanjut.

“lagian Fahrul itu kayaknya belum kepikiran buat nikah lah bun, masih sibuk ngejar karier” abang Arsya menyahut.

“usianya udah berapa? Bentar lagi masuk kepala tiga, mau sampai kapan ngejar karier, mau sampai kapan dia gitu aja? Lagian bunda juga makin tua, setidaknya selagi bunda masih sehat” suara bunda terdengar emosional.

“lagian Fahrul gak terbuka, jadi bingung juga sebenarnya mau dia gimana? Dia kan bisa jujur, apakah memang mau nikah atau gimana? Bunda juga gak usahlah tanya-tanya dia, kayaknya dia memang belum siap berumah tangga, kalo bunda terus-terusan nanyain dia juga tertekan dan kepikiran” ucapan abang Arsya seperti memojokkan bunda.

Bunda terdiam, namun dalam diamnya seperti ada luka yang menyayat hatinya.

“udah bunda, insya allah abang Fahrul segera dipertemukan dengan jodohnya. Lagian di luar sana banyak yang baru nikah usia 40 an juga kan?” aku mencoba menenangkan, namun sepertinya luka yang terlanjur menyayat hati terlanjur menciptakan rasa sakit.

“40? Sama aja kayak nunggu bunda mati, apa kamu bisa jamin 10 tahun ke depan bunda masih hidup?” suara bunda meninggi yang membuatku terkejut dengan reaksi emosinal yang baru kali ini ku lihat setelah bertahun-tahun.

Aku bingung menjawab apa, aku tau jika 10 tahun ke depan tak ada yang tau apa yang akan terjadi? Tapi kemarahan bunda sepertinya telah meluap dengan hati-hati dan mengelus bahunya, aku mencoba menyusun kata sebaik mungkin.

“Bunda, 10 tahun mendatang kita memang gak pernah tau, siapa yang akan pergi dan menetap di sini kita juga gak pernah tau. Bahkan, nanti siangpun kita gak pernah tau apalagi untuk 1 tahun ke depan, mana tau setelah ini abang Fahrul bertemu atau mungkin bersedia jika bunda yang mencarikan, bukankah itu lebih baik?”

Bunda terdiam, tapi aku yakin rasa marah dan lukanya karena kesalahan lisan kami telah bisa dimaafkan olehnya. Hatinya memang terlalu lembut dan terlalu mulia untuk kami miliki, tak akan ada yang mampu menerima kesalahan kami sepertinya yang mempunyai kebesaran hati. Aku tak pernah tau apa isi hati dan keinginan abang Fahrul sebenarnya, namun semoga Allah mempertemukannya dengan jodoh terbaik.

Permintaan orangtua hanyalah keinginan sederhana jika dibandingkan dengan perjuangannya selama hidup kita, bahkan keinginannya semata-mata melihat anaknya bahagia dengan orang yang tepat. Namun, keinginan mereka seringkali tidak bisa kita mengerti dengan keegoisan yang melekat dalam diri. Bunda hanya menginginkan pernikahan anak-anaknya segera terwujud, hanya itu saja. Tidak menuntut banyak dari kami dan semoga keinginan dari setiap orangtua dapat menjadi kenyataan dalam kehidupan nyata sebelum akhirnya kita atau mereka yang menutup mata. Hingga saat itu tiba, kami tidak akan pernah tau siapa yang diharapkan bunda untuk menjadi ladang pahala kami di dunia setelahnya dan hanya harapan dan doa yang masih bisa kami upayakan untuk membahagiakan serta mewujudkan keinginan bunda. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Anak ke 5 dari 5 saudara, mempunyai 3 kakak laki-laki dan 1 kakak perempuan. Sekarang sedang berkuliah di salah satu universitas swasta di Medan, dalam bidang psikologi. Bercita-cita bisa menjadi penulis yang sekaligus menjadi seorang psikolog.

Lihat Juga

Berbakti Pada Bunda tak Mengenal Waktu