Home / Berita / Opini / Target Meleset, Perekonomian Melambat

Target Meleset, Perekonomian Melambat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (harapanrakyat.com)
Ilustrasi. (harapanrakyat.com)

dakwatuna.com – Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2016, realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2016 perekonomian Indonesia masih belum sesuai target. Dari target 5,30% hanya tercapai 4,92%. Hal ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih belum efektif.

Berikut adalah beberapa faktor-faktor yang menghambat laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertama, penyerapan belanja masih sangat lambat, padahal belanja modal yang tepat sasaran dapat memacu pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Hal ini mengakibatkan rendahnya tren pertumbuhan ekonomi terus berulang setiap tahunnya.

Berdasarkan pernyataan dari presiden Jokowi, hanya satu sampai tiga kementerian yang bergerak cepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Kementerian lainnya entah karena lupa atau memang terjebak dalam kesibukannya (Republika, 11/5/2016). Sehingga tidak sigap dalam mengatasi permasalahan yang ada. Biasanya di akhir periode baru akan sibuk menggelontorkan alokasi target sesuai dengan pos yang ada untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Sungguh miris sekali jika hal ini tidak segera diatasi dengan segera. Karena akan menimbulkan berbagai permasalahan yang ada.

Pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang ironis, dapat digambarkan dengan tingginya ketimpangan distribusi pendapatan masyarakat. Sejak 2010, rasio Gini Indonesia di atas 0,40. Hal tersebut berarti setiap 1% golongan terkaya menguasai 40% kekayaan Nasional. Padahal selama 32 tahun pemerintahan Soeharto, rasio Gini Indonesia tidak pernah melebihi angka 0,35. Sehingga pada masa pemerintahan Soeharto, ketimpangan antara si kaya dan si miskin tidak terlalu mencolok dibandingkan dengan masa pemerintahan sekarang.

Namun pertumbuhan ekonomi era Soeharto harus mengalami keterpurukan karena permasalahan yang begitu kompleks menjelang tahun 1998. salah satu penyebabnya karena terjerembab dalam debt trap. Utang luar negeri membengkak sehingga meletuslah krisis ekonomi tahun 1998 yang dengan cepat merusak berbagai sendi-sendi ekonomi Indonesia.

Berdasarkan data BPS dan World Bank Indicators oleh Hidayat Amir, 2015. Krisis tahun 1998 mengakibatkan peningkatan jumlah kemiskinan meningkat tajam dari 11,3 % sekitar tahun 1994 hingga meningkat drastis menjadi 24,2% pada tahun 1998. Dampak lainnya seperti kredit macet, dan tersendatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia juga turut mewarnai pada masa krisis ekonomi tersebut.

Masa tersebut, menjadi masa suram bagi perekonomian Indonesia yang cukup mengenaskan, karena setelah terbuai dengan manisnya pertumbuhan ekonomi. Kemudian di hantam dengan krisis yang begitu parah. Bahkan berdasarkan data dari www.seasite.niu.edu krisis tersebut tercatat sebagai krisis terparah di Asia Tenggara.

Begitu juga di Mesir, Berdasarkan pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla, pemerintah Mesir tidak memberikan kebijakan yang tepat bagi para petani gandum, harga gandum ditentukan oleh pemerintah dengan harga yang terlampau rendah (Republika, 11/5/2016). Sehingga petani gandum akhirnya tidak memiliki semangat untuk meningkatkan produksi gandum. Mengakibatkan produktivitas gandum di Mesir menurun dan menjadikan Mesir yang sebelumnya menjadi negara produsen gandum terbesar. Kini menjadi negara pengimpor gandum.

Sedangkan di Tiongkok, jika sebelumnya menerapkan politik dumping yang begitu dahsyat sehingga produk Tiongkok menjamur di pasar dunia. Menawarkan produk dengan harga yang murah dengan kualitas yang cukup lengkap. Menjadikan banyak produk Tiongkok diserbu oleh masyarakat dunia khususnya Indonesia yang memiliki pangsa pasar yang cukup luar biasa. Kini Tiongkok sedang beralih dengan peningkatan sektor jasa besar-besaran berbasis internet yang berperan sebagai media perantara antara penjual dan pembeli.

Pada awalnya salah satu situs jual beli online di Tiongkok memiliki tujuan untuk membantu  pengusaha kecil menengah di Tiongkok dalam memasarkan produknya. Seiring berjalannya waktu, pengguna jasa dan peminat situs jual beli online semakin meningkat. peluang bisnis online cukup menggiurkan pada masa kini. Dengan cepat Tiongkok melihat peluang tersebut sehingga ruang lingkup usahanya diperluas. Tidak hanya dalam masyarakat lokalnya saja. Namun kini hingga level mancanegara.

Di sisi lain, Arab Saudi sebagai negara terkaya ke 10 versi World Bank, negara yang terkenal dengan kekayaan minyak bumi dan gas alam  ini memiliki pendapatan per kapita hingga US$54.606 atau setara dengan Rp.709,9 juta. Namun pada April 2016, karena harga minyak mentah dunia anjlok, maka untuk menutupi ketimpangan anggaran tersebut harus berhutang sebesar US$ 10 miliar atau setara Rp.131,6 triliun kepada World Bank setelah selama 25 tahun bebas hutang (edukreatif.com).

Hal itu berarti pendapatan per kapita yang tinggi  dalam suatu negara belum tentu menandakan kemapanan ekonomi negara tersebut. Kebijakan ekonomi yang tidak tepat guna akan menjadi penyebab lambatnya perekonomian suatu negara.

Oleh karena itu, Pemerintah sebaiknya melakukan beberapa langkah dalam mengatasi permasalahan ekonomi yang ada. Mulai dari peningkatkan pendapatan atau menekan laju pengeluaran dengan kata lain melakukan efisiensi dengan berhemat. Mengoptimalkan sumber daya alam dengan meningkatkan semangat produktivitas bagi produsen dengan kebijakan pemerintah yang tidak hanya berpihak kepada konsumen, tetapi juga kepada produsen. Melakukan alokasi dana sesuai dengan target yang telah dirumuskan.

Tidak menunda realisasi program dalam pencapaian target pertumbuhan ekonomi agar tercipta harmonisasi program-program pemerintah dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Mendukung inovasi-inovasi bisnis dalam negeri untuk meningkatkan geliat perekonomian. Membantu masyarakat dalam peningkatan skill. Terutama skill bahasa, karena dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), banyak tenaga kerja dari luar negeri yang masuk ke Indonesia. Dan kemampuan berbahasa asing, minimal bahasa Inggris sangat diperlukan. Mencontoh budaya luar negeri seperti semangat dan etos kerja yang tinggi untuk mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi, maka wajib diterapkan dalam kehidupan masyarakat. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Shellvy Lukito, Mahasiswi jurusan Akuntansi Syariah STEI SEBI(semester VII), Depok. Awardee of EKSPAD SEBI 2013 Scholarship, Awardee of Beastudi Ekonomi Syariah 4 - Dompet Dhuafa Scholarship. Alamat facebook : Shellvy Luckyto . Instagram : @queenshellvy. Alamat email : [email protected] Professional Public Speaker, Writer, Peneliti junior SIBER-C

Lihat Juga

Seminar Nasional Kemasjidan, Masjid di Era Milenial

Organization